Pergaulan Bebas Bak Bola Panas yang Terus Menggelinding di Masyarakat
Mona (bukan nama sebenarnya) terpekur lama usai bertengkar dengan sang kekasih. Tali cinta yang sudah lama keduanya rajut terancam berbuntut dengan kata putus. Mona takut namun tak berdaya. Mona pun menawarkan keperawanannya sebagai bukti teramat cinta. Sudah lama pacarnya meminta namun Mona masih bisa menolak. "Tapi kalau waktu itu, saya rela daripada ditinggalkan," bela Mona Sabtu (17/1).
Andini (bukan nama sebenarnya) mahasiswa salah satu PTN kota Padang juga mengalami kasus serupa namun beda jalan cerita. Kala itu sang pacar mengajak Dini menginap di rumahnya untuk berkenalan dengan orang tua. Dini senang karena ini pertanda hubungan mencapai tingkat serius. Namun, Ia pun tak mengira di sanalah kebablasan pertama bermula. Dini menyesal namun tak bisa berbuat apa-apa. Malah, hilang kontrol pertama itu berlanjut dan sulit dihentikan sampai sekarang. "Tentu saya ingin berubah, tapi semua terjadi di luar kendali, susah sekali mengontrol diri jika tak ada yang mengingatkan," katanya pasrah, Rabu (12/1). Memang, Dini berasal dari keluarga tak harmonis. Ibu sudah lama ditinggal cerai ayah. Dini pun menjadi lepas kontrol karena ibu sibuk menjadi tulang punggung keluarga. "Apalagi sekarang sudah nge-kos,"tutupnya.
Fenomena di atas hanyalah dua dari ribuan peristiwa lain yang tak aneh lagi. Tentunya terdapat biang kerok yang menyebabkan penyakit ini makin marak. Salah satunya adalah modernisasi hidup yang membuatnya kian lumrah seperti tayangan TV, internet dan fitur handphone yang memicu tindakan ini. Pakar sosial UNP, Drs. Akmal, M.Si., mengungkapkan kecanggihan teknologi malah ikut berperan sebagai media penyalur tayangan pornografi dan pornoaksi. Kehadirannya sampai sekarang tak kunjung bisa dihapus total walau sudah ada berbagai usaha yang dilakukan pemerintah. "Meski Menteri komunikasi dan informasi, Pak Tifatul Sembiring telah berupaya memblokir situs porno dan melarang pemakaian blackberry, tetap saja dengan berbagai cara masyarakat mengakses tayangan tak senonoh itu," ungkap Akmal, Jumat (17/1).
Walau begitu ditambahkan Akmal, teknologi itu tadi hanyalah sebatas media. Media juga tak akan marak tanpa ada penggunanya yaitu individu itu sendiri. "Sekarang yang terpenting adalah filter pada pribadi individu," jelas Akmal. Apabila mental agama sudah kokoh, maka mereka akan bisa menyaring pengaruh negatif apapun dari luar.
Kemudian, menurut Akmal, faktor yang menyebabkan terjerumusnya seseorang ke pergaulan bebas adalah pendidikan. Pendidikan terjadi semenjak seseorang berada di dalam kandungan, lahir, bayi, balita, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Setiap tahapnya memerlukan aspek pendidikan untuk mengokohkan kepribadian manusia tersebut. Pendidikan utama adalah pendidikan dalam keluarga saat anak dalam kandungan hingga ia menjadi anak-anak. Setelah masuk usia sekolah, pendidikan formal lah yang berperan dalam membentuk kepribadian anak tersebut. Dijelaskan Akmal, terdapat enam tujuan pendidikan yang tertera dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 yaitu kekuatan spritual, pengendalian diri, keribadian, akhlak mulia, kecerdasan, keterampilan. "Sayangnya, yang baru tercapai hanyalah aspek kecerdasan dan keterampilan saja, sedangkan aspek penting lainnya terabaikan "tutup Akmal di ruangannya.
Tak hanya itu, faktor lainnya adalah dari segi psikologi remaja. Menurut pakar psikologi UNP, Dr. Mardjohan, M.S.Kons., masa remaja merupakan masa dimana organ seksual berkembang aktif. Dalam masa ini, keinginan remaja mencoba hal yang berhubungan dengan masalah seksual sangat tinggi. Keinginan ini akan timbul jika mereka mendengar atau melihat hal-hal yang berbau seksual walau hanya sedikit. "Apalagi akses yang menjurus ke sana zaman sekarang kian mudah didapat," katanya, Rabu (16/2).
Ditambahkan Mardjohan, lingkungan seperti keluarga dan teman sekitar juga memiliki andil yang besar dalam merebaknya pergaulan bebas ini. Menurutnya, remaja cenderung memiliki cara berpikir dan emosi yang tak stabil. Kondisi ini dalam tataran pertemanan, Ia menjadi mudah ikut-ikutan teman baik dalam hal negatif maupun positif. Sedangkan dalam tataran keluarga, lanjut Mardjohan keluarga tak harmonis menyebabkan anak mencari pelampiasan lain yang biasanya kearah negatif. Orang tua dituntut mampu memberikan perhatian agar anak merasa nyaman dan terbuka. "Jika tidak, anak bisa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hubungan bebas untuk melampiaskan semua kekesalannya,"tutupnya.
Laporan Chandra, Icha, Sari, Yudhi, Rara
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!