Pemimpin adalah pelayan. Sementara, setiap manusia adalah pemimpin, pemimpin bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Tak salah, bila dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat, manusia harus hidup untuk melayani dalam artian yang lebih luas, baik secara internal maupun ekternal. Sewaktu seseorang meneriakkan tangis pertamanya ke atas dunia, saat itulah ia mulai diembankan amanah untuk memimpin. Saat ia bertambah besar, bertambah luas pula cakupan wilayah kepemimpinannya. Itu merupakan fitrah hidup.
Menjadi seorang pemimpin bisa jadi impian semua orang. Pada awalnya, seseorang memasang target menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, amanah, dan dapat memberikan yang terbaik. Namun, karena keenakanmenjadi yang ditunduki, dianggap hebat, dibutuhkan, dan ditakuti, rencana-rencana itu perlahan menguap dan benih-benih ingin menguasai diam-diam tumbuh. Ia menjadi gila hormat serta tak peduli dengan orang lain. Sehingga orang yang pada mulanya baik-baik saja, bisa jadi lupa daratan ketika menjadi pemimpin. Sebab, hati begitu mudahnya terbolak-balikkan oleh nafsu.
Padahal, saat dijatuhkan keputusan menjadi pemimpin, detik itu pula ia harus menghambakan dirinya kepada orang yang ia pimpin. Ia harus menjadi pelayan bagi orang lain. Ia mau tak mau, suka tak suka harus ikut aturan bahwa pemimpin adalah perpanjangan tangan kepada pemimpin yang lebih tinggi dan tempat meminta pertolongan serta perlindungan.
Pemimpin adalah hak dan kewajiban di sisi lain. Ia berhak memimpin. Juga wajib memimpin. Seorang pemimpin mesti sabar, ikhlas, murah senyum meski bosan menghadapi tingkah pola bawahan yang kadang tidak mengerti betapa mumet-nya menjadi pemimpin. Pemimpin adalah perkara mengendalikan diri sendiri dan orang lain. Bila mengendalikan diri sendiri saja ia tidak mampu, bagaimana mungkin ia bisa menguasai orang lain.
Tak perlu jauh-jauh bila harus mengambil pemisalan, entah itu presiden dan para pejabat. Di lingkungan kampus, lembaga tempat orang-orang berpendidikan tinggi saling berinteraksi, banyak sekali rona-rona kepemimpinan yang bisa dicermati. Rektor tentunya memimpin keseluruhan isi kampus, Pembantu Rektor, Kepala Bidang, Dosen, Pegawai-Pegawai kampus, semuanya adalah pemimpin. Mahasiswalah muara dari semua itu karena mahasiswa membutuhkan pertolongan, perlindungan, pelayanan dan kenyamanan ketika berada di kampus. Namun, apa yang terjadi, bila sebagian oknum tak bisa memainkan peran kepemimpinannya dengan baik, dalam artian, ia tak dapat melayani mahasiswa sesuai dengan hak-haknya. Pemimpin menjadi tidak berharga, tidak dihormati dan kadang-kadang mendapat kecaman, umpatan dan kata-kata tidak menyenangkan, meskipun tidak disampaikan secara terang-terangan. Bisa dibayangkan, bila puluhan ribu mahasiswa mengumpati salah seorang pemimpin di lingkungan kampus. Berapa besar pundi-pundi dosa akan terkumpul karena pemimpin yang tidak mampu bertanggung jawab kepada tugas kepemimpinannya?
Pemimpin setidaknya harus mampu memimpin dirinya dulu. Bila ia tak mampu mengendalikan nafsu kepemimpinannya, maka ia tak layak menjadi pemimpin bagi orang lain. Tak mudah memang menjadi pemimpin, tak enak menjadi pelayan. Tapi, bukan tidak mungkin ada orang yang benar-benar mau menghambakan dirinya untuk kemaslahatan orang banyak. Seseorang yang mau meluangkan waktu lebih banyak untuk orang lain daripada diri sendiri. Bila sudah memutuskan untuk menjadi pemimpin, maka bersiap-siaplah menjadi pelayan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!