Cerpen

Ketika Keadilan Tinggal Kata

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 20 Mei 2026 15:57 WIB • 👁 288 Pembaca
Ketika Keadilan Tinggal Kata
Ilustrasi: Pinterest

Pagi di kantin kampus terasa biasa bagi semua orang, kecuali Rose. Di pojok meja, pikirannya penuh. Dika datang membawa dua gelas es kopi, berusaha mencairkan suasana.

"Lo lagi kosong, ya?" tanya Dika.

"Nggak kosong. Cuma… penuh," jawab Rose pelan.

"Nih, biar lo ngerasa mendingan." Dika meletakkan kopi itu. "Ceritain dong, kok mukanya berat banget."

Rose mengungkapkan kegelisahannya tentang dunia yang terasa tak beres. Dika menanggapinya santai, mengira mereka cuma terlambat sadar. Sore harinya, di halte, Lala memperlihatkan sebuah berita di ponselnya. Wajah Rose berubah seketika: sebuah kasus ketidakadilan yang terang-terangan.

"Kenapa ya… kejadian kayak gini banyak banget?" gumam Rose.

"Menurut lo kenapa?" Lala balik bertanya.

"Rasanya ada yang salah, tapi semua orang sudah menganggapnya biasa."

"Justru di situlah bahayanya," timpal Lala. "Ketika yang salah perlahan terasa biasa, itu tandanya sesuatu sudah rusak."

Malam itu kegelisahan Rose memuncak saat membaca detail berita: pelaku tidak ditahan. Kolom komentar dipenuhi nada apatis, "hukum tajam ke bawah." Rose mengirim pesan ke Dika, bertanya apakah mereka harus menerima kenyataan ini.

Rose: "Terus kita terima aja?"

Dika: "Bukan terima, tapi ngerti batas."

Rose: "Ngerti batas atau menyerah?"

Keesokan harinya di taman, Rose kembali mendesak Lala tentang kepercayaan pada keadilan.

"Gue nanya serius, keadilan itu masih bisa dipercaya nggak?" tanya Rose.

"Keadilan mungkin masih ada," jawab Lala tenang, "tapi nggak semua orang bisa mengaksesnya."

"Terus kita diem?"

"Kita nggak boleh diem. Tapi juga harus siap kalau perubahan nggak selalu datang langsung."

Malamnya Rose membuka laptop dan mulai menulis. Ia mencurahkan kegundahan tentang ketimpangan sistem. Meski ragu, ia menekan tombol unggah. Responsnya mengejutkan; ribuan orang merasa terwakili, sementara kritik pedas juga berdatangan. Seseorang menulis, "Kalau nggak ngerti kasusnya secara utuh, mending diam aja."

Rose sempat goyah, namun Dika mengirim pesan penguat:

"Emang nggak pernah sederhana. Tapi bukan berarti lo salah. Jangan berhenti di satu tulisan, lengkapi."

Kalimat itu mendorong Rose melakukan riset lebih dalam. Ia menyadari bahwa ketidakadilan sering bersembunyi di balik prosedur yang tampak sah. Di kampus, namanya jadi perbincangan.

"Menurut gue tulisannya berani," kata seorang mahasiswa di koridor.

"Berani iya, tapi agak cepat menyimpulkan, ya?" sahut yang lain.

Selesai kelas, Lala menghampiri Rose yang tampak lebih tenang namun serius.

"Lo kuat?" tanya Lala singkat.

"Awalnya gue kira bakal biasa aja. Ternyata enggak. Tapi gue nggak mau asal ngomong lagi," jawab Rose.

"Bagus," puji Lala. "Semua orang mulai dari reaksi. Bedanya, ada yang berhenti di situ, ada yang lanjut."

Malam terakhir, Rose menulis lagi. Kali ini tulisannya lebih matang dan reflektif. Ia menyadari bahwa berbicara membawa konsekuensi tanggung jawab untuk menelusuri, memperjelas, dan menuntut. Dunia mungkin belum berubah, tapi Rose tak lagi diam. Ia bukan cuma penonton; ia menjadi bagian dari sesuatu yang mulai bergerak.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Salwa Rose Rizalputri
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.