Agama

Menyulap Rapuh menjadi Tangguh: Membangun Keluarga Muslim yang Harmonis

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 12 Februari 2024 20:10 WIB • 👁 1.357 Pembaca
Menyulap Rapuh menjadi Tangguh: Membangun Keluarga Muslim yang Harmonis
Sumber foto: Liputan6

Dewasa ini, angka penceraian di Indonesia sudah berada di tahap yang sangat mengkhawatirkan. Otomatis rusaknya institusi keluarga, menjadi penyumbang besar rusaknya generasi bangsa.

Jika dibahas secara mendalam banyak hal yang menjadi penyebab penceraian. Hal ini bisa terlihat dari tingginya kasus perselingkuhan dalam rumah tangga, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), suami yang tidak memiliki fungsi yang optimal dalam pencarian nafkah, istri yang terlalu memegang peran besar dalam pemenuhan finansial keluarga, adanya pihak ketiga, dan sebagainya.

Bahkan saudara dan mertua yang terlalu ikut campur di ranah domestik keluarga yang harusnya menjadi privasi bagi yang menjalani biduk rumah tangga bisa menjadi penyebab perceraian.

Semua hal itu menjadi banyak alasan berakhirnya pasangan rumah tangga yang sudah dibina, baik dalam jangka pendek atau ada yang sudah dibina selama bertahun-tahun.

Menurut data yang dikutip detik dari situs Mahkamah Agung (MA) yang diunggah tahun 2019, sebanyak 419.268 pasangan bercerai sepanjang 2018. Dari jumlah itu, penggugat perceraian paling banyak datang dari pihak perempuan yaitu 307.778 perempuan. Sementara itu, pihak laki-laki sebanyak 111.490 orang.

Sebuah survei yang dilakukan JustDating, aplikasi pencari teman kencan menemukan bahwa empat puluh persen lelaki dan perempuan di Indonesia pernah mengkhianati pasangannya.

Persentase ini membuat Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan kasus perselingkuhan terbanyak.

Berdasarkan data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama RI, dari dua juta orang yang menikah, ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian.

Masalah ini juga, tercatat dalam situs BKKBN yang mencatat ada lebih dari 200.000 kasus perceraian di Indonesia setiap tahun dan saat ini ternyata angka perceraian tersebut telah mencapai rekor tertinggi se-Asia Pasifik.

Pada tahun 2018 kemarin total pengadilan telah memutus sebanyak 7.776 kasus perceraian. Ironisnya kebanyakan ajuan perceraian datang dari pihak wanita atau cerai gugat.

Dalam membina rumah tangga, keharmonisan keluarga memang tidak selamanya mewarnai perjalanan pernikahan. Ada kalanya juga mengalami pertengkaran, dan banyak permasalahan lain yang datang.

Kesulitan ekonomi bisa jadi menjadi ujian atau masalah timbul dari pasangan sendiri yang terkadang berbeda pandangan dalam memahami sesuatu bahkan juga permasalahan datang dari pihak luar.

Namun, bukan berarti segala permasalahan harus di selesaikan dengan penceraian. Jika masih bisa di cari solusinya, kenapa harus bercerai?

Akibat dari penceraian, akan ada pihak yang menjadi korban, terutama anak-anak yang membutuhkan figur keluarga lengkap.

Apa jadinya nasib anak-anak di kemudian hari, jika mereka hidup tanpa keluarga yang utuh? Pastinya secara psikis mereka terluka, apalagi jika terjadi perebutan pengasuhan.

Hadirnya ibu sambung atau ayah sambung yang kurang mengayomi, akan menjadi permasalahan besar. Pengasuhan yang dibebankan pada nenek pun bukan solusi terbaik.

Apalagi jika keluarga si nenek kurang memahami parenting, dan minim agama, akan menjadi masalah baru.

Jadi, betapa banyak anak jadi korban kekerasan dari keluarga dekatnya, dan juga menjadi pelecehan seksual dan akan menjadi permasalahan yang kompleks.

Bagi anak-anak, orang tua tetap merupakan rumah ternyaman untuk pulang dimana ada ibu dan ayah yang siap menjadi pelindung dari ganasnya dunia luar. Maka. ketika keluarga patah tidak bisa disatukan, kemana anak-anak akan mencari perlindungan?

Banyak hal buruk yang akan dihadapi anak-anak, yang diakibatkan dari penceraian orang tua. Akibat bergaul di lingkungan yang salah, menyebabkan anak terjebak dalam pergaulan bebas, seperti narkoba, seks bebas, minuman keras, tawuran, pencurian, bahkan sampai pada penghilangan nyawa seseorang.

Anak-anak tersebut tidak mungkin berperilaku seperti itu jika mereka tumbuh di lingkungan yang harmonis dan religius dengan memiliki keluarga yang utuh.

Para orang tua hendaknya berpikir ulang ketika akan melakukan penceraian. Pernikahan bukan untuk dijadikan bahan permainan.

Menikah adalah ibadah terlama dalam berumah tangga. Agar bisa tetap selaras dan harmonis, butuh ilmu yang harus di pelajari dan di persiapkan agar pernikahan tetap langgeng.

Menikah tidak melulu soal cinta, tapi harus ada visi-misi yang jelas yang harus di kompromikan dengan pasangan. Kedua pasangan harus bisa saling mengingatkan dan menguatkan, saling mamahami dan saling mengisi kekurangan dalam diri pasangan.

Pernikahan bukan saling meninggikan ego. Sehebat apapun istri di luar rumah, suami adalah sosok yang menjadi pemimpin keluarganya. Selama dia masih bisa taat pada Allah, maka pengabdian istri pada suami menjadikan ladang pahala yang besar.

Seberat apapun permasalahan yang dihadapi, pasti akan ada solusi dari setiap masalah bukan menyerah pada penceraian. Ketika sebuah keluarga kering dari nilai-nilai agama, bangunan rumah tangga akan sangat mudah diporak-porandakan.

Rapuhnya keluarga muslim saat ini diakibatkan banyaknya pasangan yang belum siap secara ilmu untuk membina rumah tangga, yang berakibat patal di kemudian hari.

Imam Al Ghazali bertutur, "Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia dilahirkan". Didiklah diri kita untuk menjadi pribadi qur'ani jauh sebelum anak itu dilahirkan.

Ini artinya yang harus didik adalah para calon orang tuanya terlebih dahulu, mematangkan diri dengan ilmu agama agar ketika memasuki dunia pernikahan sudah siap menjadi orang tua yang mampu melahirkan generasi islami.

Bukan menjadi orang tua yang rapuh, yang selalu menyerah ketika dihantam masalah.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Mimi Fitria Salim
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.