Salah satu fenomena baru dalam dunia kenegaraan mutakhir adalah munculnya Wikileaks yang dengan mudah dan taktis mampu membobol berbagai dokumen rahasia beberapa penguasa di dunia. Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para pembantunya menjadi ‘kebakaran jenggot’ ketika diberitakan oleh dua media besar The Age dan The Sidney Morning Heralds yang berbasiskan di Australia telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), melindungi para koruptor dan bahkan menganggap ibu negara Ani Yudhoyono adalah tokoh yang sangat berpengaruh di belakang layar keputusan politik penting SBY (www.jakartapress.com).
Berita ini mereka lansir berdasarkan nota kawat diplomatik pemerintah Amerika Serikat yang dibocorkan oleh Wikileaks. Saking kebakaran jenggotnya, seorang pejabat Indonesia berencana akan menuntut Wikileaks. Sementara istana juga melancarkan hujatan kepada kedua koran besar Australia yang melansir berita itu. Yang jelas hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat sempat terganggu. Kelihatannya yang lebih menjadi masalah adalah tentang penyampaian berita tersebut, sementara itu tidak banyak wacana di media baik elektronik dan cetak yang menggali lebih jauh kebenaran isi atau substansi dari berita tersebut.
Yang menarik adalah betapa Wikileaks telah menjadi aktor baru yang penting dan kontroversial dalam wacana publik saat ini. Wikileaks telah membuktikan bahwa di arena dunia maya hampir tidak ada yang rahasia, dan ini merubah secara signifikan konstelasi sosial dan politik. Wikileaks memang terlihat memberikan penekanan dan perhatian kepada bidang politik. Ini terlihat dari slogan atau moto yang digunakannya yaitu ‘we open government’. Jika dilihat tipologi situs yang mereka gunakan adalah tipe arsip dan dokumen dan pembukaannya (disclosure). Situs yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Wikipedia maupun Wikimedia Foundation ini dipimpin oleh Julian Asange, seorang aktivis internet sebagai editor-in-chief dan sekaligus jurubicara dan mulai dilancarkan pada 4 Oktober 2006.
Meskipun tujuan awalnya hanya untuk menampilkan rezim-rezim yang kejam di beberapa belahan dunia, tapi akhirnya juga berminat untuk membuka segala bentuk perilaku menyimpang dari pemerintah-pemerintah dan dunia bisnis di seantero dunia. Pada prinsipnya Wikileaks adalah tempat berkumpulnya para aktivis. Salah seorang diantaranya memiliki server yang digunakan sebagai simpul (hub) yang dinamakan "tor network". Jutaan tranmisi rahasia menggunakan simpul ini. Para hackers yang berhasil menembus situs-situs penting milik pemerintah dan kaum kapitalis global mem-posting dan menggunakan ini sebagai database. Sejauh ini mereka mengklaim telah menerima lebih dari 1 juta dokumen dari 13 negara penting di dunia.
Secara organisasi, Wikileaks berafiliasi dengan The Sunshine Press. Meskipun banyak negara mengutuk pemberitaannya, namun sebagai insan media Wikileaks telah memenangkan beberapa penghargaan seperti Media Award dari The Economist’s tahun 2008 dan UK Media Award dari Amnesty International tahun 2009. Tahun 2010, New York City Daily News menobatkan Wikileaks sebagai website yang "dapat secara total merubah (wajah) pemberitaan" dan Komisi Informasi Inggris menyatakan bahwa "Wikileaks adalah bagian dari fenomena online yang memberdayakan warga negara". Dukungan dari warga juga sangat signifikan, pada saat adanya gugatan terhadap Wikileaks dan Julian Asange, pada hari pertama saja jumlah penandatangan petisi yang membela telah mencapai enam ratus ribu tanda tangan.
Wikileaks telah melakukan apa yang tidak dapat atau hanya dilakukan secara terbatas oleh media-media konvensional. Sebagaimana banyak diketahui publik, media konvensional telah sangat terkooptasi oleh kekuatan-kekuatan tersamar baik itu politisi ataupun pemodal (kapitalis). Dengan demikian Wikileaks sebagai media alternatif telah memperkuat demokrasi dan keterbukaan. Hanya dengan informasi yang lengkap dan akurat-lah wacana publik dapat berlangsung dengan sehat dan berimbang. Betapa banyak selama ini kebijakan-kebijakan pemerintah maupun keputusan dan ekspansi perusahaan multinasional yang tidak memaparkan secara cukup jujur latar pertimbangan yang digunakan sehingga menutup kemungkinan terjadinya deliberasi yang menjadi urat nadi demokrasi. Lebih jauh, tujuan Wikileaks adalah "to ensure that whistleblowers and journalists are not jailed for emailing sensitive or classified documents". Terbukti bahwa di seantero dunia para pihak yang gerah dengan aneka rupa penyalahgunaan kekuasaan yang disebut peniup peluit (whistleblowers) dan para jurnalis konvensional menjadi martir baik dipenjara bahkan dibunuh dalam perjuangannya dengan memberikan informasi ke publik.
Kritik terhadap Wikileaks tentu saja kebanyakan datang dari pihak-pihak yang merasa terganggu kemapanannya dan mengambil keuntungan dari kerahasiaan yang terjadi selama ini. Pemerintah Amerika Serikat mengkritik karena dengan membuka informasi rahasia, Wikileaks telah membahayakan keamanan nasional dan kompromi dalam diplomasi internasional. Beberapa organisasi hak asasi manusia internasional menuntut adanya penghargaan kepada hak asasi manusia. Beberapa dokumen Wikileaks mengumbar nama-nama warga sipil yang bekerja dengan pasukan internasional untuk menghindari tekanan. Ini misalnya ditemukan pada bocoran informasi tentang serangan terhadap Irak tahun 2007 dan perang Afganistan. Rilis ini dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan mereka. Beberapa jurnalis juga mengkhawatirkan tidak adanya kebijakan editorial yang signifikan dari Wikileaks. Ini diperlukan karena Wikileaks telah membuka ribuan dokumen secara masif dan bersamaan tanpa diimbangi dengan analisis yang memadai. Data ini akan menjadi bola liar untuk penafsiran masing-masing pembaca sesuai dengan kepentingannya. Dengan demikian, peran Wikileaks sebagai bagian dari pers diragukan. Banyak yang berpendapat Wikileaks hanya menyediakan layanan dokumen rahasia. Tidak heran telah terjadi juga pencanangan "cyber war" terhadap Wikileaks.
Bagaimanapun, fenomena Wikileaks semakin meyakinkan kita bersama bahwa media atau pers merupakan pilar keempat dalam demokrasi. Jika memandang pemerintah sebagai pihak yang dimananatkan oleh publik untuk menjalankan kekuasaan demi kepentingan publik, maka publik berhak tahu (the right to be informed) tentang dinamika yang terjadi dibalik sebuah tindakan penguasa. Wikileaks dengan segala kontroversi yang mengiringinya telah mengejutkan para pemegang kekuasaan dominan dan menyadari bahwa ada "mata publik" dimana-mana yang senantiasa mengawasi mereka. Kekuasaan memang harus senantiasa dibatasi dominasinya. Informasi memberikan kekuatan kepada publik untuk menilai dan mengambil sikap terhadap sebuah tindakan kekuasaan baik di tingkat internasional, nasional, lokal maupun di ruang-ruang publik yang kita huni sehari-hari. Wikileaks menyediakan layanan itu.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!