Umum

Mengglobalkan Potensi Sastra(wan) Indonesia

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Kamis, 5 Mei 2011 13:04 WIB • 👁 1.869 Pembaca

Setelah Pramoedya Ananta Toer dan sastrawan angkatan lama mangkat, dunia tidak lagi mengenal sastrawan asal Indonesia. Begitupun dengan karya-karya mereka. Terakhir, novel Saman karya Ayu Utami lah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Setelah itu tidak ada lagi karya anak negeri yang beredar di mancanegara. Nama-nama sastrawan Indonesia juga tenggelam seiring makin menjamurnya karya-karya penulis asing.

Dulunya kita seringkali mendengar lahirnya angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angkatan 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.

Tentunya sebagai sebuah negara dengan jumlah penduduk yang terbesar setelah Amerika Serikat dan India, banyaknya fasilitas jurusan sastra yang hampir ada di setiap perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, serta didukung iklim demokrasi yang memungkinkan sastrawan bekerja bebas, karya sastra rasanya bukanlah hal yang sulit untuk ditemukan. Begitupun dengan satrawan-sastrawan muda. Mereka semestinya lahir bak jamur di musim hujan. Tapi, kenyataannya kita masih sulit mencari karya-karya sastra dan orang-orang yang mau berkecimpung di dunia sastra. Persentasenya ternyata sangat kecil sekali.

Sebenarnya ada persoalan apa dibalik itu? Apakah sastrawan kita memang tidak punya potensi untuk menulis dengan baik, ataukah justru pembaca yang tidak suka dengan karya penulis pribumi. Rasanya tidak benar. Sastrawan kita juga piawai menulis bagus dan layak untuk dikonsumsi publik. Tidak kalah dengan karya-karya penulis asing. Karya penulis pribumi kebanyakan juga laris manis di pasaran. Sebut saja Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang jadi hit di kalangan remaja. Atau Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy yang memberikan suguhan cinta dalam balutan sastra yang menyentuh. Serta thriller Negara Kelima karya E.S Ito yang memberikan gaya baru dalam dunia tulis menulis di Indonesia.Artinya dunia tulis menulis di negeri ini, khususnya di bidang sastra ternyata belum memudar. Masih banyak kesempatan untuk unjuk gigi dan memamerkan potensi sastrawan Indonesia di mancanegara.

Mengapa sastrawan Indonesia minim karya dan popularitas di mata dunia? Dalam pandangan saya, kita tidak minim karya. Justru mungkin sebaliknya, kita kaya akan karya sastra. Tetapi kita belum maksimal dalam memberdayakan potensi setiap elemen yang memungkinkan terjadinya peningkatan popularitas penulis Indonesia. Bisa kita ambil contoh seperti apa konsumsi bacaan publik yang fenomenal dalam beberapa tahun terakhir. Ada kecenderungan perubahan selera. Dulu, orang begitu bangga ketika membaca karya-karya Buya Hamka, NH Dhini, Arswendo Atmowiloto, Mira W, Pramoedya Ananta Toer meski secara sembunyi, dan penulis-penulis lain. Memang belum banyak karya penulis asing yang masuk ke Indonesia waktu itu. Tetapi, karya penulis-penulis ini selain dibaca anak negeri juga dikagumi pembaca-pembaca asing. Bahkan karya-karya mereka beredar luas di mancanegara.

Kecenderungan generasi sekarang dengan platform modernisasi yang menurut mereka luar biasa, menjadikan karya asing best seller di toko-toko buku. Sebut saja serial Harry Potter karya JK Rowling, The Da Vinci Code karya Dan Brown, In The Name of The Rose karya Umberto Eco, The Kite Runner karya Khaled Hossaini, atau baru-baru ini sekuel Twilight karya Stephanie Meyer benar-benar digandrungi kaum muda. Artinya, ada semacam hegemoni tersendiri di tengah masyarakat. Ada prestise yang tinggi jika yang dibaca adalah karya penulis asing. Padahal belum tentu kualitas tulisannya melebihi penulis pribumi. Karena jika kita perhatikan dengan cermat, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, 5 cm karya Donny Dhirgantoro, atau Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi justru memberikan semacam kekuatan jiwa yang mencerminkan kultur budaya yang lebih menarik daripada sekedar thriler semacam Deception Point karya Dan Brown atau Terrorist karya John Updike.

Lalu modernitas seperti apa yang kita ciptakan. Apakah dengan mengkonsumsi karya asing kita bisa disebut modern ? atau istilah lainnya lebih bisa kelihatan berkelas. Saya rasa tidak. Justru dengan terus mengkonsumsi karya asing, geliat pertumbuhan karya lokal akan memudar. Karena jika alasan tadi dikemukakan lagi, saya sendiri sebagai penikmat sastra sangat tidak menerima. Apalagi mereka yang aktif langsung di dunia tersebut. Padahal dukungan langsung dari kita berupa penghargaan terhadap sebuah karya sangat dibutuhkan untuk memotivasi penulis agar terus berkarya.

Mungkin sebagian dari kita masih beranggapan dunia barat adalah patokan sebuah kemajuan. Kita garis bawahi dulu, kemajuan seperti apa pula yang kita maksudkan. Karena di Inggris sendiri, karya sastra baru dikenal di abad pertengahan ketika Geoffrey Chaucher mengenalkan tulisan yang enak dibaca dalam karyanya The Canterburry Tales. Sejak itu lahirlah sastrawan-sastrawan ternama di Eropa semacam Jonathan Swift, William Shakespeire, Antonio Chekov dan lain-lain meramaikan genre ini. Sementara di Timur Tengah sendiri, sastra sudah dikenal jauh sebelum itu dalam sajak-sajak Al-Farabi, Ibnu Sina dan penulis-penulis lainnya.

Banyak cara yang bisa ditempuh untuk kembali menaikkan pamor penulis Indonesia di percaturan dunia tulis menulis. Kepedulian dan apresiasi pembaca terhadap karya penulis pribumi adalah poin pertama yang mesti diingat. Bagaimana kita menyamakan pandangan bahwa karya penulis asing belum tentu yang terbaik. Bisa jadi karya-karya Ayu Utami adalah cerminan lain diri kita bila dimaknai dengan penghayatan lebih.

Dalam sebuah pertemuan para penulis di Bali, Seno Gumira Ajidarma bilang "pendidikan dan kampanye kebudayaan Indonesia itu bukan cuma tari Bali dan gamelan Jawa, melainkan juga sastra Indonesia modern," (Media Indonesia, 25/10). Komentar Seno ini merujuk pada program pemerintah yang terkesan hanya mempromosikan kesenian-kesenian yang menonjol di beberapa daerah saja sebagai kekayaan budaya Indonesia. Padahal sebenarnya cakupan kebudayaan itu luas sekali, termasuk karya sastra.

Pemerintah dituntut berperan lebih mempromosikan karya penulis Indonesia. Transformasi karya menjadi salah satu tugasnya disini. Harus ada satu lembaga atau unit kerja yang bertugas mengalihbahasakan karya-karya penulis pribumi untuk didistribusikan di mancanegara. Seno juga setuju jika pemerintah memfasilitasi wadah penerjemahan karya penulis Indonesia ke dalam bahasa asing. Perimbangan distribusi karya juga diangap perlu. Berapa perbandingan karya asing yang masuk dan karya yang diekspor harus dibagi dengan jelas. Jika tidak, kita harus bersiap untuk tidak menemukan lagi karya penulis pribumi di toko-toko buku.

Peningkatan kualitas karya menjadi tugas utama para penulis untuk ikut kembali mengangkat prestise sastrawan Indonesia di mata dunia. Untuk itu diperlukan penulis-penulis muda handal yang giat dan mau belajar banyak. Tidak untuk mereka yang cepat puas dengan keadaan. Karena memang mengembalikan pamor itu tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil untuk diwujudkan. Dunia pun menunggu ledakan potensi sastrawan Indonesia.


✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Heri Faisal
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.