Metode pembelajaran konvensional yang sering digunakan guru sering mengabaikan evaluasi saat proses pembelajaran sedang berlangsung (evaluasi proses). Padahal evaluasi pembelajaran harus dilakukan untuk mengetahui ketercapaian pemahaman konsep dari materi yang dijelaskan guru. Biasanya guru memberikan penilaian berdasarkan hasil nilai akhir siswa, yaitu dari nilai Ujian Tengah Semester dan Ujian Semester saja. Bisa dibayangkan apabila tak ada evaluasi dilaksanakan maka tentu saja pemberian evaluasi yang dilaksanakan oleh guru hanya asal jadi dan tidak memiliki pegangan yang kuat
Dalam dunia pendidikan tentu saja mengenal yang namanya evaluasi, Evaluasi ini haruslah dilakukan oleh seorang pendidik. Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi pelajaran yang diajarkan sudah tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Namun, Akhir-akhir ini kalau diteliti di lapangan, banyak guru ataupun tenaga pendidik yang mengalami kegagalan dalam melaksanakan evaluasi. Adanya evaluasi yang tidak sesuai dengan sistemnya ini akan banyak memberikan dampak bagi guru dan anak didik tentunya.
Menurut Drs. Moh. Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Profesional dijelaskan bahwa tujuan penilaian adalah untuk mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, ketepatan metode yang digunakan, kedudukan siswa atau anak didik di dalam kelompok ataupun di kelas, dan untuk mengaklasifikasikan seorang siswa apakah termasuk dalam kelompok yang pandai, sedang, kurang atau cukup baik dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya.
‘Sistem kebut semalam’ merupakan istilah yang familiar di telinga pelajar saat ini. System ini merupakan efek dari pola evaluasi yang hanya diberikan pada tes akhir saja. Sehingga pada memori siswa telah tertanam persepsi bahwa belajar hanya dilakukan jika akan ujian saja. Siswa tidak mengerti proses pembelajaran yang sesungguhnya. Jadi sepertinya mereka ke sekolah bukan untuk belajar, hanya sekedar sebuah rutinitas dan belajar adalah dua atau satu kali dalam enam bulan (saat US dan UTS)
Selain berdampak buruk terhadap mental siswa, evaluasi yang tidak secara keseluruhan juga berdampak terhadap kualitas seorang guru. Profesi guru sekarang dianggap profesi yang mudahh dan bernilai jual tinggi. Ia hanya ke sekolah mengajar sampai sore dan tidak memikirkan hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran di rumah. Sedangkan perangkat pembelajaran hanya dibuat untuk kenaikan pangkat, atau ada inspeksi dari supervisor. Itupun terkadang juga di-copy paste dari perangkat guru-guru lain.
Padahal guru seharusnya memang diberi penghargaan tinggi karena pekerjaannya yang susah. Ia tidak sekedar dating mengajar selama jam pelajarannya saja, melainkan juga merencanakan pembelajaran serta evaluasinya di luar jam mengajar. Sehingga proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan rencana dan terukur dengan adanya evaluasi di setiap akhir pertemuan pembelajaran.
Selain itu, hal ini juga mengakibatkan ketidakadilan guru dalam pemberian nilai bagi pelajar, karena guru hanya menilai tes akhir pelajaran tanpa memperhatikan dan menilai dalam proses pembelajaran. Selain itu, tentu saja mengakibatkan guru menjadi malas dan tidak memiliki persiapan dalam pelaksanaan pembelajaran. Padahal sebenarnya seorang guru haruslah menyiapkan rencana pembelajarannya dan juga harus dikontrol oleh kepala sekolah sebagai pihak internal dan pengawas sebagai pihak luar yang mengamati perkembangan proses pembelajaran.
Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar, pendidik hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh anak didik dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan feed back (umpan balik) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus dapat ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.
Pada hakikatnya, kegiatan penilaian yang dilakukan tidak semata-mata untuk menilai hasil belajar siswa saja, melainkan juga berbagai factor yang lain, antara lain kegiatan pengajaran yang dilakukan itu sendiri. Artinya, berdasarkan informasi yang diperoleh dapat pula dipergunakan sebagai umpan baik penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan (Burhan Nurgiyantoro, 2001: 4)
Dengan menelaah pencapaian tujuan pengajaran atau evaluasi, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. Jadi, jelaslah bahwa guru atau pendidik hendaknya mampu dan terampil melaksanakan penilaian, karena dengan penilaian atau evaluasi, guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh anak didiknya setelah ia melaksanakan proses belajar bukan hanya dinilai dari tes akhir saja.
Dengan mengadakan evaluasi sebagai guru dapat mengetahui kelemahan-kelemahan atau kekurangannya dalan menyampaikan materi pelajaran. Sehingga ia dapat menata kembali atau menggunakan strategi baru dalam proses pembelajaran sehingga akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Di dalam telaah teori dan berdasarkan pendapat para ahli, telah mencantumkan tujuan serta manfaat evaluasi di akhir pelajaran. Selain menilai hasil belajar murid, evaluasi juga menilai hasil mengajar guru dengan kata lain, guru dapat menilai dirinya sendiri dimana kekurangan dan kelemahannya dalam mengajar, sehingga memperoleh hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Seharusnya guru harus melakukan evaluasi dalam setiap proses pembelajarannya sehingga evaluasi dapat berjalan dengan baik dan terukur, bukan sekedar ilusi.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!