Kolom

Krisis Intelektual? Pendidikan Barang Obral?

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 2 Desember 2025 00:34 WIB • 👁 338 Pembaca
Krisis Intelektual? Pendidikan Barang Obral?
Ilustrasi: Pinterest

Saat ini, negeri ini menghadapi berbagai krisis, mulai dari ekonomi, pangan, lingkungan, moral, hingga pendidikan. Fokus pembahasan kali ini adalah krisis pendidikan di Indonesia. Saat ini, dunia pendidikan menerapkan Kurikulum Merdeka yang dicetuskan oleh Nadiem Makarim, pendiri Gojek. Namun, sistem ini sering dianggap bahan candaan dan percobaan, seperti penghapusan Ujian Nasional dan sistem kenaikan kelas yang cacat. Banyak siswa dipaksa naik kelas meskipun belum tuntas menguasai pelajaran.

Dalam dunia pendidikan saat ini, penulis menyampaikan bahwa pendidikan tampaknya kurang menjadi prioritas pemerintah. Masalah seperti gaji guru honorer yang belum terselesaikan dan kewajiban sarjana pendidikan mengikuti PPG untuk bisa mengajar di sekolah masih berlanjut. Pemerintah memegang peran penting dalam sistem pendidikan, tetapi pejabat krusial di sektor ini banyak yang bukan dari latar belakang pendidikan, sehingga keputusan mereka sering tidak relevan dengan kebutuhan pendidikan.

Krisis intelektual yang terjadi di tingkat SMP dan SMA sangat mengkhawatirkan. Banyak video di media sosial menunjukkan siswa SMA yang masih kesulitan membaca teks sederhana dan melakukan operasi matematika dasar seperti perkalian dan penjumlahan. Pertanyaan utamanya adalah, bagaimana siswa yang tidak lancar membaca dan berhitung bisa lulus masuk SMA? Apakah masalah ini disebabkan oleh kurikulum atau kesengajaan dari sekolah? Kondisi ini menjadi pukulan keras bagi kemajuan bangsa karena fondasi utama menuju negara maju adalah sistem pendidikan yang kuat. Namun, kenyataannya, pendidikan di Indonesia belum menjadi prioritas pemerintah.

Pendidikan adalah kunci kemajuan suatu daerah karena berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM). Semakin tinggi kualitas SDM, semakin besar peluang daerah tersebut maju. Pola pikir yang baik sangat berpengaruh pada kemajuan dan perkembangan. Oleh karena itu, pemerintah harus berinvestasi pada rakyatnya dengan memajukan pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan melalui penilaian yang ketat berdasarkan evaluasi kemampuan, bukan hanya nilai.

Dunia pendidikan harus lebih tegas jika cita-cita negara adalah memajukan bangsa ini. Kelemahan sistem saat ini justru memanjakan siswa sehingga lahir siswa SMA yang kurang mampu membaca dan menghitung. Contohnya, negara China, Jepang, dan beberapa negara Eropa sangat memuliakan pendidikan dengan sikap tegas, sehingga mereka lebih maju dari kita.

Permasalahan ini tidak semata-mata kesalahan pemerintah, tetapi juga karena miskomunikasi dengan guru sebagai pelaksana. Banyak guru yang cenderung memanjakan murid karena mereka juga dibatasi untuk tidak keras terhadap siswa. Padahal, yang seharusnya tidak keras adalah perlakuan terhadap murid secara personal, bukan dalam mendidik intelektual dan karakter mereka. Kondisi ini berdampak buruk pada kualitas pendidikan, yang kini menurun dibandingkan dekade sebelumnya. Teknologi yang pesat juga berkontribusi pada penurunan moral masyarakat karena ketidakmampuan memanfaatkan teknologi secara efektif, yang juga terkait dengan rendahnya kualitas pendidikan.

Kesimpulannya, banyak SDM berkualitas rendah dipaksa maju tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang, sehingga muncul keputusan yang tidak rasional dan membebani generasi mendatang. Pendidikan harus menjadi tolak ukur pemimpin dalam memimpin suatu wilayah karena setiap keputusan akan menentukan masa depan yang cerah atau kelam. Ijazah hanya membuktikan seseorang pernah bersekolah, bukan bahwa ia pernah berpikir. Salam hangat untuk wakil pemimpin negeri ini.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Abdul Hasan
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.