Di tengah puing-puing bangunan yang runtuh, genangan air, serta keterbatasan bantuan, sebuah peristiwa kecil namun sarat makna muncul dari lokasi pengungsian korban banjir bandang di Aceh, terutama Aceh Tamiang dan sejumlah posko pengungsian lainnya. Anak-anak korban bencana menghampiri relawan, bukan untuk meminta makanan, pakaian, atau mainan, melainkan Al-Qur'an. Permintaan sederhana itu seketika menggugah nurani: di saat segalanya hilang, yang mereka cari justru pegangan iman.
Peristiwa ini terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial dari akun TikTok @Ikramafro, memperlihatkan anak-anak yang telah lebih dari 22 hari tinggal di tenda pengungsian akibat banjir bandang memilih memintaAl-Qur'ankepada relawan untuk tetap bisa mengaji di tengah keterbatasan daripada meminta mainan atau hiburan biasa anak-anak.
Menanggapi hal ini, Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menyatakan telah menyiapkan ribuan mushafAl-Qur'anuntuk disalurkan ke wilayah-wilayah terdampak, termasuk Aceh. Kemenag menjelaskan bahwa permintaan tersebut muncul karena banyakAl-Qur'anmilik pengungsi yang hancur atau hanyut terbawa banjir, sehingga kebutuhan spiritual ini menjadi sangat dirasakan oleh anak-anak dan keluarga mereka di lokasi pengungsian.
Peristiwa ini tidak sekadar menyentuh sisi emosional, tetapi juga membuka ruang refleksi mendalam tentang cara kita memaknai pemulihan pasca bencana. Selama ini, respons kebencanaan sering kali berfokus pada aspek fisik dan material: logistik, hunian sementara, serta infrastruktur. Semua itu tentu penting dan tidak terbantahkan. Namun, kisah anak-anak Aceh tersebut mengingatkan kita bahwa pemulihan spiritual dan psikososial juga merupakan kebutuhan mendasar, terlebih bagi anak-anak.
Aceh bukan sekadar wilayah yang berulang kali diuji oleh bencana alam, tetapi juga daerah dengan akar religius yang kuat. Bagi anak-anak Aceh, Al-Qur'an bukan hanya kitab suci, melainkan sumber ketenangan, identitas, dan harapan. Di tengah trauma kehilangan rumah, lingkungan bermain, bahkan anggota keluarga, Al-Qur'an menjadi ruang berlindung terakhir yang mampu menenangkan batin mereka. Ketika anak-anak meminta Al-Qur'an kepada relawan, sejatinya mereka sedang meminta harapan, bukan sekadar buku.
Sayangnya, dimensi spiritual ini masih sering terpinggirkan dalam kebijakan dan praktik penanggulangan bencana. Negara dan lembaga kemanusiaan kerap mengukur keberhasilan pemulihan dari jumlah tenda yang berdiri atau paket bantuan yang tersalurkan. Padahal, trauma anak-anak tidak selalu tampak secara kasat mata. Tangisan yang terpendam, rasa takut berkepanjangan, serta kehilangan makna hidup tidak bisa disembuhkan hanya dengan bantuan material.
Relawan yang merespons permintaanAl-Qur'antersebut sejatinya telah melakukan lebih dari sekadar kerja kemanusiaan teknis. Mereka hadir sebagai jembatan empati, memahami bahwa anak-anak korban bencana membutuhkan penguatan batin agar mampu bangkit. Tindakan sederhana ini semestinya menjadi pelajaran penting bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan bahwa pendekatan kebencanaan harus lebih manusiawi dan holistik.
Ke depannya, penanganan bencana di Aceh secara umum perlu secara serius memasukkan pemulihan spiritual sebagai bagian integral dari kebijakan. Penyediaan ruang ibadah darurat, distribusi kitab suci, pendampingan keagamaan, serta trauma healing berbasis kearifan lokal seharusnya tidak lagi dianggap pelengkap, melainkan kebutuhan utama, terutama bagi anak-anak.
Anak-anak Aceh telah memberi pesan yang sangat jelas melalui permintaan mereka kepada relawan. Di tengah bencana, mereka tidak hanya membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, tetapi juga nilai-nilai untuk tetap percaya bahwa hidup layak diperjuangkan. Ketika Al-Qur'an menjadi permintaan di tengah reruntuhan, maka sesungguhnya yang sedang mereka jaga adalah iman, harapan, dan masa depan.
Bencana mungkin meruntuhkan bangunan, tetapi tidak seharusnya meruntuhkan kemanusiaan kita. Dari mereka kita dapat belajar bahwa pemulihan sejati tidak hanya dimulai dari logistik, melainkan dari hati dan keyakinan.
Sumber:
TiNewss.com— Anak korban banjir Aceh bertahan di tenda, tak minta mainan tapi Al-Qur'an karena ingin ngaji.Tinewss - Berimbang Mengabarkan
Bicara Berita— Anak korban banjir Aceh memilih minta Al-Qur'an ketimbang mainan.Bicara Berita - Bicara Fakta dan Aktual
Merdeka.com— Kemenag respons permintaan Al-Qur'an dan siapkan ribuan mushaf untuk pengungsi Banjar Aceh.merdeka.com
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!