Kolom

Budaya di Antara Etalase dan Ingatan Kolektif

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 19 Desember 2025 22:19 WIB • 👁 254 Pembaca
Budaya di Antara Etalase dan Ingatan Kolektif
Ilustrasi: Pinterest

Budaya kerap dipahami sebagai sesuatu yang diwariskan, dijaga, lalu dipertontonkan. Ia hadir dalambentuk tarian di panggung festival, pakaian adat dalam perayaan, atau makanan tradisional yang disajikan saat acara tertentu. Namun, di balik kemeriahan itu, budaya sejatinya hidup jauh lebih dalam: ia bersemayam dalam ingatan kolektif masyarakat dan cara manusia memaknai hidupnya sehari-hari.

Sayangnya, dalam arus modernisasi yang kian deras, budaya sering kali berhenti sebagai simbol, bukan sebagai nilai yang benar-benar dihayati. Di banyak daerah, budaya lokal mulai diperlakukan seperti etalase museum. Ia ditampilkan rapi, indah, dan terawat, tetapi jarang disentuh secara kritis. Generasi muda mengenal tarian daerahnya, namun tidak memahami makna gerakannya. Mereka tahu nama upacara adat, tetapi tidak lagi mengerti nilai kebersamaan dan penghormatan yang terkandung di dalamnya. Budaya menjadi hafalan, bukan pengalaman.

Modernisasi dan globalisasi memang tidak bisa dihindari. Teknologi membuka ruang perjumpaan antarbudaya yang luas dan cepat. Namun, persoalan muncul ketika budaya lokal selalu berada pada posisi bertahan, sementara budaya luar datang dengan daya tarik yang lebih kuat dan dianggap lebih relevan dengan zaman. Akibatnya, budaya sendiri sering dipandang kuno, tidak praktis, bahkan menghambat kemajuan. Pandangan semacam ini pelan-pelan mengikis rasa memiliki terhadap identitas budaya.

Ironisnya, budaya justru sering kembali "diangkat" ketika memiliki nilai jual. Ia dikemas menjadi produk wisata, konten media sosial, atau komoditas ekonomi kreatif. Tidak ada yang salah dengan hal itu, selama tidak menghilangkan makna aslinya. Masalah muncul ketika budaya hanya dipertahankan karena menguntungkan, bukan karena dianggap penting bagi pembentukan karakter dan jati diri masyarakat.

Pada titik ini, budaya kehilangan ruhnya dan berubah menjadi sekadar pertunjukan. Budaya seharusnya tidak hanya hidup di panggung atau seremoni, tetapi juga dalam sikap dan cara berpikir. Nilai gotong royong, rasa hormat kepada orang tua, musyawarah, dan kebersamaan adalahbagian dari budaya yang kerap disebut, tetapi semakin jarang dipraktikkan. Ketika budaya hanya dijadikan slogan tanpa penerapan nyata, maka yang tersisa hanyalah nostalgia tanpa makna.

Peran generasi muda menjadi sangat penting dalam situasi ini. Mereka bukan hanya pewaris budaya, tetapi juga penafsir baru. Budaya tidak harus dipertahankan secara kaku, namun perlu dipahami secara kritis agar tetap relevan. Mengadaptasi budaya dengan konteks zaman bukan berarti menghilangkan nilai dasarnya, melainkan menjaga agar ia tetap hidup dan bermakna. Menjaga budaya bukan sekadar soal melestarikan bentuk, tetapi merawat ingatan dan nilai yang terkandung di dalamnya. Selama budaya masih dipahami sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar hiasan identitas, ia tidak akan punah. Budaya akan terus hidup, bukan di etalase, melainkan di kesadaran masyarakat yang menjadikannya pegangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Laura Okta
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.