Ensiklopedia

M.Jusuf; Kisah Hidup Saksi Terakhir Supersemar

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 15 Mei 2012 20:38 WIB • 👁 4.027 Pembaca

Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) merupakan salah satu sejarahIndonesia yang hingga kini masih belum diketahui kebenarannya. Surat yang berisi perintah penginstruksian untuk mengatasi masalah keamanan setelah peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI), ternyata menjadi titik awal lengsernya kepresidenan Soekarno.

Siapa orang yang berada dibalik peristiwa Supersemar ini? Menurut seorang saksi, Sukardjo Wilardjito yang merupakan mantan pengawal Presiden Soekarno, ada empat orang jenderal yang menghadap kepada Soekarno saat itu, bukan hanya tiga −M. Panggabean, Amir Machmud dan Basuki Rachmat, tetapi juga ada M. Jusuf. Diantara keempat saksi tersebut, M. Jusuf lah orang terakhir yang bertahan hidup. Namun hingga akhir hayatnya, ketika ditanya mengenai kebenaran Supersemar ini, Jusuf hanya menjawab dengan senyuman. Ia tidak mau menjelaskannya. Ini menyebabkan kasus Supersemar tidak terungkap hingga hari ini. Seperti apakah pribadi dari M. Jusuf itu sendiri?

Andi Muhammad Jusuf Amir, salah seorang jenderal terbaik yang dimiliki oleh negara Indonesia. Ia lahir di Kayuara, Bone Selatan, 23 Juni 1928. Tidak banyak tulisan yang bisa mengungkapkan pria Bugis yang satu ini. Masalahnya, ia sendiri selalu menolak untuk ditulis. Sikap ini diperteguh oleh kenyataan, M. Jusuf bukan tipe orang yang dengan mudah mengumbar cerita. Ia amat pelit dalam mengungkap sesuatu kepada publik, apalagi yang berkaitan dengan dirinya. Maka, sosok sejati M. Jusuf hanya bisa dipahami melalui penuturan orang ke orang yang kebetulan pernah dekat dan bekerjasama dengan dirinya.

M. Jusuf memiliki prinsip yang mengutamakan kejujuran dalam hidupnya. Jusuf yakin bahwa orang yang berwibawa merupakan orang-orang yang bebas mengambil keputusan. Pemimpin yang bebas mengambil keputusan merupakan pemimpin yang berwibawa. Bagi kebanyakan orang, Jusuf terkesan memiliki sikap tertutup dan seakan memiliki wilayah kelabu. Kesan ini lahir karena Jusuf tidak suka untuk merepotkan orang lain. Jusuf bukanlah orang yang akan bersenang-senang di atas kesedihan atau kesusahan orang lain. Ia juga bukan orang yang suka ber-euphoria atas sebuh kejadian yang melibatkan orang lain. Oleh karena itu, kejadian yang melibatkan Jusuf dan orang lain akan sulit dibeberkan dan akan menjadi kejadian yang misterius.

Jusuf dikenang sebagai seorang pemimpin yang amat jujur dan sederhana, watak yang jarang dimiliki oleh pemimpin yang lain. Kesederhanaannya berbanding lurus dengan kejujurannya. Meskipun beberapa dekade ia menjadi petinggi di Republik Indonesia, kehidupannya sebagai Jusuf yang biasa dengan seorang Jusuf sebagai petinggi tetap sama. Benda-benda atau peralatan yang digunakannya sehari-hari, amat jauh dari kesan kenikmatan sesaat (glamour). Dalam perspektif ini, M. Jusuf teguh memegang prinsip kepemimpinan Bugis, seorang pemimpin yang berwibawa harus pemimpin yang berwatak malempu (lurus atau jujur).

Disamping menjadi pemimpin yang jujur dan sederhana, M. Jusuf merupakan pimpinan TNI yang sangat memperhatikan nasib prajurit dan peralatan-peralatan yang ada di TNI. Di era kepemimpinannya, pembelian peralatan TNI dilakukan secara besar-besaran. Kemudian, di saat menjadi Menhankam/Panglima TNI, M. Jusuf memperbaharui peralatan-peralatan yang dimiliki oleh TNI. Salah satu diantaranya adalah pesawat Hercules, pesawat yang juga menjadi pesawat terakhir yang mengantarnya dari Jakarta ke Makassar, dengan tubuh rapuh sebelum akhirnya pergi untuk selamanya.

Kini, Jendral yang diidolakan bangsa itu, khususnya prajurit dan perwira TNI, terbaring tenang. Jusuf meninggal pada 8 September 2004 di daerah kelahirannya, Makassar. Usia tua dan tubuh yang sudah rentan dengan penyakit membuatnya tidak mampu lagi membendung penyakit-penyakit yang telah melilit tubuhnya itu. Kepergian Jenderal ini tentu amat berbekas di kalangan TNI, sebab M. Jusuf adalah pimpinan TNI yang amat memperhatikan nasib para prajuritnya. Jefri Rajif (dari berbagai sumber)

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Jefri Rajif
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.