Animo dosen untuk meneliti kian meningkat dari tahun ke tahun. Hanya saja masih terkendala dalam pempublikasiannya
Ria Azza, Mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) TM 2007 ini tampak sibuk menyibak buku-buku dan jurnal di rak perpustakaan pusat UNP. Dosen pembimbing memintanya untuk menambah tinjauan pustaka yang belum banyak digunakan di skripsi mahasiswa rata-rata. Muncul pikiran untuk mencari penelitian dosen yang mungkin akan mendukung penelitiannya itu. Namun, lama berkeliling hasilnya pun nihil. "Saya yang tak tahu atau memang tak ada ya," ujarnya bingung, Kamis (9/6).
Pertanyaan ini tak hanya dilontarkan Ria. Beberapa mahasiswa tingkat akhir yang sedang getol-getolnya menyelesaikan skripsi juga dibingungkan dengan keberadaan hasil penelitian dosen. Sofia dan Siska Warman, mahasiswa Kimia dan Geografi TM 2007 ini juga menanyakan hal serupa. "UNP kan banyak memiliki profesor dan dosen yang sangat kompeten, rasanya aneh jika jarang yang meneliti," kata Sofia, Minggu (26/7). Siska pun menambahkan penelitian yang aplikatif tidak dirasakan mahasiswa. "Saya harap penelitian yang dilakukan dosen dapat kami rasakan makna aplikatifnya."
Hasil penelitian dosen yang jarang ditemukan juga dibenarkan oleh ketua Lembaga Penelitian (Lemlit) UNP, Dr. Alwen Bentri, M.Pd. Namun jika dosen tidak meneliti, seketika Alwen menampik hal tersebut. Ia mengungkapkan, animo dosen meneliti terus meningkat dari tahun ke tahun. "Untuk tahun ini saja, sudah 114 judul proposal yang masuk ke Lemlit dan akan diseleksi menjadi 60 judul," ungkapnya, Kamis (26/5). Namun, terkait pempublikasian memang terdapat kendala. Publikasi hasil penelitian dosen berupa jurnal atau buku banyak yang tidak terpantau oleh pihak Lemlit karena dosen banyak yang mempublikasikannya ke lembaga lain. "Ini banyak dilakukan oleh dosen yang mendapatkan dana dari luar." Oleh sebab itu, tiga bulan lalu Lemlit mengirimkan surat ke rektor untuk meminta segala penelitian dosen harus dikoordinasikan ke Lemlit. "Mereka harus meminta legalitas Lemlit terlebih dahulu," tambahnya.
Pengumpulan data penelitian yang di bawah kelola Lemlit pun masih menjadi kendala. "Bahkan ada yang sudah dijemput, namun alasannya lupa," sesal Alwen. Untuk itu, Alwen mengharapkan adanya website penelitian. Masing-masing dosen diberi PIN sehingga bisa mengakses dan meng-upgrade data risetnya. Selain website itu dapat mendeteksi dosen yang meneliti, juga bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa atau masyarakat umum yang membutuhkan data. "Data tersebut bisa di-download sehingga penelitian tersebut termanfaatkan."
Adapun solusi lain yang telah diusahakan Lemlit adalah meminta kepada dosen-dosen UNP untuk mengintegrasikan hasil penelitian ke dalam proses pembelajaran atau mata kuliah dengan cara menjadikannya referensi dalam perkuliahan. Baik itu dari segi metode maupun media. Penelitian yang dilakukan pun ditujukan ke sana. "Namun sayang, hal itu belum diimplementasikan," tambah Alwen.
Kemudian, Alwen menambahkan kurang ditemukannya hasil penelitian dosen adalah karena belum terakreditasinya jurnal hasil penelitian ini. "Dua tahun ini saja hanya satu penelitian yang terakreditasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yaitu penelitian yang lokasinya di Malang." Menurut Alwen, hal ini dikarenakan persaingan yang sangat ketat. "LIPI sebagai lembaga yang mengakreditasi menaikkan semua kriteria seperti segi perwajahan, konten dan lain sebagainya," tutup Alwen.
Penelitian antara Minat dan Dana
Terjadi pengurangan dana penelitian dari dana yang dikelola Lemlit. Lantas, apa yang dilakukan untuk membendung geliat dosen meneliti yang kian meningkat?
Dosen merupakan ujung tombak di dalam pelaksanaan pendidikan di perguruan tinggi dengan fungsi sebagai pendidik dan ilmuwan. Sebagai pendidik yang profesional dan ilmuwan, dosen memiliki tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Itulah cuplikan mukadimah Kode Etik Dosen Universitas Negeri Padang yang diatur dalam tujuh butir pasal. Terkait aturan dosen dalam melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah sebenarnya telah diatur dalam pasal empat.
Tugas ini, menurut ketua Lemlit, Dr. Alwen Bentri, M.Pd., terbukti tidak diabaikan dosen begitu saja. Hal ini terlihat dari animo dosen muda (dosen yang belum menjadi guru besar_red) yang melakukan penelitian di bawah kelola Lemlit meningkat dari tahun ke tahunnya. Untuk tahun ini saja, jelas Alwen, sudah 114 judul proposal yang masuk ke Lemlit dan akan diseleksi menjadi 60 judul yang bisa lanjut ke tahap penelitian. "Tak hanya itu, di fakultas pun juga menyediakan dana untuk penelitian (DIPA) yang kompetisinya tidak seketat di Lemlit." Sebenarnya, hal yang wajar jika dosen giat meneliti di samping kesibukan mengajar mereka yang padat. Karena dengan meneliti, dapat menjanjikan dosen untuk naik pangkat. "Selain penelitian dosen dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan dedikasi terhadap lembaga, itu juga memungkinkan mereka naik pangkat," terang Alwen, Kamis (26/5).
Sayangnya, lanjut Alwen walau animo dosen dalam meneliti tinggi, SDM dosen sebagai peneliti masih kurang. "Di UNP saja hanya sekitar 25 orang yang mampu bercokol dalam penelitian tingkat nasional." Kendati demikian, Lemlit tetap berusaha untuk meningkatkan kualitas tersebut. "Usaha yang dilakukan Lemlit adalah pelatihan tiap tahun tentang metode penelitian dari narasumber yang sudah pakar dari luar."
Selain SDM, dana penelitian di bawah kelola Lemlit juga mengalami penurunan dari universitas. Alwen menjelaskan tahun sebelumnya, ada 100 judul yang dikelola Lemlit namun sekarang hanya 60 judul. "Untuk satu judul itu akan dibiayai Rp. 7.500.000." Menurut Alwen, mungkin 40 lagi disebar ke seluruh fakultas, yaitu lima judul untuk tiap fakultas dan lima sisanya untuk dosen pascasarjana. "Namun, kami tidak tahu pasti atas dasar apa dialihkan pengelolaan kuota tersebut ke fakultas karena Lemlit tidak dilibatkan dalam penetapan anggaran." Walau begitu, dosen bisa mencari dana dari luar seperti Hibah bersaing, Hibah Kompetensi, Dikti, Pemda, Bappeda dan sebagainya.
Memang, masalah dana dalam meneliti hanyalah terkait pengelolaan. Pembantu Rektor II UNP, Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M. Ed., mengatakan kalau dana meneliti mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah ini dikarenakan UNP bekerjasama dengan Deakin University di Australia. "Total dari dana penelitian tahun ini yakni Rp. 150.000.000," tutup Nizwardi, Rabu (22/6) di ruangannya.
Geliat Guru Besar Meneliti
Hanya empat proposal penelitian yang diajukan Guru Besar UNP ke Lemlit dari kuota 10 judul di tahun ini.
"Animo guru besar meneliti memang menurun dari tahun ke tahun," ungkap ketua Lembaga Penelitian UNP, Dr. Alwen Bentri, M.Pd., Kamis (26/5). Dari data judul proposal yang masuk ke Lemlit tahun ini, untuk sepuluh kuota yang tersedia, hanya empat judul yang baru masuk. "Padahal, satu judulnya dibiayai Rp. 15.000.000. Menurutnya, hal ini mungkin dikarenakan kesibukan mereka dalam mengajar dan bisnis sehingga tidak ada waktu lagi dalam meneliti. Namun, walaupun begitu lanjut Alwen, guru besar tentu saja harus melengkapi salah satu Tridharma perguruan tinggi yaitu penelitian.
Dibenarkan guru besar UNP, Prof. Dr. Agustina, M.Hum. Ia mengatakan guru besar sebenarnya memang diwajibkan meneliti. Hal ini dikarenakan, meneliti merupakan salah satu tugas akademik yang harus dijalankan oleh guru besar. Selain itu, tambah Agustina, meneliti juga berhubungan dengan tunjangan yang diterima guru besar. "Kewajiban ini juga dalam bentuk penulisan artikel atau jurnal dalam tiga tahun," jelasnya, Jumat (25/6).
Namun, lanjut Agustina menanggapi animo guru besar meneliti, ia tidak sependapat dengan kepala Lelmit. Menurutnya, animo guru besar untuk melakukan penelitian itu tidak berkurang. "Hanya saja, guru besar tidak lagi mengambil penelitian di tingkat universitas agar bisa memberikan kesempatan bagi yang bukan guru besar untuk meneliti," jelasnya, Jumat (25/6). Kalaupun ada melakukan penelitian di tingkat universitas, lanjut Agustina, sifatnya adalah membimbing peneliti yang bukan guru besar.
Berbeda dengan Agustina, guru besar UNP, Prof. Dr. Gusril, M.Pd., membenarkan berkurangnya animo guru besar dalam meneliti. Hal ini dikarenakan kurangnya penghargaan yang diberikan kepada hasil penelitian dan juga terkendala dana. "Seperti yang terjadi pada saya saat ini, sekarang saya sedang mengajukan permintaan dana penelitian kepada universitas tetapi dari universitas, saya disuruh meminta dana kepada fakultas. Hal ini membuat semangat saya untuk meneliti berkurang," jelas Gusril, Kamis (24/6).
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!