Kolom

Berbahasa Inggris Tidak Nasionalis (?)

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 20 Maret 2012 10:47 WIB • 👁 1.919 Pembaca

Dalam tatanan kehidupan global, tidak bisa dipungkiri, penggunaan bahasa Inggris lebih mendominasi dalam perkembangan informasi, komunikasi, dan IPTEK. Bahasa Inggris yang diakui sebagai bahasa resmi dunia, mau tak mau harus digunakan oleh masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia, bila tak ingin ketinggalan informasi yang disiarkan oleh Negara-negara maju pengguna bahasa Inggris. Pengaruh globalisasi adalah salah satu alasan mengapa bahasa Inggris itu penting. Khusus untuk Indonesia, letak geografis Nusantara yang strategis juga menjadi

Bahasa, sebenarnya bukan lagi ukuran seseorang untuk mencintai negaranya apalagi ukuran untuk mempertahankan kedaulatan negaranya (nasionalisme). Banyak yang harus ditakdirkan berada di luar negeri, tapi belum tentu didalam dirinya melupakan bangsa aslinya. Mayoritas public figure dan juga para pejabat negara sering terdengar menyelipkan Bahasa Inggris dalam liputan pemberitaannya di media televisi. Tak luput juga para remaja, yang memang lebih dominan menggunakan bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Jika dikaitkan kembali dengan pernyataan bahwa yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dianggap tidak nasionalis, bagaimana dengan masyarakat-masyarakat yang masih terbelakang. Masyarakat pelosok yang karena kurangnya pendidikan tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan lebih nyaman menggunakan bahasa daerah masing-masing, apa mereka juga dianggap tidak nasionalis?

Bahasa Indonesia, bahasa yang lahir 28 oktober 1928 silam, tidak dapat dipungkiri merupakan suatu kebanggan atas semangat pemuda. Untuk dapat menyatukan beragam suku, etnik, dan budaya maka lahirlah kesatuan "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia". Namun, menyangkut-pautkan ketidak-nasionalisan seseorang karena tidak menggunakan bahasa Indonesia sepertinya dangkal sekali. Seseorang yang berbahasa Indonesia dengan fasih belum tentu punya nasionalisme yang tinggi terhadap identitas negaranya.

Para founding father tentu tidak menginginkan bangsa yang mereka perjuangkan terbelakang dalam hal kemajuan IPTEK. Mereka juga tentu tidak menuntut perjuangannya "didiamkan" dan hanya dirayakan ketika tanggal 17 Agustus saja. Perlu tindakan dinamis untuk perubahan. Tuntutan global memaksa setiap orang untuk mampu bertindak kreatif, dinamis, dan tentu sebuah bangsa yang ingin maju harus mampu menerima perkembangan baru. Dengan proses yang disebut filtrasi kebudayaan, di mana setiap "pembaharuan" yang masuk harus disesuaikan dengan budaya asli, dan tanpa menghilangkan kebudayaan asli tersebut.

Nasionalisme seharusnya bukan lagi permasalahan teritorial, dimana sesorang yang jauh dari Indonesia yang harus berbahasa Inggris dianggap tidak nasionalis. Nasionalisme adalah permasalahn pribadi masing-masing. Ia tidak bisa dipaksakan dan juga belum tentu tampak. Hal-hal kecil seperti halnya berkarya dengan jujur, tanpa harus takut dinilai tidak nasionalis adalah wujudnya. Jadi, tidak perlu repot menilai kadar nasionalis seseorang melalui konsep-konsep jadul.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Ariyanti
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (1)

D
d59

saya sih setuju dengan pendapat " semua kembali pada diri sendiri..", mmmmmmm cukup reasonable kan belajar bahasa inggris tanpa harus dihakimi nasionalis atau nggak......zaman sekarang nggak bisa ngomong inggris....." APA KATA DUNIA ????" KEKEKEKEKEKEKEKEKEKEKE....LOL 

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.