"Biarlah uang kami habis Program Satu Nagari Satu Event bagi kami—Masyarakat Nagari Padang Laweh banyak sekali manfaatnya, antara lain melalui program ini masyarakat kami bisa berkumpul bersama dan saling bercerai dan dengan program ini potensi nagari juga bangkit."
Wali Nagari Padang Laweh Rahmat Febri Jeni Dt. Barah Bangso menyampaikan hal tersebut saat Pembukaan Program Satu Nagari Satu Event Festival Alu Katentong dan Pacu Jawi, Minggu (24/11/2024) di Sawah Nunggadiang Nagari Padang Laweh Kecamatan Sungai Tarab.
Pernyataan Rahmat menjadi bukti bahwa Alu Katentong dan Pacu Jawi menjadi budaya turun-temurun oleh nenek moyang yang harus dilestarikan.
Hal tersebut selaras yang disampaikan oleh Bupati Tanah Datar Eka Putra, SE, MM atas sambutannya di Program Satu Nagari Satu Event Festival Alu Katentong dan Pacu Jawi Nagari Padang Laweh.
"Ini sangat bagus dan mari kita bangkit bersama apa yang telah diberikan oleh nenek moyang kita yang terdahulu sehingga budaya kita akan terus terlestarikan di masa mendatang. Inilah tujuan yang sebenarnya dari program Satu Nagari Satu Event," ungkap Eka.
Tradisi Pacu Jawi yang secara menjadi salah satu daya tarik wisatawan di Kabupaten Tanah Datar setiap tahunnya.
Sepanjang tahun 2024, Kabupaten Tanah Datar secara bergantian menggelar Pacu Jawi di kecamatan berbeda.
Asal-Usul Pacu Jawi
Pacu Jawi berasal dari kata pacu dalam bahasa Minangkabau artinya kecepatan, sedangkan jawi artinya sapi atau lembu.
Pacu jawi sendiri merupakan balapan sapi khas Minangkabau yang biasanya diadakan sebagai ungkapan rasa syukur setelah masyarakat memanen hasil padinya.
Pacu Jawi dilakukan awalnya hanya digunakan petani sebagai cara untuk membajak sawah sehingga tanah tersebut menjadi subur saat ditanami padi.
Febrianti (2013) dalam Berlari Mengejar Harga Tinggi terbitan Tempo menyebut biasanya acara tersebut dilakukan di bekas sawah berukuran empat hektare yang datar dan telah dipanen.
Di sana akan jadi arena pacuan sapi, ada juga pasar dadakan, dan panjat pinang.
Febrianti juga menulis bahwa Pacu Jawi telah diselenggarakan sejak berabad-abad lalu, termasuk sebelum kemerdekaan Indonesia, dan berawal dari perayaan dan hiburan panen untuk warga desa.
Pada tahun 2013, Nagari-Nagari di Kabupaten Tanah Datar bergantian menyelenggarakannya setiap dua bulan, dan tiap giliran terdiri dari empat acara yang diselenggarakan pada hari Rabu atau Sabtu.
Tata Cara Permainan Pacu Jawi
Sebelum dipacu, jawi yang ikut alek tersebut didandani dengan aksesoris, seperti kain suntiang dan aksesoris lainnya. Begitulah aturannya, jawi dari nagari penyelenggara harus babaju.
Jawi-jawi diarak warga menuju lokasi pacu. Di belakangnya, para bundo kanduang juga memakai pakaian adat sembari menjujung dulang diisi pisang, makanan kecil, serta minuman kopi daun.
Sesampainya di lokasi, bundo kanduang menuju tenda. Di dalam tenda terdengar alunan nada talempong yang dimainkan Niniak mamak (tetua adat).
Bundo kanduang menaruh dulang berisi makanan. Selanjutnya, seorang niniak mamak berdiri dan mulai berbicara. Prosesi ini disebut Kudato Tagak .
Kudato Tagak ialah salah satu prosesi adat yang dilakukan dalam tradisi Pacu Jawi ini. Niniak mamak dari suku-suku di 4 kecamatan saling berbalas pidato adat, mengkaji nilai luhur adat mulai Gunung Marapi hingga ke bawah. Selesai itu, baru jawi dipacu.
Walaupun demikian, dalam Pacu Jawi tidak ada istilah menang atau kalah. Tujuan lain alek ini untuk menilai kualitas jawi yang dipacu.
Jawi yang ikut dalam pacuan akan harganya akan naik hingga empat kali lipat jika berhasil berpacu dengan sempurna, berlari lurus dengan kekuatan penuh hingga akhir.
Alek Pacu Jawi dimulai dengan sepasang jawi diikat ke sebuah alat bajak dari kayu kemudian dikendalikan oleh seorang joki, masing-masing berlari secara bergiliran di sebidang sawah.
Sang joki dapat berdiri dan mengendalikan jawi tersebut dengan cara memegang ekor kedua sapi, tanpa menggunakan pecut.
Biasanya sapi yang dilombakan dibagi dalam tiga kelas, kelas I, II, dan III yang masing-masing menempuh jarak tanding tertentu. Untuk kelas III, jarak yang ditempuh hanya 60 meter, kelas II 80 meter, dan kelas 1 berjarak 100 meter.
Pacu jawi kelas III biasanya diikuti oleh sapi-sapi yang baru pertama kali mengikuti lomba. Tetapi tidak ada aturan pasti untuk memasukan sapi ke kelas tertentu.
Pembagian sapi-sapi dalam kelas tertentu ditentukan oleh para penanggung jawab perlombaan.
Pacu Jawi sering juga disamakan dengan Karapan Sapi dari Madura. Yang membedakannya pada Karapan Sapi di Madura, joki mengendalikan jawi dalam posisi berdiri di atas bajak yang dikaitkan ke bagian leher jawi sedangkan joki Pacu Jawi hanya berpegangan pada tangan bajak.
Ada juga joki mengendalikan sapi dengan cara menarik dan menggigit salah satu ekor jawi agar jawi mampu berlari kencang.
Pacu Jawi sebagai Aset Budaya Minangkabau
Keberadaan Pacu Jawi menjadi aset budaya penting dalam memajukan perekonomian Masyarakat Kabupaten Tanah Datar di bidang pariwisata.
Sejak 2020, Pacu Jawi secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah satu Warisan Budaya TakBenda khas Indonesia dalam bidang Seni Pertunjukan yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat.
Keberadaan Pacu Jawi sendiri memiliki filosofi yang unik, yaitu menggambarkan pimpinan dan rakyat biasa dapat berjalan bersama.
Filosofi tersebut didasarkan pada pelaksanaan Pacu Jawi sendiri, dimana jawi yang digunakan berjumlah dua ekor dan harus saling bekerja sama dengan seorang joki untuk mencapai garis finish.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!