Politik

Politik Substansial

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 15 Mei 2012 21:05 WIB • 👁 4.966 Pembaca

Politik, bagi sebagian kalangan menjadi momok yang tak berkesudahan. Mereka alergi bersentuhan dengan masalah politik, takut menjadi korban politik, tak mau menjadi kambing hitam hiruk pikuk politik, dan mereka sebenarnya tak sudi menjadi penonton pesta pora politik yang diperagakan para politikus di negeri ini. Dalam benak mereka, politik itu "kotor," sangat kejam, dan selalu mengancam. Bayang-bayang keseraman politik tersebut didukung pula oleh sebuah jargon yang begitu popular bahwa dalam dunia politik tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Politik semata-mata hanya bagaimana merebut kekuasaan dengan segala cara dan mempertahankan kekuasaan sekuat-kuatnya juga dengan menghalalkan semua cara.

Di negeri ini dunia politik adalah dunia hedonis, penuh dengan sensasi-sensasi selebrasi. Busyro Muqoddas, mantan Ketua KPK pernah menyebut politikus di DPR dengan sebutan "orang-orang tidak jelas" artinya tidak jelas pola pikir dan pola perilakunya. Di tengah masyarakat yang terhimpit masalah kemiskinan, para politikus, justru memperlihatkan gaya hidup yang berlebihan (mewah). Di tengah begitu banyak persoalan publik yang harus dipecahkan, para politikus sibuk mengurusi kepentingan-kepentingan golongan mereka hanya demi mempertahankan kekuasaan. Mereka tidak sadar ulah perilaku seperti itu banyak golongan masyarakat yang terpinggirkan, menderika dan menjadi korban bahkan sengaja dikorbankan.

Lebih baik tidak berpolitik (apolitik/anti politik). Rasanya tidak berlebihan bila berpandangan dan bersikap demikian. Kemuakan, ketakutan, dan ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap realitas politik praktis saat ini cukup beralasan. Betapa tidak, panggung politik dewasa ini jelas-jelas mempertontonkan perilaku politik kotor para aktor politik secara tidak etis. Maraknya kasus-kasus korupsi mulai dari kelas teri sampai kelas kakap mengundang Prof Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah berargumen bahwa negeri ini sedang dipimpin dan dikelilingi para garong/maling, politik hujat-menghujat(Black Campaign), memarginalkan sebagian kelompok, membunuh karakter, mengorbankan teman sejawat, penyalahgunaan kewenangan, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, menguntungkan sebagian golongan, dan dengan sengaja membuat rugi sekelompok yang lain, bahkan tega membunuh jika ada yang dianggap menghalangi tujuan politik. Semua itu kiranya cukup membuat kesimpulan politik bahwa itu memang "hitam" di Negeri ini.

Gara-gara politik, mudah saja terjadi yang tadinya teman tekat, sahabat, kawan salapiak sakatiduran, teman seperjuangan dan se-iya dan se-kata bisa dengan seketika menjadi musuh bebuyutan, tempat melampiaskan dendam kesumat. Contoh, Nazaruddin politikus partai Demokrat yang kini menjadi tersangka mega korupsi wisma atlit. Dulu, sebelum tersandung kasus wisma atlit, Nazaruddin adalah teman dekat Anas Urbaningrum. Namun saat ini, Nazaruddin begitu jelas memperlihatkan kebencian, rasa dendam yang membara, dan kemarahan yang begitu besar kepada sosok Anas.

Pertanyaanya adalah separah itukah politik, benarkah politik itu kotor dan kejam, sesuaikah pilihan kita menjadi seorang apolitik (anti politik) padahal pada hakekatnya manusia adalah zoon politikon, makluk yang memiliki fitrah politik. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan betapa politik secara substansial itu memiliki makna dan nilai yang sangat luhur dalam kehidupan bermasyarakat.

Frans Magnis Suseno, seorang guru besar filsafat politik pernah menyatakan, politik itu sebenarnya tidak kotor. Politik adalah konsensus bermartabat yang dibentuk untuk mengatur masyarakat dengan suatu cara tertentu demi mencapai kebaikan bagi sebanyak-banyaknya orang. Dengan begitu, politik adalah sebuah institusi kebudayaan yang sejatinya bersih dan mulia. Politik sarat akan nilai-nilai luhur. Sejumlah nilai yang dimaksud antara lain merujuk pada pandangan Harold Lasswell (Budiharjo:2003) yang merinci delapan nilai, yaitu; Kekuasaan, Pendidikan/penerangan (enlightenment), Kekayaan (Wealth), Kesehatan (well-being), Keterampilan (skill), kasih sayang (affection), Kejujuran (rectitude), dan Respek (respect). Nilai-nilai itulah yang akan dialokasikan secara merata kepada masyarakat dengan legal, rasional dan dilandasi oleh prinsip moral.

Musuh terbesar politik adalah nihilisme atau absennya fondasi (Adian:2010). Politik, sejak zaman Yunani Kuno, selalu ditegakkan di atas sebongkah fondasi yang solid dan kokoh, yaitu: moral, rasionalitas, individualisme, atau Tuhan. Aristoteles misalnya, memandang politik sebagai asosiasi atau komunitas manusia yang bertujuan untuk kebaikan utama (highest good). Politik adalah manifestasi hasrat manusia untuk hidup berkeutamaan dalam sebuah kolektifitas. Layaknya keluarga dan kampung, politik politik bukan sekedar buatan, melainkan hadir secara alamiah.

Filsuf Rousseau juga menyandarkan politik pada moralitas, yang ia sebut dengan kehendak umum. Sementara Marx pun setali tiga uang dengan fondasionalisme politik dua filsuf tadi. Kritik Marx terhadap kapitalisme sesungguhnya adalah kritik terhadap politik yang disandera oleh kepentingan ekonomi para majikan. Demikian sebenarnya politik. Dia dibangun di atas prinsip moral yang mengandung nilai-nilai luhur, politik juga dibangun berdasarkan prinsip rasionalisme. Rasional artinya jauh dari kejahatan, disharmoni, kepentingan golongan.

Prinsip lain dari politik adalah Tuhan. Ruang lingkup politik tidak saja berkutat pada hubungan antar manusia saja namun secara vertikal pertanggungjawaban politik erat hubungannya dengan eksistensi sang Khalik. Dari sang Khalik (pencipta) lah adanya makhluk dan dari makhluk berkembang menjadi masyarakat yang berbangsa dan bernegara yang di dalamnya bersileweran aktivitas dan praktek politik tersebut dan pada ujungnya kembali lagi semua ke sang khalik sebagai pemilik alam semesta dengan segala isinya.

Di Indonesia, implementasi tiga fondasi politik itu sebenarnya telah dirumuskan secara lengkap oleh seorang intelektual politik yang cukup mumpuni yaitu Prof.Dr.Amin Rais yang dikenal dengan pemikiran politik adiluhungnya (high politics). Dalam pandangan Amin, politik adiluhung adalah politik yang luhur berdimensi moral dan etis. Amar Ma`ruf Nahi Munkar menjadi sendi utama dari high politics. Gagasan politik adiluhung Amin Rais ini ingin melandasi setiap aktivitas yang bernuasa politik dengan etika pemahaman keagamaan yang luhur itu. Internalisasi ide dan prinsip politik adiluhung inilah yang mestinya dapat diaktualisasikan oleh para praktisi politik dan dikembangkan juga oleh institusi politik untuk menafikan semua problema yang mengatakan politik itu nista.

Politik menjadi kotor karena anti fondasionalisme. Saat ini, itulah yang terjadi. Makna politik secara substansial berseberangan dengan politik secara nyata/riil. Praktek politik seakan lepas dari bungkus idealitas yang sebenarnya. Politik akhirnya menjadi kambing hitam segala kebobrokan praktek politik yang tak berfondasi. Oleh sebab itu, ketika banyak orang menjerit dengan fakta politik yang ada, sedianya pemahaman tentang politik secara substansial ini akan bisa sedikit banyak menggeser prasangka buruk tentang politik. Kalau ingin menemukan politik yang bersih maka dari sekarang berpolitiklah dengan prinsip yang kuat sesuai dengan cita-cita politik yang luhur.

Berpolitiklah karena manusia adalah makhluk politik, sebagai generasi penerus sudah saatnya mahasiswa menjadi garda terdepan untuk melakukan perubahan pola perilaku politik elit hari ini, sehingga image politik yang kotor akan bersih sebersih bayi yang baru lahir ke bumi.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Adil Mubarak, S. IP, M. Si
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.