Kolom

Ideologi Kapitalisme Dibalik ‘Putih’

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 24 November 2010 05:37 WIB • 👁 1.895 Pembaca

Kulit putih telah menjadi ikon wanita cantik. Setidaknya, itulah fenomena yang merebak di banyak Negara, termasuk Indonesia. Bak antrian panjang orang yang akan menerima pensiunan, berbagai iklan untuk pemutih kulit muncul silih berganti di layar televisi. Entah itu produk untuk mendapatkan kulit putih bersinar ataupun kulit putih bersih, semuanya dijanjikan hanya dalam hitungan minggu. Pada kenyataanya, tak sedikit wanita Indonesia yang yakin akan janji mendapatkan kulit putih dalam waktu sangat singkat. Alhasil, berbagai produk pemutih kulit pun menjadi laris dan dicari demi mendapatkan predikat ‘cantik’.

Kemirisan mulai tampak tatkala memiliki kulit putih menjadikan perempuan-perempuan Indonesia tak lagi berpikir secara rasional. Dalam kasus ini, intelektualitas pun tak dikemukakan lagi demi mendapatkan kulit putih. Janji mendapatkan kulit putih dalam kurun waktu beberapa minggu ditelan mentah-mentah tanpa penyaringan. Padahal, pigmen (zat warna pada kulit), secara alami tak mungkin bisa berubah dalam hitungan minggu. Kenyataan ini tak lagi dihiraukan oleh mereka yang begitu memburu predikat ‘cantik’. Padahal patokan kecantikan tak pernah benar-benar ada, karena cantik itu semu dan relatif. Parahnya lagi, pemakaian produk pemutih pun malah memberikan dampak buruk pada kulit. Kenyataannya, tak sedikit penelitian yang menjelaskan adanya zat-zat berbahaya, seperti mercury. yang terdapat pada produk pemutih kulit. Bukannya kulit putih yang didapatkan, malah iritasi dan kerusakan kulitlah yang akhirnya dialami para wanita yang menjadi korban produk pemutih kulit ini.

Tampaknya, jelas paham kapitalismelah yang memiliki andil atas ‘putih’ yang menjadi idaman perempuan Indonesia. Menurut Karl Marx, kapitalisme adalah sebuah paham dengan tujuan utama memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Berbagai cara dan taktik dilakukan kaum kapitalis untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. Salah satu caranya yaitu dengan menerapkan konsep false consciousness (kesadaran semu).

Konsep false conciousness inilah yang merebak di Indonesia. Kaum kapitalis (baca: penganut paham kapitalisme) menanamkan pemikiran kalau memiliki kulit putih adalah ikon dari kecantikan dengan tujuan melariskan produk-produk pemutih yang mereka hasilkan. Maka, merebaklah sebuah kesadaran semu jika putih itu cantik.

Keinginan memiliki kulit putih pun membuat perempuan Indonesia menjadi individu yang konsumerisme karena membeli produk-produk pemutih kulit secara berlebihan. Produksi produk pemutih ini ‘kebetulan’ didominasi oleh negara-negara penganut ideologi kapitalisme. Tanpa disadari, perempuan Indonesia malah terperangkap pada kesadaran semu dengan berkiblat kepada orang-orang Barat sebagai ukuran cantik, salah satunya dengan memiliki kulit putih seperti mereka. Maka, secara tidak langsung, kaum kapitalislah yang memperoleh keuntungan besar atas keinginan perempuan Indonesia untuk memiliki kulit putih. Jika perempuan Indonesia sedikit menguras otak, maka harusnya timbul sebuah kesadaran kalau kapitalis memiliki andil dalam menanamkan konsep white is beautiful kepada perempuan Indonesia demi mendapatkan keuntungan bagi mereka.

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris TM 2008

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Oleh Sari Fitria
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.