Kota Padang, ibu kota Sumatera Barat, terkenal dengan budaya dan tradisi yang kaya. Salah satu aspek penting budaya Kota Padang adalah bahasa Padang.
Bahasa Padang merupakan bahasa daerah yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat di kota ini.
Bahasa Padang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hal identitas, komunikasi, maupun dinamika sosial.
Bagi masyarakat Padang, bahasa Padang bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya yang unik.
Bahasa ini memiliki kosa kata, tata bahasa, dan cara pengucapan yang khas, sehingga mendengarkannya saja orang bisa mengenali bahwa itu bahasa Padang.
Penggunaan bahasa Padang dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan rasa bangga dan cinta masyarakat terhadap budaya mereka. Bahasa ini menjadi pemersatu bagi masyarakat Padang, baik yang tinggal di kota padang maupun di perantauan.
Sebagai salah satu kota metropolitan yang berkembang pesat di Indonesia, Padang mengalami dinamika sosial yang kompleks. Hal ini berdampak pada penggunaan bahasa Padang, baik dalam hal positif maupun negatif.
Di satu sisi, modernisasi dan globalisasi membawa pengaruh pada penggunaan bahasa Padang.
Generasi muda cenderung lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa gaul (slang) dalam pergaulan sehari-hari. Hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan penurunan penggunaan bahasa Padang di masa depan.
Di sisi lain, ada juga upaya untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa Padang.
Komunitas budaya dan pemerintah daerah aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti festival budaya, seminar, dan pembelajaran bahasa Padang, untuk menjaga kelestarian bahasa ini.
Seperti yang kita lihat saat ini, anak-anak di Padang lebih senang memakai bahasa asing daripada bahasa daerahnya sendiri.
Apalagi di kalangan remaja dan dewasa. Ini patut kita perhatikan agar bisa kita lestarikan bahasa daerah Padang tidak hilang.
Melansir data publikasi Long Form Sensus Penduduk (SP) 2020 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui bahwa penggunaan bahasa daerah kepada tetangga dan kerabat kian menurun pada generasi muda.
BPS menggunakan klasifikasi William H. Frey untuk mengetahui tingkat penggunaannya di tiap generasi.
Dalam data tersebut, terlihat bahwa penggunaan bahasa daerah paling sedikit digunakan oleh generasi post-gen z atau individu yang lahir pada 2013 ke atas, angkanya hanya mencapai 61,7% saja.
Tak jauh berbeda dengan gen z yang lahir pada tahun 1997-2012, mereka menggunakan bahasa daerah sebanyak 69,9%.
Persentase penggunaan bahasa daerah semakin tinggi pada masyarakat yang lahir pada generasi terdahulu.
Terbukti pada data BPS, generasi Milenial dengan rentang kelahiran 1981- 1996 memiliki tingkat penggunaan bahasa daerah sebesar 72,26%. Begitu pula dengan Generasi X atau yang lahir pada 1965-1980, penggunaan bahasa daerahnya capai 75,24%.
Berbeda dengan generasi-generasi di bawahnya, hanya dua generasi tertua yang penggunaan bahasa daerahnya berkisar di persentase 80%-an, yakni generasi Boomer kelahiran 1946-1964 sebanyak 80,32% dan generasi Pre-Boomer sebesar 85,24%. "Persentase penutur bahasa daerah antar-preboomer ke generasi post-gen Z semakin berkurang," tulis BPS dalam laporannya.
Secara umum, penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga mencapai 73,87%, dan di lingkungan teman atau kerabat mencapai 71,93%. Sebanyak 97,24% responden lebih mampu menggunakan bahasa Indonesia. Sebagai acuan, BPS meminjam klasifikasi generasi tersebut dari WIlliam H. Frey, Analysis of Census Bureau Population Estimates (25 Juni 2020).
Sementara itu, dalam artikel yang berjudul "Bahasa Daerah yang mulai ditinggalkan" membahas tentang keprihatinan terhadap penurunan penggunaan bahasa daerah di Sumatera Barat, termasuk kalangan generasi muda di Padang.
Semakin berkembangnya zaman dan masuknya arus globalisasi, mulai mengubah pola hidup masyarakat. Bahasa daerah yang biasanya digunakan dalam kehidupan baik dalam keluarga maupun di lingkungan sekitar, saat ini mulai tergantikan dengan adanya bahasa asing.
Pada tahun 2021 juga, Kemendikbudristek melalui Badan Bahasa menyelenggarakan Seminar Nasional Revitalisasi Bahasa Daerah. Dalam seminar tersebut, dibahas tentang berbagai faktor yang menyebabkan penurunan bahasa daerah dan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk melestarikannya.
Kemendikbudristek melalui Badan Bahasa aktif mempublikasikan informasi tentang bahasa daerah, termasuk bahasa Minangkabau, melalui berbagai media, seperti website, media sosial, dan publikasi cetak.
Beberapa pejabat Kemendikbudristek, seperti Kepala Badan Bahasa, telah menyampaikan pernyataan tentang pentingnya melestarikan bahasa daerah. Mereka menekankan bahwa bahasa daerah merupakan bagian penting dari budaya dan identitas bangsa Indonesia.
Kemendikbudristek melalui Badan Bahasa telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi penurunan bahasa daerah di Padang, seperti revitalisasi bahasa, pemanfaatan teknologi, serta integrasi bahasa daerah dalam pendidikan, festival, dan lomba bahasa daerah.
Upaya dari berbagai pihak dengan mengedepankan kreativitas dan inovasi, dapat menjadi kunci untuk menjaga kelestarian bahasa Padang di tengah gempuran modernisasi.
Bahasa Padang harus terus dilestarikan dan dikembangkan agar identitas budaya Padang tetap hidup dan berakar kuat di kota metropolitan ini.
Menjaga kelestarian bahasa Padang di kota metropolitan, seperti Padang bukanlah hal yang mudah.
Ada banyak pengaruh salah satunya pengaruh bahasa Indonesia dan bahasa asing yang dominan di dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, melestarikan bahasa Padang membutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak baik dari orang tua, keluarga, dan masyarakat lainnya.
***
Catatan:Terima kasih kepada Ibu Tressyalina, tulisan ini berhasil diterbitkan penulis atas arahan dan bimbingan dari beliau.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!