Kolom

Beriman Berkarakter

Dosen & Akademisi
📅 Minggu, 2 Oktober 2011 00:30 WIB • 👁 1.720 Pembaca

Dewasa ini kita seringkali mendengar kata karakter. Bahkan dalam dunia pendidikan, saking pentingnya karakter tersebut, kini mulai digalakkan pendidikan karakter yang proses pembelajarannya mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi. Tentu saja dengan harapan agar lahir peserta didik atau lulusan yang memiliki karakter. Satu hal yang menjadi pertanyaan kita, apakah pendidikan kita sebegitu parahnya sehingga perlu memberikan pendidikan karakter. Ataukah kita sudah tidak lagi memperdulikan karakter yang menjadi modal dasar kita sebagai manusia?

Karakter menurut konsep yang berkembang adalah suatu sifat, pembawaan baik yang melekat pada diri seseorang yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan nilai moral yang dianut masyarakat. Pakar Pendidikan UNP, Prof. Prayitno, bahkan tidak hanya mengidentikkan karakter saja, melainkan karakter cerdas. Manusia dikatakan memiliki karakter cerdas jika dia mengembangkan intelektual dan sosialnya.

Kembali ke pertanyaan yang pertama, apakah kita memang tidak berkarakter sehingga konsep pendidikan itu sekarang kembali digaungkan dalam dunia pendidikan? Karakter itu kini menjadi isu sentral dan strategis. Bahkan Menurut Presiden SBY, pendidikan karakter sangat menentukan kemajuan peradaban bangsa, yang tak hanya unggul tapi juga cerdas. Mengutip filsuf Yunani Aristoteles, SBY mengatakan bahwa ada dua penentu kemajuan bangsa, yaitu pemikiran dan karakter. Saking pentingnya, karakter juga menjadi tema Hari Pendidikan Nasional tahun 2011 ini. Hal ini sangat terkait dalam proses pendidikan yang berlangsung selama ini. Tentu saja karakter mutlak tanggung jawab kita sebagai pendidik, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Jika dirunut lebih jauh, konsep karakter itu sebenarnya sudah ada sejak zaman pendidikan mulai dibicarakan. Bahkan Ki Hajar Dewantara juga berbicara bahwa karakter juga menjadi satu bagian terpenting dalam proses pendidikan, khususnya sebagai dasar untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi ini bukan merupakan isu yang baru. Namun hal ini digaungkan kembali setelah melihat sejumlah fenomena yang terjadi di lapangan yang menunjukkan bahwa karakter seakan diabaikan. Kita bisa lihat fenomena umum, betapa kedisiplinan, kejujuran, komitmen yang diharapkan menjadi suatu karakter bangsa ini menjadi satu hal yang langka saat ini.

Tapi yang harus kita fikirkan adalah bahwa seseorang yang beriman itu pasti berkarakter. Hal tersebut cukup logis mengingat bahwa orang yang meyakini dan percaya pada Tuhannya tentu akan melakukan hal-hal terbaik selalu dalam hidupnya. Beriman dan berkarakter itu sebenarnya gampang, cuma perlu butuh komitmen saja untuk menerapkannya. Orang yang percaya Tuhannya selalu mengawasinya selalu takut dan berusaha untuk tidak berbuat dosa. Jika sudah demikian tentu karakter itu sudah tertanam dalam dirinya. Gampang kan?

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Abna Hidayati, S.Pd, M.Pd
Penulis • Kolumnis / Opini

Dosen & Akademisi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 8 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.