Bintang Aktivis Kampus, saya boleh saja menyebutnya sekarang sebagai Bintang Aktipes Kempes, bagaimana mungkin, kata aktivis yang syarat dengan makna gerakan oposisi, gerakan yang melawan kekuasaan justru dibelokkan ke jurang terdalam menjadi kumpulan para kacung kampus yang mengabdi kepada birokrat dengan imbalan nasi bungkus setiap acara kepanitian kampus? Sudahlah nyata para mahasiswa yang terpandang intelektual dahulunya dikokang oleh kebijakan kampusnya sendiri.
Selama bertahun-tahun anugrah Bintang ini justru didapatkan kepada mereka yang tak menjadi oposisi sedikitpun, terutama di kampusnya sendiri, Bintang Aktipes ini, akan diberikan kepada para mahasiswa yang mau bertipes-tipes mengerjakan proker, demi nama baik universitas, namun apabila, ada gajah di pelupuk matanya, kasus KS, para mafia, dan tukang tukang ngibul lainnya, yang berseliweran di kampusnya justru para pengejar Bintang Aktivis ini hanya diam sahaja? Apakah memang begitu syarat tuan yang tidak tidur dua hari itu?. Sementara itu, tatkala supremasi sipil hendak disorakkan dengan keras oleh BEM UNP, tapi pada hari di mana pengenalan kehidupan kampus yang datang adalah militer ke kampusnya, BEM UNP diam saja? di Mulawarman nun jauh di Kalimantan mahasiswa barunya, diarahkan untuk tidak menghadap ke militer di mimbar tatkala kampus memberi karpet merah kepada militer masuk ranah sipil, sebaliknya di UNP ketika acara itu, justru BEM, dan para bintang aktipes, tidak bersuara sedikitpun, apa hendak dikata.
Sementara itu tungau ditubuh BEM yang (harusnya) merupakan gerakan oposisi untuk birokrasi kampus terus saja berlangsung? BEM yang nyaris berperiode-periode hanya dikuasai oleh satu forum LDK, atau apabila di tingkat fakultas maka ada Ormek, dan apabila pemilu dilangsungkan maka mereka merayau-rayau, dengan visi misi yang tak dikerjakan itu? Atau hanya cukup sahaja dengan foto di studio, tanda tuan yang banyak sebagai pemengaruh nomor satu di kampus? Sungguh bayang-bayang kefasikan itu nyata adanya. LDK melawan Ormek boleh sajalah kita menyebutnya sebagai duel tukang kecap, duel lintah darat, duel yang tak termakan di ayam, yang berubah menjadi kontestasi siapa tukang kecap paling hebat.
Kalaulah BEM UNP dan para pengejar bintang-bintang, maka sudah sebaiknyalah, ia bergerak untuk melawan kezaliman, sejak mula dari kampusnya, apabila kampusnya sudah selesai, maka hendak juga ke tahap yang lebih tinggi, dan apabila ini tak mahu dilakukan dengan alasan bak-bik-buk, meletakan jawatan adalah solusi, dan para bintang, hendaknya tak sekonyong-konyong, meminta gelar bintang aktivis, dengan kokang-kokangan yang macam-macam alasannya itu.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!