Laporan Utama

Sindikat Ayam Kampus Terorganisir

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 7 Maret 2011 08:23 WIB • 👁 4.721 Pembaca

Kala Kaum Intelektual Banting Stir Sebagai Penjaja Seks Komersil

Kejadian ini terjadi pada tahun lalu, kala Rina (bukan nama sebenarnya), mahasiswa tahun ke dua salah satu PT swasta di kota Padang ini meminta Kepala Sub Bagian POL PP, Fuji Astomi STTP MSi., melakukan hubungan seks dengannya dengan bayaran sekedarnya saja. Pada waktu itu, pekerjaan Fuji adalah protokoler. "Dia minta 100.000 saja cukup, padahal itu tarifnya tukang becak lo," kenang Fuji, Selasa (11/1) di ruangannya. Rina memohon hal ini karena kesal baru saja ditolak pelanggannya yang tak puas dengan fisiknya.

‘Kupu-kupu malam’ bertitel mahasiswa diistilahkan dengan ayam kampus. Dilihat dari kaca mata biasa, mereka tak ada, namun sebenarnya ada. Hanya saja sulit ditelusur karena terorganisir dengan rapi. Dibenarkan ‘kupu-kupu malam’ taksi biru Taman Melati, Ros (bukan nama sebenarnya), Ia memiliki teman-teman mahasiswa yang seprofesi. "Tapi sulit dilacak karena gak sembarangan beroperasi," terang Ros, Kamis (6/1). Ros menambahkan, pelanggan ayam kampus dari kalangan papan atas dan dilakukan di hotel berbintang.

Hal ini dibenarkan penyidik dari POL PP Amzarus. Disinyalir, mereka berupa sindikat yang melibatkan banyak pihak seperti security hotel berbintang serta orang dalam hotel yang terselubung. Cara transaksi dan pembayarannya tersusun bagus melalui perantara yang sudah piawai. Petugas sulit melacak keberadaan mereka karena tak bisa sembarangan melakukan penggeledahan. "Hotel tentunya terlindung dengan sudah terpenuhinya peraturan operasional seperti surat izin tempat usaha," terang Am Jumat (21/1).

Namun, bukan berarti tak ada ayam kampus yang berhasil diringkus. Seperti sepanjang tahun 2010, terdapat lebih kurang delapan ayam kampus berhasil diringkus petugas atas aduan masyarakat. Am menjelaskan rata-rata mereka tahun ketiga kuliah. Motivasi mereka macam-macam seperti tanggung tak perawan ditinggal pacar, sekedar bersenang-senang saja, terjepit kebutuhan ekonomi dan ikut-ikutan teman. "Tapi lebih banyak karena ekonomi, yaitu ingin hidup mewah seperti teman lainnya,"tutupnya.

Laporan : Icha, Chandra

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Santi Syafiana
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.