"Kebajikan tidaklah datang dari uang. Tapi dari kebajikanlah uang dan hal baik lainnya datang ke pada manusia, baik kepada individu maupun negara. " Pernyataan Socrates ini penting ditanamkan dan dijalani dalam menghadapi berbagai rintangan dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara. Seperti guru yang harus rela dan ikhlas dalam memberikan ilmu kepada anak didiknya. Banyak saat sekarang ini, baik di kalangan guru, pegawai negeri, dan pejabat memakai sistem "kalau ada uang urusan lancar dan jika bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah". Jika sistem ini terus dipakai, maka bangsa kita yang besar ini akan tampak kecil dan keterbelakangan di mata bangsa-bangsa lain dari segi sumber daya manusia.
Pernyataan Socrates di atas tidak lepas dari subjek seorang guru. Mengapa? Jelas sekali sosok seorang guru sangat menentukan perkembangan suatu bangsa. Kerelaan membagi ilmu sangat dituntut dari seorang guru tanpa menimbang apa balasan yang di dapatnya. Padahal yang terlihat saat sekarang ini, masih banyak pihak sekolah yang meminta sumbangan tapi wajib dibayar dengan jumlah yang sudah ditentukan.
Pendidikan di Indonesia sangat mahal. Wajar. Maraknya praktik korupsi pendidikan yang terjadi dilakukan secara berjamaah dan sistemik. Indonesian Corruption Watch (ICW) mengamati kasus-kasus korupsi pendidikan yang makin lama makin marak. Padahal, pasal 31 UUD 1945 mengamanatkan pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara dan pemerintah wajib membiayai kegiatan tersebut. Artinya, bangsa Indonesia telah bertekad untuk memajukan dunia pendidikan. Konsekuensinya, pemerintah wajib memberikan layanan pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat.
Pemerintah pun mengembangkan Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, malah program tersebut dianggap menumpas masyarakat. Nyatanya pungutan uang yang dilarang bagi SD yang menerima dana BOS, ternyata masih terjadi, seperti, uang ujian, uang ekstrakurikuler, uang kebersihan, uang daftar ulang dan uang perpisahan murid, guru dan kepala sekolah. Masih banyak dalih lainnya untuk mencari "uang sampingan" bagi pihak sekolah.
Bayangkan apa jadinya jika kejadian ini terus-terus berkelanjutan? Apakah akan berhasil meningkatkan SDM di negara ini atau malah menghancurkan SDM yang telah kita punya? Tentu belum ada kata terlambat untuk menghentikan semua ini. Kearifan semua pihak sangat dibutuhkan. Jangan jadikan hanya kesejahteraan para guru dikedepankan jika ingin menjadikan negara ini menjadi negara yang memiliki SDM yang memadai. Yakinlah kesejahteraan itu akan datang jika kita telah menyelesaikan kebajikan sebagai penentu masa depan bangsa. Inilah yang patut menjadi pelajaran moral bagi kaum guru saat ini.
Benar juga kata sebagian orang "jika kita ingin menginginkan sesuatu maka tidak akan lepas dari pengorbanan". Saat ini, kebanyakan masyarakat hanya memiliki naluri untuk memuaskan kepentingan pribadi. Untuk itu tekadkan kemerdekaan Indonesia dari keterbelakangan pendidikan. Mengutip pendapat Thomas Alva Edison bahwa kesuksesan adalah buah dari 1% bakat dan 99% kerja keras.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!