Pendidikan

Internet dalam Pembelajaran

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 6 Agustus 2011 11:47 WIB • 👁 1.927 Pembaca

Sebuah kelas tengah bersiap melaksanakan perkuliahan. Nampak seorang mahasiswa memasang sound system, men-setting laptop, dan menggelar infokus. Beberapa saat kemudian terdengarlah sang dosen memberikan kuliah, kadang menjawab pertanyaan mahasiswanya, sementara slide powerpoint pun beredar di papan tulis. Terlihat mahasiswa yang asyik menikmati perkuliahan. Tapi tahukah anda, bahwa sang dosen sedang berada di Jerman, sedangkan mahasiswanya di tanah air?

Lain waktu, sedang berlangsung kuliah umum, pembicara langsung dari sebuah perusahaan besar. Para mahasiswa sudah diundang dan ditempatkan dalam ruang kuliah umum. Dimulailah perkuliahan yang dinanti-nanti. Ternyata pembicara berada di Jakarta, sementara peserta kuliah berada di Bandung, Jakarta dan tempat lain. Ya, pembicara menggunakan teknologi telekonferens dan peserta tetap menikmati perkuliahan seperti layaknya perkuliahan biasa dengan dosen di depan kelas, yang bisa berdialog, tanya jawab, memberi kuis, bahkan door prize.

Inilah sekelumit terobosan teknologi dalam pembelajaran. Teknologi informasi membawa loncatan hebat (leap frog) dalam pembelajaran dengan suasana pembelajaran yang mustahil kita jumpai sekitar satu dasawarsa yang lalu.

Saat itu, penulis masih merasakan bagaimana susahnya memulai riset skripsi. Literatur harus disusuri ke perpustakaan atau mencari rekanan yang memiliki. Untuk penelusuran, jika literatur tak dijumpai di perpustakaan jurusan, maka pencarian dilanjutkan ke perpustakaan fakultas, lalu ke perpustakaan universitas, perpustakaan fakultas lain, dst. Setelah itu memilah katalog demi katalog, mencari buku tersebut di raknya, dan meminjam literatur untuk beberapa hari yang ditentukan. Akhirnya muncullah internet yang menyebabkan semuanya berubah luar biasa karena segalanya bisa dilakukan di depan komputer dalam kamar. Situs-situs yang relevan seperti Wikipedia telah menghimpun glosari istilah-istilah yang beraneka ragam untuk memudahkan pencarian definisi dari suatu istilah baru, atau kalau mau utuh situs Gigapedia telah menyediakan buku-buku elektronik yang sangat banyak, bahkan tesis dan disertasi lain banyak yang sengaja diunggah di internet.

MIT (Massachusetts Institute of Technology) adalah sebuah universitas spesialis bidang sains teknologi dengan peringkat nomor satu di dunia menurut banyak lembaga pemeringkat universitas. MIT bersanding dengan Universitas Harvard yang terkenal itu. Menjadi mahasiswa di MIT bukan hal yang mudah, maka menikmati duduk di bangku kuliah disana tentu langka.

Sungguh pun begitu, kini semua orang bisa mengikuti perkuliahan di MIT, tanpa harus terdaftar disana, tak perlu membayar SPP dan biaya hidup yang mahal, cukup dilakukan di kamar belajar. Yup, tentu dengan teknologi internet. Karena, MIT World universitas ini menyebarkan video perkuliahan di Youtube dan bisa diakses dimana-mana. MIT World ini bisa dilihat alamat web: mitworld.mit.edu/. DIKTI pun sudah mounting Open Course Ware (MIT- OCW) mirror di http://ocw-mit.dikti.go.id, sehingga akses maupun download materi akan lebih cepat dan hemat. Disini kita bisa mengakses video, catatan kuliah, book chapter, soal ujian dan sebagainya.

Maka trend ke depan, pembelajaran bisa menjadi tanpa batas. Sehingga bisa jadi tak ada lagi beda kuliah disini atau disana, karena teknologi informasi membuat jarak geografis menjadi borderless, dimana mahasiswa dan peneliti bisa bebas berkomunikasi tentang suatu objek, mengirim data, lalu meinginterpretasikan bersama hasilnya kendati mereka dipisahkan oleh benua.

Kita juga perlu berbangga dengan kerja tulus dari para mahasiswa/dosen Indonesia di luar negeri, yang tergabung dalam gerakan 1000 guru untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia. Lagi-lagi dengan fasilitas internet dalam bentuk telekonferensi mereka memberi pelajaran ke sekolah-sekolah di tanah air, sehingga para siswa di daerah dapat menikmati pelajaran dan wawasan dari guru maupun dosen universitas-universitas terkenal di luar negeri. Gerakan 1000 guru juga membuat perpustakaan elektronik yang berisi kumpulan rekaman audio visual (video) kuliah oleh para guru relawan untuk anak-anak level sekolah dasar-menengah. Kumpulan video perkuliahan ini akan dibagi ke daerah-daerah yang kekurangan guru, dan belum terjangkau oleh internet, karenanya tidak terjangkau oleh program kuliah jarak jauh (telekonferensi) 1000 guru. Kuliah bisa tentang pengenalan profesi/keahlian masing-masing, pelajaran-pelajaran dasar untuk level anak SMA, kuliah motivasi, atau hal-hal lain yang dianggap berguna untuk siswa di SMA.

Gerakan 1000 guru ini hendak menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Ya, dengan teknologi internet ini, jarakpun tak menjadi kendala untuk berbuat untuk mencerdaskan bangsa.

Demikian pentingkah bahasa Inggris dalam pendidikan bermedium internet? Iya. Ada tersedia bahan pendidikan tak terbatas seperti dideskripsikan diatas, tapi umumnya dalam bahasa Inggris. Ribuan buku kebanyakan berbahasa Inggris bisa diunduh di internet. Demikian pula video perkuliahan lagi-lagi banyak dalam bahasa Inggris. Jurnal untuk keperluan penelitian, dipublikasikan dalam bahasa Inggris.

Dalam masalah bahasa Inggris ini, ISTE merupakan suatu terobosan penting dengan segala plus minus serta kritik yang sebenarnya wajar karena masih baru. ISTE telah terselenggara di beberapa prodi, masih dimaksudkan untuk pemenuhan kebutuhan guru-guru di sekolah berstandar internasional di Sumbar dan sekitarnya. Tapi ke depan perkuliahan dengan pengantar bahasa Inggris bukanlah jadi hal yang sulit dan dan mahasiswa yang mahir bahasa Inggris adalah hal yang biasa hendaknya. Sehingga setelah kuliah mereka bisa memanfaatkan sumber-sumber berbahasa Inggris yang berseliweran di dunia maya, dan melenggang kerja atau studi ke luar negeri kalau perlu.

Beberapa Negara seperti Pakistan, India, Malaysia, Filipina bahkan beberapa negara Afrika ternyata sudah menggunakan bahasa Inggris di sekolah mereka, bahkan ada yang mulai dari sekolah dasar. Bahasa Inggris sebagai pengantar pembelajaran, bukan sebagai mata pelajaran seperti yang juga sudah diajarkan mulai SMP di Indonesia.

Sungguhpun teknologi informasi ini secara revolusioner mengubah proses pembelajaran dan media pembelajaran, akan tetap tak banyak gunanya apabila pengguna belum menggunakan dengan seharusnya. Alokasi dana jutaan rupiah dari UNP akan sia-sia kalau civitas akademika belum optimal menggunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pembelajaran ini berbasis IT ini. Situs-situs hiburan, koran digital, game, ngobrol berlebihan di jejaring sosial, hendaknya tidak mengalahkan durasi pemakaian dan akses situs pendidikan dan pembelajaran, minimal selama berada di zona hot spot UNP.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Miftahul Khair, S.Si, M.Sc
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (2)

D
Drs. Yardi Salfi, M.Pd

Semoga UNP bisa merujuk ke arah perkuliahan online dengan tidak meninggalkan ranah Budaya Minangkabau dan Nusantara. Diharapkan UNP juga bisa menjadi pioner bagi pengembangan & relevansi pembelajaran. Selanjutnya, UNP diharapkan memonitor perkembangan pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah, tidak hanya sekedar cetak sarjana. Semoga 

D
Drs. Yardi Salfi, M.Pd

Setelah nama IKIP dan era OPSPEK berakhir, Budaya di UNP mulai berubah. Kalau penguasaan "cognitive" mgkn tidak diragukan lagi. Namun jadi "guru" butuh "penguasaan" yang terintegrasi pada kepribadian "calon guru". Dulu IKIP beda dengan UNAND, nampak dari penampilan dan kepribadian mahasiswanya. Apakah yang sudah bagus sewaktu nama IKIP bisa kita pakai lagi sesuai dengan perkembangan zaman ? Barangkali, kampus tercinta IKIP/UNP akan punya seribu jawaban, bagaimana dengan usaha ke arah itu. Ditunggu di sekolah guru-guru yang mumpuni, tidak hanya "certified teacher" 

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.