Kolom

Masyhur

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 5 Oktober 2012 14:54 WIB • 👁 1.802 Pembaca

"Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia orang gila, pembohong, tukang sihir. Jangan penah engkau mendekatinya, karena ia akan mempengaruhimu untuk mengikuti ajaran sesatnya." Begitulah ungkapan sang pengemis buta di hadapan Rasulullah. Tanpa menyanggah, Rasulullah tetap menyuapkan makanan untuknya. Setiap pagi Rasulullah mendatangi dan membawakan makanan untuknya. Setiap pagi pula, ia mendengarkan cacian dari sang pengemis buta, namun hal itu tak membuat Rasulullah jera untuk berbuat baik kepadanya.

Setelah Rasulullah wafat, hal yang sama dilakukan oleh Abu Bakar r.a. Ia membawa dan menyuapkan makanan untuk sang pengemis buta. Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak: "siapakah kamu?" Abu Bakar r.a menjawab: "Aku orang yang biasa". "Bukan! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta. "Makanan yang kau berikan sangat kasar dan aku sulit menelannya. Orang yang biasa mendatangiku makanannya lebih halus, berbeda sekali dengan makanan yang kau suapkan kepadaku", ungkap pengemis itu sambil menyeringai.

Mendengarkan ucapan itu Abu Bakar r.a. tak kuasa menahan keharuannya. Ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu: "Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, orang yang mulia itu telah tiada, ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. "Benarkah?" Ujar sang pengemis sambil terkejut. "Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia begitu mulia." Pengemis yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

Kisah Pengemis Buta mengingatkan kita pada pernyataan Benjamin Franklin: orang lain menilai kita berdasarkan apa yang sudah kita lakukan, bukan berdasarkan apa yang bisa kita lakukan. Seseorang akan dikenal dan dikenang jika selama hidupnya selalu berbuat kebaikan dan memberikan manfaat bagi orang lain. Meninggalkan jejak sejarah yang paling berkesan sepanjang perjalanan hidup manusia. Kisah di atas hanya serpihan kecil dari keteladanan Rasulullah yang termaktub dalam catatan sejarah.

Tak salah jika bukunya The100yang ditulis oleh Michael H. Hart tahun 1978 M, memilih Nabi Muhammad menjadi orang nomor satu paling berpengaruh dalam paradaban kehidupan manusia. Menurut Hart, Nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dari ukuran agama, maupun ruang lingkup duniawi. Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia. Selain itu Muhammad tampil sebagai seorang pemimpin dan politikus tangguh, tulen, dan efektif. Meskipun buku The 100 kembali direvisi pada tahun 1999, tak ada kontrofersial untuk posisinya. Apakah rahasia utama yang menjadikan Muhammad masyhur? Ternyata Muhammad SAW merupakan pemimpin yang mampu menaklukan hati orang lain, untuk berpadu menyeru keesaan Allah SWT. Bukan tipe pemimpin yang haus dengan kekuasaan. Seperti halnya ketika beliau menaklukan hati pengemis buta untuk mengakui keesaan Allah sebagi tuhan seluruh alam. Apalah pentingnya seorang pengemis buta, hanya menyusahkan orang lain. Namun disanalah letak keunggulan Nabi Muhammad, ia tak pernah memandang seseorang dari kasta atau derajat dalam sudut pandang manusia.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Siti Nurasyiyah
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

2 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.