Opini

Fenomena Fatherless: Absennya Figur Ayah dalam Kehidupan Anak

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 8 Januari 2024 05:00 WIB • 👁 2.778 Pembaca
Fenomena Fatherless: Absennya Figur Ayah dalam Kehidupan Anak
Sumber foto: pinterest.com

Akhir-akhir ini hangat dibicarakan di media sosial bagaimana Indonesia menjadi "fatherless country" terbesar ketiga di dunia. Walaupun belum ada penelitian atau jurnal sains yang lebih lanjut mengenai fenomena ini, berbagai pendapat warganet membenarkan anggapan bahwa mayoritas anak di Indonesia mengalami fenomena fatherless sehingga hal tersebut mempengaruhi bagaimana seorang anak itu tumbuh dan berkembang di keluarganya.

Asal Muasal Kata Fatherless

Dilansir dari CNN Indonesia, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti fatherless diartikan sebagai kondisi dimana anak kehilangan figur ayah dalam proses tumbuh kembangnya, atau anak yang mempunyai ayah, tapi ayahnya tidak berperan maksimal dalam proses tumbuh kembang anak dengan kata lain pengasuhan dan pendidikan bersama sang ibu. Sementara itu, psikolog Amerika Edward Elmer Smith (2011) mengartikan fatherless country sebagai kondisi negara yang masyarakatnya cenderung tak merasakan keberadaan dan keterlibatan figur ayah dalam kehidupan anak, baik fisik maupun psikologis.

Penyebab dan Dampak Fatherless bagi Anak

Melihat isu ketidakhadiran Ayah dalam pengasuhan anak tentu tidak lepas dari kontruksi sosial masyarakat Indonesia tentang peran gender antara laki-laki dan perempuan. Laporan "State of the World's Father's" yang dirilis Rutgers Indonesia pada 2015 menyebutkan budaya patriarki sebagai salah satu alasan absennya ayah dalam perkembangan anak di Indonesia. Masyarakat menganggap bahwa mengurus rumah tangga adalah tugas para ibu sedangkan tugas ayah sebatas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Asumsi tersebut memunculkan stigma bahwa segala hal terkait urusan rumah tangga sepenuhnya dilimpah kepada ibu, termasuk dalam pengasuhan anak.

Pada kenyataannya, ayah juga memiliki peran yang sama penting dalam kehidupan anak. Sebagai orang tua dan kepala keluarga, ayah dianggap sebagai panutan dan pelindung anak yang akan menentukan karakter sang anak karena anak tersebut mencontoh karakter yang terlihat dari sang ayah.

Seperti bunyi pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, seorang ayah yang memiliki skill public speaking yang bagus akan membentuk karakter anak yang berani berbicara di depan umum. Contoh lainnya, bila sang ayah memiliki ketertarikan di bidang tertentu, seperti musik dan olahraga, sang anak akan antusias mengikuti jejak sang ayah menjadi musisi atau atlet.

Ada banyak kasus bahwa dampak kekosongan peran ayah dalam pengasuhan anak memberikan efek negatif anak itu sendiri. Dilansir dari situs resmi Universitas Gadjah Mada, Psikolog UGM, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog menyampaikan ada akan banyak persoalan yang muncul ketika anak tidak merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya, seperti hambatan dalam pembentukan identitas gender dan peran seksual, penurunan performa akademis, rendahnya kontrol diri dan kepercayaan diri, dan masih banyak lainnya.

Kurangnya perhatian ayah terhadap anak juga memberikan dampak kenakalan remaja yang bisa berujung pada pelanggaran hukum, seperti merokok, bolos sekolah, sampai penggunaan obat-obatan terlarang. Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah pun juga lebih sering merasa kesepian dan perasaan takut ditinggalkan karena tidak merasakan perhatian yang cukup dari sang ayah yang seharusnya mendampingi ketika anak mulai beradaptasi di kehidupan sosialnya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa absennya peran ayah (baik secara fisik dan psikologis) dalam kehidupan anak merupakan fenomena berbahaya yang perlu segera diatasi, terutama di Indonesia. Adanya ketidakseimbangan dalam pola pengasuhan anak bila peran ayah tidak dipenuhi. Sebagai orang tua, pentingnya mengerti parenting atau pengasuhan anak sehingga orang tua saling memenuhi perannya dalam memberikan pendidikan dan sekolah pertama anak di rumah.

Orang tua yang baik akan melahirkan anak yang memiliki karakter yang baik sedangkan anak yang tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya akan menyebabkan ketidakseimbangan pada pembentukan karakter sang anak. Kehadiran seorang ayah dalam keluarga juga sebagai pengawas agar anak tidak melakukan pelanggaran yang akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Natasa Alifah
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (1)

R
Roza Eva Susanti

Bagus tulisannya.. psikoedukasi kpd msyrkt terkait fatherless

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.