Refleksi

Harapan Pada UNP Baru

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 17 September 2012 13:54 WIB • 👁 1.413 Pembaca

Setelah serentetan suksesi hampir di seluruh posisi kepemimpinan, maka UNP pada 2012 tampil dengan wajah baru. Wajah baru sudah pasti melahirkan serangkaian harapan baru untuk UNP yang lebih baik. Memang, tidak gampang menetapkan indikator kemajuan sebuah lembaga seperti UNP. Namun, secara umum, bisa dihipotesiskan bahwa UNP ke depan mestilah UNP yang mampu menyesuaikan diri dengan tantangan zamannya, dan memiliki nilai lebih yang mumpuni, yang membuat UNP tetap eksis sebagai sebuah perguruan tinggi ex-LPTK.

Tantangan terbesar adalah semakin menguatnya tuntutan masyarakat agar lembaga Perguruan Tinggi bisa menjadi kawah candradimuka perbaikan bangsa. Kita semua tahu, Indonesia pada 2012 kerap dicap dunia internasional sebagai negara gagal. Berbagai fakta dibeberkan. Semuanya secara meyakinkan mendukung betapa semakin bobroknya segala sendi kehidupan kita. Kita tidak akan berdebat kusir mengenai ini. Yang jelas, kita semua (baik sebagai warga negara maupun sebagai warga UNP) memang mesti berbenah dan terus memperbaiki diri.

Reformasi pertama hendaknya dimulai dari yang paling tidak kasat mata, yaitu moral dan karakter. Para pakar pendidikan mengatakan pendidikan karakter adalah kunci mewujudkan reformasi moral. Logikanya, para pejabat dan oknum koruptor tidak akan bertindak koruptif jika karakter mereka dilandasi pondasi moral luhur yang kuat. Sebagai "pabrik"nya pendidik, kita tentu paham, betapa pendidikan karakter itu merupakan kewajiban UNP sebagai salah satu PTN yang tidak saja mencetak guru, namun juga membangun dan menularkan arti strategis pendidikan di segala bidang sebagai solusi utama perbaikan bangsa.

UNP sebagai (salah satu) agen utama dalam mereformasi manusia Indonesia, mesti sadar bahwa semua mata selalu tertuju padanya. Orang akan melihat, bagaimanakah lakek tangan UNP dalam memperbaiki karakter manusia Indonesia, khususnya wilayah Sumatra bagian tengah. UNP akan semakin bernilai strategis manakala seluruh komponennya mau bekerja keras menuntaskan pekerjaan rumah, yaitu menata dan menyempurnakan sumber daya manusia yang akan menjadi agen-agen individual ke tengah masyarakat.

Agenda yang tidak ringan ini, tidak akan pernah terealisasi bila sebuah kapal besar seperti UNP tersekat-sekat bagai rumah besar yang sesak dengan kamar-kamar kecil. Sebaliknya, UNP ke depan seharusnya bagaikan sebuah taman, yang walaupun berbeda spesies dan warna namun sama-sama punya kegairahan untuk menghirup udara pagi dan menampung sinar matahari untuk kemudian mengkonversinya dalam sebuah gerakan pertumbuhan secara simultan dan masif. Jika pilihan sebagai taman itu yang kita pilih, maka kelak, kita akan melihat bagaimana taman itu rimbun dengan bunga dan tumbuhan lain yang sudah masak buahnya, dan semakin harum baunya, mencerahkan lingkungan, bagaikan makna proses pendidikan itu sendiri, yang selalu setia membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik.

Dengan demikian, ikrar untuk menjadikan UNP sebagai rumah bersama dengan kita sebagai anggota keluarganya, yang selalu saling setia, isi-mengisi dalam pola komunikasi yang interaktif-partisipatif, serta menjaga dinamika secara elegan dan konstruktif, adalah pilihan yang tidak bisa ditawar lagi. Pemimpin yang sudah kita pilih, semestinya kita sokong dan bantu, agar mencapai keberhasilan yang nyata. Keberhasilan pemimpin adalah buah dari kepandaiannya menumbuhkembangkan segenap potensi. Potensi yang paling berharga adalah semangat tak kenal lelah untuk memperbaiki diri; salah satunya adalah kesediaan menerima kritik sebagai sebuah bukti dari kepedulian.

Jika UNP telah terikat dalam orientasi dan misi kolektifnya, maka impian menuju UNP sebagai sebuah komunitas (baca; keluarga) tidak akan sulit dicapai. Mengutip Mangkusubroto (2012), dalam komunitas, passion (semangat), devotion (kesetiaan), trust (kepercayaan), continuous learning (terus menerus belajar), sharing (berbagi), dan expertise (keahlian) akan muncul dengan sendirinya, dan berkumpul menjadi sebuah kekuatan. Jika dalam sebuah institusi, semua komponen yang ada di dalamnya dapat membentuk sebuah komunitas, atau paling tidak menempatkan dirinya sebagai bagian dari komunitas, maka komunikasi dan kerjasama tidak hanya terjadi secara efektif antara sesama anggota di satu divisi saja, tetapi dalam satu komunitas secara menyeluruh.

Kita menanti, inovasi konstruktif dari para pemimpin UNP, terutama Rektor sebagai nakhoda. Bagaimanapun, UNP sudah berkomitmen untuk menjadi Perguruan Tinggi yang mengemban mandat yang diperluas (wider mandate), tidak hanya di lapangan kependidikan. Saya haqul yakin, UNP akan semakin berjaya di tangan para pemimpin visioner yang mau belajar tanpa kenal lelah, serta peduli dalam mendengar berbagai masukan. Pemimpin terbaik adalah pribadi yang selalu memilah apa yang dipelajari dan didengarnya untuk kemudian mencernanya melalui kesungguhan dan ketajaman intuisi kepemimpinannya.

Penulis adalah dosen di Jurusan Sosiologi, FIS-UNP.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Mohammad Isa Gautama
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.