Pemanasan global atau global warming dapat diartikan sebagai kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi. Ini disebabkan oleh peningkatan populasi manusia, populasi hewan, pembangunan, dan teknologi. Sementara pembangunan dan teknologi dapat digolongkan pada perilaku manusia. Perilaku manusia inilah yang menjadi penyebab utama pemanasan global yang menimbulkan meningkatnya gas rumah kaca di atmofer bumi. Ini berdampak pada peningkatan suhu permukaan bumi. Gas rumah kaca ini kebanyakan dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, peternakan dan pembangkit listrik.
Dampak dari pemanasan global adalah mencairnya es di kutub utara, kutub selatan dan pegunungan Himalaya. Dampak langsungnya adalah peningkatan level permukaan air laut dan selanjutnya berdampak pada perubahan iklim dunia. Perubahan iklim berdampak langsung pada manusia, seperti semakin sering terjadi bencana banjir, angin tornado, puting beliung, kekeringan, hujan es, dan lain sebagainya. Pergeseran musim hujan yang susah ditebak akan merugikan sektor pertanian, sehingga sulit menentukan masa tanam. Dampak selanjutnya adalah menipisnya sumber daya air.
Dampak dari pemanasan global ini telah mengganggu hampir seluruh sendi-sendi kehidupan. Sebagai upaya untuk menekan laju peningkatan suhu permukaan bumi, kita membutuhkan tindakan nyata yang sangat mendesak. Tindakan nyata itu antara lain dengan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil yang menimbulkan emisi karbon, mengurangi atau berhenti makan daging, memakai produk yang ramah lingkungan, menanam pohon, menjaga kelestarian hutan, dan lain sebagainya.
Vegetarian
Dari semua tindakan atau perilaku yang harus dilakukan dalam rangka memperlambat laju peningkatan suhu permukaan bumi tersebut, ada hal yang menarik dari hasil penelitian para ahli yang disampaikan oleh PBB pada November 2006. Bahwa emisi rumah kaca yang berasal dari peternakan sapi, ayam, babi dan hewan ternak lainnya menyumbang sebanyak 18% terhadap peningkatan suhu bumi. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan emisi rumah kaca yang berasal dari transportasi, seperti mobil, sepeda motor, truk-truk besar, pesawat dan semua alat transportasi lainnya yang hanya 13%. Fakta ini sangat mengejutkan karena sesuatu hal yang bernama daging menjadi penyumbang utama gas rumah kaca di permukaan bumi.
Solusi untuk mengurangi atau berhenti makan daging adalah dengan memilih pola hidup vegetarian. Secara singkat, vegetarian berarti pola makan yang berbasis pada tumbuh-tumbuhan dan tidak mengkosumsi makanan yang berasal dari hewan. Pola hidup vegetarian secara umum dapat dibagi menjadi empat bagian. Pertama, Lacto Vegetarian, yaitu tidak mengkosumsi semua produk hewani kecuali susu. Ovo Vegetarian, yaitu tidak mengkosumsi semua produk hewani kecuali telur. Lacto-Ovo Vegetarian, yaitu tidak mengkosumsi semua produk hewani kecuali susu dan telur. Vegan, yaitu tidak mengkosumsi semua produk hewani tanpa kecuali, termasuk didalamya produk-produk kosmetik, pakaian, sepatu, aksesoris dan semua barang-barang yang terbuat dari bahan baku hewan.
Selain menekan laju peningkatan suhu permukaan bumi, gaya hidup vegetarian juga berdampak pada beberapa faktor, antara lain kesehatan, lingkungan dan etika atau moral. Dari sisi kesehatan, pola hidup vegetarian telah terbukti lebih sehat dibandingkan dengan pola hidup yang mengkosumsi daging. Dari berbagai hasil penelitian telah banyak terbukti bahwa berbagai macam penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat berasal dari pola hidup mengkosumsi daging, seperti penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas (kegemukan), kanker, dan lain sebagainya.
Dari segi lingkungan, pola hidup vegetarian telah berdampak menghemat sumber daya alam seperti air.Untuk kebutuhan air masa hidup seekor ternak (sapi) dibutuhkan 3.091.000 liter. Air yang dibutuhkan oleh peternakan hewan digunakan untuk menghasilkan makanan, pengolahan dan pembersihan kotorannya. Sedangkan untk produksi buah-buahan dan sayur mayur lebih sedikit membutuhkan air dibandingkan hewan Ini menggambarkan bahwa pola hidup vegetarian akan membantu kita dalam program penghematan air.
Dari segi etika atau moral, pola hidup vegetarian dapat mengurangi krisis pangan yang tengah melanda dunia. Isu pemanasan global telah merubah pola pertanian dari petani pangan menjadi petani bio fuel. Bahkan ada beberapa negara yang memberikan subsidi bagi petani yang bersedia menanam tanaman untuk dijadikan bio fuel.
Hasil penelitian ilmuwan dari Universitas Chicago yang dirilis oleh New York Times, melaporkan bahwa seorang vegetarian dapat menghemat emisi karbon sebanyak 1,5 ton per tahun. Sementara sebuah perusahaan mobil terkemuka menyatakan bahwa produk mobil hibrid mereka dapat menghemat 1 ton emisi karbon setiap tahun. Jika ada sebuah keluarga yang terdiri dari tiga orang dan semua anggotanya vegetarian, ini berarti mereka dapat menghemat 4,5 ton emisi karbon per tahun. Hal ini jauh lebih efisien dibandingkan dengan sebuah keluarga yang mengkosumsi daging dan mengganti mobilnya dengan mobil hibrid yang hanya menghemat emisi karbon 1 ton per tahun.
Langkah Nyata
Gaya hidup masyarakat kita yang memandang bahwa pola vegetarian adalah pola hidup kelas menengah ke bawah harus mulai dirubah dari sekarang. Kebanyakan masyarakat kita menganggap bahwa semakin sejahtera secara finansial, maka semakin sering mengkosumsi daging, seperti sosis, steak, beef dan lain-lain. Selain itu ada juga anggapan bahwa vegetarian adalah pola hidup yang kurang gizi dan dapat mengurangi tingkat kecerdasan, terutama pada anak di usia pertumbuhan. Anggapan yang berkembang di masyarakat ini tidak terbukti secara ilmiah, bahkan sebuah studi yang dirilis oleh British Medical Journal pada tahun 2006 menyatakan bahwa; "Seorang vegetarian lebih cerdas daripada seorang pemakan daging".
Seandainya digalakkan sebuah pola vegetarian sekali seminggu. Dimana selama satu hari ini kita tidak mengkosumsi produk yang berasal dari hewani. Dari perhitungan di atas, maka 1 orang akan bisa menghemat emisi karbon sebanyak 213,7 kg/tahun. Jika hari vegetarian ini diberlakukan di sebuah instansi atau sekolah, maka perhitungan penghematan emisi karbon akan terlihat signifikan. Misalnya di UNP dengan jumlah komunitas lebih dari 20 ribu orang. Kita asumsikan yang melakukan program hari vegetarian ini hanya 15 ribu orang. Hasilnya adalah komunitas UNP dapat menghemat emisi karbon sebesar 3.205 ton/tahun. Kita dapat bayangkan andaikata program hari vegetarian ini dapat diberlakukan di berbagai instansi dan sekolah di seluruh Indonesia. Program ini tidak mustahil untuk diwujudkan, karena tidak memerlukan dana dan investasi yang besar tetapi hanya membutuhkan keseriusan dari pengambil kebijakan.
Dengan sebuah langkah kecil kita bisa memberikan perubahan besar, yaitu menggalakkan program hari vegetarian. Mewujudkan hari vegetarian dipandang lebih mudah dibandingkan dengan merubah pola hidup masyarakat menjadi vegetarian. Hal ini dikarenakan oleh membentuk hari vegetarian tidak memberikan perubahan yang drastis kepada masyarakat.
Penulis adalah dosen Jurusan Fisika UNP
Saat ini sedang menempuh Magister Sains Kebumian di ITB
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!