Pendidikan

Nilai PKn Dalam Masyarakat Multikultural

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Kamis, 5 Mei 2011 13:42 WIB • 👁 3.976 Pembaca

Mendidik, jika ditilik dari asal katanya berarti memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan, diperlukan adanya ajaran, tuntutan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan menurut Bahasa Yunani, pendidikan berasal dari kata ‘Pedagogi’, yaitu ilmu dan seni mengajar anak. Dalam pendidikan, ada usaha atau proses, selain pendidik, perserta didik, materi, capaian (kognitif, afektif, psikomotor. Jadi pada dasarnya pendidikan adalah usaha atau proses mentransformasikan nilai-nilai pada peserta didik untuk hidup selamat dunia dan akhirat.

Nilai yang dimaksud bukan saja dalam artian soal benar atau salah. Tapi juga soal dikehendaki atau tidak, dan disenangi atau tidak. Nilai juga merupakan kualitas ketentuan yang bermakna bagi kehidupan manusia perorangan, masyarakat, bangsa dan negara. Seperti yang dikatakan Nietzche seorang pakar postmodern, nilai adalah tingkat atau derajat yang diinginkan oleh manusia. Nilai juga merupakan tujuan dari kehendak manusia yang benar dan sering di tata menurut susunan tingkatannya, yaitu dimulai dari bawah; nilai hedonis (kenikmatan), nilai utilitaris (kegunaan), nilai biologis (kemuliaan), nilai diri estetis (keindahan, kecantikan), nilai- nilai pribadi (sosial, baik), dan nilai religius (kesuciaan).

Berdasarkan konsep di atas, bisa dikatakan bahwa semua bentuk pendidikan, baik eksakta, sosial, humaniora, adalah perwarisan nilai-nilai untuk keselamatan dunia akhirat. Pedidikan Matematika misalnya yang mewariskan nilai jelas, tepat, logis, sistematis. Disini anak didik dilatih berhitung 4 + 4 = 8, sehingga akan terlatih bertindak jelas dan tepat sehingga selamat dunia akhirat. Begitu juga dengan pendidikan lainnya yang juga mewariskan nilai-nilai tersendiri untuk keselamatan hidup dunia akhirat. Saat ini yang menjadi pertanyaan besar bagi kita adalah nilai-nilai apa yang akan dikembangkan, diwariskan, dan dididik oleh PKn dalam masyarakat multikultural?

Untuk memaknai kembali akan arti dari pentingnya menghadapi tantangan-tantangan tersebut, maka diperlukan PKn berbasis multikultural. Sebab secara subtantif PKn adalah satu-satunya mata pelajaran yang diamanahkan untuk membentuk karakter siswa sebagai warga negara yang baik. Tantangan yang dihadapi guru PKn tentunya tidak mudah mengingat pembelajaran PKn di Indonesia yang masih pada titik minimal. Sebagaimana yang dikemukakan oleh David Kerr bahwa Citizenship Education pada titik minimal didefinisikan secara sempit, hanya mewadahi aspirasi tertentu, berbentuk pengajaran kewarganegaraan, bersifat formal, terikat oleh isi, berorientasi pada pengetahuan, menitikberatkan pada proses pengajaran, dan hasilnya mudah diukur.

Jika PKn diajarkan hanya sampai pada titik minimal ini, maka akan dikhawatirkan tidak dapat menyentuh pada pewarisan nilai yang diharapkan. Oleh sebab itu, mengapa kita tidak mencoba menata pengajaran PKn sampai pada titik maksimal. David Kerr juga menjelaskan bahwa yang bersifat maksimal ditandai dengan definisi secara luas, mewadahi berbagai aspirasi, dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, kombinasi pendekatan formal dan informal, dilabel ‘citizenship education’, dan menitikberatkan pada partisipasi siswa melalui pencarian isi dan proses interaktif di dalam maupun luar kelas. Sedangkan hasilnya lebih sukar dicapai dan diukur karena kompleksnya hasil belajar.

Selama ini kita melihat dalam pendidikan PKn nilai-nilai yang dikembangkan adalah nilai-nilai yang bersumber dari cara berfikir dialektika yang dicetus oleh Socrates. Nilai itu muncul karena proses berfikir manusia dari akalnya. Sesuatu itu akan dipandang baik dan buruk karena proses pemikiran akal manusia, sehingga melahirkan perilaku dan nilai yang hidup dalam budaya masyarakat. Namun akan kembali berubah dan berganti karena pemikiran akal manusia.

Dalam kondisi inilah, standar nilai yang akan diwariskan akan nampak "abu-abu". Akan saling berbenturan satu dengan yang lainya. Nilai toleransi, kerjasama, gotong royang, kebebasan, persaudaraan akan dimaknai lain oleh individu dan masyarakat. Nilai yang dikembangkan saat ini pada dasarnya merupakan pengaruh pengagungan akal yang dicetus Socrates pada masa Yunani, diadopsi oleh para ilmuwan barat dan berpengaruh pada pemikiran dunia timur (Indonesia). Ini wajar karena kondisi masyarakat barat yang tidak punya wahyu dibandingkan dunia timur yang merupakan tempat turunnya wahyu yang menjadi pedoman agama besar di dunia seperti Islam.

Bagi kita sebagai bangsa Indonesia, yang dijadikan sebagai sumber nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah Pancasila. Ini berarti bahwa seluruh tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara menggunakan Pancasila sebagai dasar moral atau norma dan tolak ukur tentang baik buruk dan benar salahnya sikap, perbuatan, dan tingkah laku bangsa Indonesia.

Nilai-nilai pancasila itu merupakan nilai intrinsik yang kebenarannya dapat dibuktikan secara objektif, serta mengandung kebenaran yang universal. Dengan demikian, tinjauan pancasila berlandaskan pada tuhan, manusia, rakyat, dan adil sehingga nilai-nilai pancasila memiliki sifat objektif. Pancasila dirumuskan oleh para pendiri negara yang memuat nilai- nilai luhur untuk menjadi dasar negara yang secara hirakhi yang tertinggi itu adalah Tuhan. Artinya semua nilai yang dikembangkan harus berdasarkan asas ketuhanan.

Tentu timbul pertanyaan bagi kita, bahwa Tuhan yang kita pahami dalam masyarakat kita yang multikultural bukan Tuhan-nya Islam saja, tetapi masih banyak Tuhan lain menurut agama yang mereka yakini. Untuk itu nilai yang perlu kita warisi pada peserta didik oleh PKn adalah yang bersifat nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis. Nilai dasar berasal dari nilai-nilai kultural atau budaya yang berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri, yaitu yang berakar dari kebudayaan, sesuai dengan UUD 1945 yang mencerminkan hakikat nilai kultural. Nilai instrumental adalah pelaksanaan umum nilai-nilai dasar, biasanya dalam wujud nilai sosial atau norma hukum, yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam lembaga-lembaga yang sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu. Nilai praktis adalah nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan.

Untuk itu yang dilakukan untuk mendidik peserta didik tidak menjejaki anak dengan pelajaran yang terlalu banyak, sehingga mereka menjadi kehilangan selera dan nafsu belajar, bahkan merasa muak dengan semua itu. Banyak diantara mereka dengan anggapan PKn pelajarannya mudah karena hanya menghafal.

Pendidikan harus menerapakan pelajaran sampai anak menguasai materi pelajaran secara tuntas. Dalam mengelola pelajarannya begitu saja berpindah dari satuan pembelajaran satu ke pelajaran berikutnya, harus memperhatikan siswa-siswa yang lamban, kurang memahami, atau bahkan gagal mencapai tujan yang direncanakan. Sehingga tidak dijumpai anak sudah dinyatakan tamat atau lulus tetapi tidak menguasai pelajaran tersebut.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Edi Saputra
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.