Kolom

Guru Generazi Z(aman Now)

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 22 November 2024 02:29 WIB • 👁 571 Pembaca
Guru Generazi Z(aman Now)
Sumber: Google

Mungkin aku adalah salah satu orang yang menentang arus Gen Z, salah satunya adalah cara bergaul seorang guru GEN Z.

Saat ini kita sering menjumpai bahwa guru muda atau yang sering disebut guru Gen Z terlalu akrab dengan murid, memang ini bukan lah yang buruk namun memiliki dampak yang buruk untuk kedepannya.

Bisakah anda pikirkan apa yang akan terjadi?

Ya benar, guru-guru ini berkemungkinan akan mudah untuk tidak dihargai oleh muridnya sendiri. Ini bukan karena muridnya tidak memiliki adab, tetapi faktor kedekatan atau keakraban tadilah yang membuat guru sering tidak dihargai oleh muridnya sendiri.

Kedekatan ini seharusnya tidak terlalu intens dan menurut saya ini adalah hal perlu diperhatikan oleh guru yang tergolong Gen Z.

Bukannya apa apa, namun akhlak dan prilaku murid zaman sekarang ini sudah tergolong krisis adab. Ditambah lagi dengan tren guru Gen Z ini, sehingga terciptalah lingkungan yang tidak membatasi pembahasan antara pendidik dan peserta didik.

Jika kita ibaratkan, ini seperti pembahasan sebuah tongkrongan kafe yang tidak memiliki batasan pembahasan, apalagi pembahasan yang mengarah pada obrolan orang dewasa diatas 21 tahun.

Pergaulan inilah yang terjadi antara Guru Gen Z dengan murid zaman sekarang ini, kebanyakan guru Gen Z saat ini tidak memperhatikan asas mendidik, mereka hanya tau cara mengajar yang enak dan santai tanpa menerapkan asas pendidik, pendidik yang saya maksud disini adalah guru mendidik murid dari segi perilakunya.

Nah, inilah yang menjadi permasalahan krisis moral di dunia pendidikan saat ini.

Guru seharusnya menjadi seorang pendidik dan pengajar.

Namun, label guru saat ini sudah tersertifikasi Gen Z, kedua hal tadi tidak lagi menjadi perhatian bagi mereka.

Kebanyakan guru sekarang isi pikirannya hanya melaksanakan tren media sosial (tulisan penulis bisa dibuktikan).

Kemudian dari segi adab seorang guru, guru Gen Z nampaknya kurang memperhatikan hal ini dikarenakan mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari orang yang minim adab.

Saya mempertegas ini bukanlah kesalahan mereka semata, tetapi juga dibarengi oleh faktor teknologi dan medsos (Saat ini banyak berseliweran konten di medsos yang kurang mendidik).

Saya rasa ini menjadi topik yang seharusnya sudah kita sadari dari awal namun kebanyakan kita selalu menormalisasikan ini.

Kemudian, selain dari segi adab dan moral guru Gen Z, kebanyakan mereka juga tidak menguasai materi pembelajaran mereka sendiri, sehingga saat proses belajar mengajar guru Gen Z ini hanya bisa berpikir bagaimana reputasi dia sebagai guru tidak jelek.

Maka, timbullah ide guru untuk mengajak muridnya untuk membuat tren sampah agar jam pelajarannya terisi sampai habis.

Sungguh miris sekali jika diperhatikan dengan saksama.

Jika kita dari umurnya, kebanyakan guru Gen Z ini masih berstatus honorer. Namun, kebanyakan guru honorer banyak yang menjerit untuk segera dijadikan PNS agar hidupnya sejahtera.

Bagi saya setidaknya mereka memperbaiki dulu kualitas diri mereka sendiri sebelum menjerit dan menuntut pemerintah….

Yahhhh namanya juga Gen Z, sedikit kerja banyak maunya

(penggalan lirik lagu Enau – Negara Yang Lucu).

Hahaha.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Abdul Hasan
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.