Opini

Gelar Tinggi Tak Jamin Moral: Pendidikan Tinggi Gagal Hasilkan Orang Terdidik

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 28 Februari 2024 09:49 WIB • 👁 1.512 Pembaca
Gelar Tinggi Tak Jamin Moral: Pendidikan Tinggi Gagal Hasilkan Orang Terdidik
Sumber foto: laman kompas.id

Berkembangnya berbagai masalah sosial di ruang publik, misalnya berbagai tindak kriminal dan perbuatan yang memalukan merupakan konsekuensi dari cara berperilaku seseorang yang tidak bisa memiliki integritas dan moral hidup.

Isu-isu seperti pencemaran nama baik, persekongkolan, dan nepotisme masih terus terjadi di tengah meningkatnya pendidikan warga Indonesia.

Menurut Indonesia Corruption Watch (ICW), sepanjang 2021 ada 1.282 perkara tindak pidana korupsi yang disidangkan, dengan jumlah total terdakwa 1.404.

Hal ini tentu bukan hal yang membanggakan melainkan memalukan mengingat semua perkara yang sudah melalui proses persidangan terbukti melakukan KKN (Kolusi, Polusi, dan Nepotisme).

Pada tahun 2022, dilansir dari laman resmi KPK, dalam semester pertama tahun 2022, KPK telah melakukan 66 penyelidikan, 60 penyidikan, 71 penuntutan, 59 perkara inkrah, dan mengeksekusi putusan 51 perkara.

Data terbaru pada tahun 2023, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima 2.707 laporan dugaan korupsi selama periode semester I 2023.

Dalam catatan KPK, dari 2.707 laporan dugaan korupsi tersebut, ada 329 laporan yang tidak memenuhi tindak pidana korupsi. Kemudian 2.378 laporan diteruskan ke proses klarifikasi, dan tersaring lagi menjadi 2.229 laporan yang lolos tahap verifikasi.

Pernyataan "Pendidikan Tinggi Ternyata Tidak Mampu Menghasilkan Orang Terdidik" menunjukkan bahwa meskipun seseorang memiliki pendidikan tinggi, hal tersebut tidak selalu memastikan bahwa orang tersebut benar-benar terpelajar, mengapa demikian?

Individu yang Cerdas Tidak Benar-Benar Terdidik

Sekolah tinggi hingga bergelar spesialis atau bahkan seorang guru sekalipun sebenarnya tidak benar-benar mampu mengubah perilaku seseorang.

Sekolah tinggi di Indonesia telah unggul dalam hal mencetak orang-orang yang cerdas, tetapi integritas seseorang tidak bisa dilihat dari gelar akademis saja.

Hal ini terbukti masih banyak koruptor dengan gelar akademis tinggi yang harus dijebloskan ke penjara.

Contoh lainnya bisa dilihat dari pelatihan formal di Indonesia hanya menunjukkan bidang logika, informasi, dan inovasi yang membuat individu lebih cemerlang.

Namun, tragisnya dalam hal budi pekerti yang membuat orang menjadi terdidik tidak diajarkan. Itulah sebabnya masih banyak orang pintar yang melakukan tindakan memalukan seperti korupsi.

Mungkin hanya di Indonesia mantan narapidana kasus pencemaran nama baik, bisa diangkat menjadi ketua organisasi meskipun masih banyak orang terpelajar di luar sana yang tidak terpilih.

Bukankah ini memalukan bagi semua pihak?

Modifikasi Sistem Pendidikan yang Tepat Bisa Menjadi Solusi

Dengan asumsi sistem pendidikan yang tepat di Indonesia segera dirombak dengan berfokus pada proses bukan hanya hasil ini yang akan menciptakan individu terpelajar.

Bagi individu yang terbiasa diajar dengan cara mendapatkan hasil, sebenarnya mereka tidak akan sering memikirkan bagaimana atau cara yang paling umum untuk mendapatkannya.

Tidak masalah apakah cara yang benar atau tidak diambil, yang penting hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.

Di situlah letak kekurangan kerangka kerja di negeri ini. Ada mahasiswa menggunakan segala cara untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Padahal strategi yang diambil juga harus masuk ke dalam penilaian apakah strategi tersebut benar atau mereka menggunakan yang salah.

Ini menyiratkan fokus pada siklus untuk mendapatkan hasil yang ideal.

Efek dari sistem persekolahan yang mendasari siklus tersebut adalah lahirnya generasi cerdas yang terpelajar, bukan generasi cerdas yang mengaku brilian.

Dengan asumsi Indonesia bisa mengubah sistem persekolahan menjadi seperti ini, bukan tidak mungkin Indonesia akan terbebas dari sistem atau kebijakan yang hanya menguntungkan golongan tertentu.

Ini kesempatan terbaik bagi semua pihak untuk berjuang dan membersihkan Indonesia dari keterpurukan melalui pendidikan. Pembinaan bisa dimulai sejak usia dini di rumah, orang tua di rumah juga harus berusaha membuat atlet yang terlatih, bukan hanya orang yang cerdas.

Pendidikan adalah titik dukungan utama dalam perbaikan suatu negara. Melalui pendidikan yang berkualitas, usia yang lebih muda dapat menjadi langkah yang baik untuk menghadapi kesulitan di masa depan.

Ketertarikan pada pendidikan bukan hanya tentang memberikan jabatan yang sebenarnya, melainkan juga tentang membangun suasana yang menyegarkan imajinasi, penalaran yang menentukan, dan kemampuan berpikir kritis.

Dengan pendidikan yang komprehensif dan menitikberatkan pada pengembangan karakter, kita dapat melahirkan orang-orang yang cerdas secara akademis dan memiliki akhlak yang baik.

Konsekuensinya, otoritas publik, masyarakat, dan yayasan pendidikan harus bekerja sama untuk menjadikan sekolah sebagai metode yang memungkinkan usia yang lebih muda untuk waktu yang lebih menjanjikan di masa mendatang.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rahma Dika Aulia Nasution
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.