Sejak siang, sendok kayu beradu di atas kuali besar di halaman sebuah rumah di Jorong IX Abam,Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Api menyala besar, asap mengepul, dan aroma manis galamai menguar ke seantero kampung. Di situ warga berkumpul, bergantian mengaduk adonan hingga tangan pegal, dalam suasana yang ramai namun akrab.
Pembuatan galamai aru kali ini dipelopori sebuah keluarga, tetapi melibatkan keluarga besar dan warga sekitar. Prosesnya bisa memakan waktu hingga delapan jam; siapa pun yang menyaksikannya akan paham betapa beratnya pekerjaan itu bila dilakukan sendiri. Karena itulah tradisi ini selalu dikerjakan bersama.
Galamai aru merupakan makanan tradisional Minangkabau yang terbuat dari beras ketan, santan, dan gula aren. Adonannya harus terus diaduk di atas api besar tanpa henti. Banyak tenaga dibutuhkan, dan kesabaran benar-benar diuji. Karena itu, sejak dulu galamai tidak pernah dimasak sendiri, melainkan dikerjakan bersama-sama.
"Sehari sebelumnya kami sudah memberitahu tetangga. Galamai ini tidak bisa dibuat hanya beberapa orang sebab pembuatannya lama dan butuh tenaga banyak," kata Mela, salah seorang anggota keluarga penyelenggara. Pernyataan itu menggambarkan pola gotong royong yang terencana, bukan sekadar spontan.
Nopi, pemuda yang datang memenuhi undangan, merasakan hal yang sama. "Saya diminta membantu, lalu datang. Kalau ramai-ramai, pekerjaan jadi terasa ringan," ujarnya. Di sela adukan yang tak boleh berhenti, obrolan ringan, canda, dan tawa mengisi jeda, menjaga semangat tetap menyala.
Bagi warga Jorong IX Abam, momen membuat galamai bukan hanya soal makanan. Lewat kerja bersama itu, hubungan antarwarga terawat; rasa saling peduli dan solidaritas kembali diteguhkan. Tradisi panjang pembuatan galamai aru tetap menyisakan kehangatan—bukan hanya dari api di bawah kuali, tetapi dari tangan-tangan yang bergandengan dalam kerja bakti
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!