Sebelum pemilu berlangsung, sebagian mahasiswa UNP sempat menolak pemilihan presiden BEM dengan cara e-voting. Mereka tetap menginginkan sistem manual. Kala itu Pembantu Rektor III UNP, Dr. Syahrial Bakhtiar, M.Pd– selaku pencetus ide untuk pemilu secara e-voting, selalu bisa mengatasinya dengan memberikan berbagai pertimbangan. MPM selaku lembaga tertinggi kemahasiswaan yang bertanggung jawab terhadap e-voting pun luluh setelah diberikan penjelasan dari PR III.
Namun setelah pemilu usai, mahasiswa kembali menyoalkan e-voting. PermaÂsalahannya kali ini adalah menuntut dilaksanakan pemilu putaran kedua, karena hanya selisih 39 suara. Kali ini Syahrial Bachtiar enggan lagi ikut campur. Pembantu Rektor III UNP yang dilantik Desember 2012 silam itu menyerahkan sepenuhnya kepada mahasiswa. Menurutnya mahasiswa sudah cerdas dalam menyelesaikan masalah. "Lagian kalau saya ikut campur, nanti dibilang intervensi lagi," ujarnya ketika menjawab pertanyaan mahasiswa untuk mengadakan pemilu putaran dua, Selasa (30/4) lalu di RSG.
Wacana pemilu e-voting memang bermula dari ide PR III. Melalui MPM selaku pelaksana pemilu, ia ingin kretifitas mahasiswa UNP dikembangkan. Meskipun terkesan mengintervensi, menurutnya asalkan untuk kebaikan tidak menjadi masalah. "Toh ini untuk kebaikan bersama," ujarnya.
Rabu (1/5) lalu, mantan dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan itu tampak sibuk di ruangannya. Terlihat ada lima orang yang tengah menemuinya di ruangan. Kru SKKGanto Ismeirita dan Hasdunimencoba untuk mewawancarainya terkait pemilu e-voting. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya ia bersedia untuk diwawancara. Dalam ruangan ber-AC yang tidak terlalu luas itu, ia menjawab pertanyaan dengan lancar. Sesekali ia menjawab panggilan di handphone nya yang berdering. Berikut hasil wawancara sore itu:
Bagaimana awal mula munculnya ide pemilu berbasis e-voting?
Ide awalnya itukan dari FT. Saya dengar FT pakai e-voting. Lalu ketika ketua BEM FT ke ruangan saya, saya tanya mengenai e-voting. Saya menanyakan bagaimana berlangsungnya pemilu e-voting di FT dan bagaimana antusias dari mahasiswa. Setelah saya mendapatkan penjelasan, saya fikir pemilu e-voting cukup bagus. Kemudian saya hubungi Pak Deni (Pembina Rekayasa Perangkat Lunak FT), saya tanyakan teknisnya lebih lanjut. Setelah itu, langsung saya himbau MPM untuk melakukan e-voting.
Apakah pemilu sekarang sama dengan pemilu di FT?
Secara teknis sama. Hal yang berbeda hanya penanggung jawab posko atau adminnya saja. Saat ini disediakan posko disetiap fakultas. Untuk pemilihan umum BEM UNP kali ini admin diserahkan kepada puskom dan berkoordinasi dengan tim RPL. Tim RPL sebelumnya telah disumpah terlebih dahulu, tujuannya agar mereka tetap independen dan tidak berbuat kecurangan.
Tapi di FT dicurigai ada kecurangan, bagaimana tanggapan anda?
Sampai saat ini, saya tidak mendengar adanya kecurangan pada saat pemilu ketua BEM di FT.
Pemilu e-voting telah usai dan hasil sudah diketahui. Bagaimana Anda menilai pemilu kali ini?
Bisa dikatakan sukses. Sukses dari segi partisipasi mahasiswa, walaupun ada kekurangan di sana sini. Partisipasi dari mahasiswa kali ini melonjak drastis dan itulah yang dinamakan demokratis. Kalau yang memilih sedikit, berarti yang mengakuinya juga sedikit, karena mereka tidak memilih. Apabila dengan manual jumlah mahasiswa yang memilih hanya berkisar 3400-an, tapi dengan e-voting jumlahnya mencapai 10000-an. Itu kemajuan yang sangat positif.
Kemudian pihak MPM tidak sibuk menghitung lagi seperti yang pernah dilakukan dulunya. Kalau dulu kan setelah pemilihan, panitia pemilu tidak tidur semalaman hanya untuk menghitung hasil suara.
Jumlah pemilih paling banyak tahun ini, bagaimana tanggapan bapak?
Bagus itu, karena mahasiswa itu cendrung suka online-nan, makanya banyak yang mau berpartisipasi. Semoga dengan banyaknya jumlah pemilih, akan menambah juga kepercayaan mahasiswa terhadap BEM. Karena dengan ikut memilih, berarti mahasiswa mempercayai yang mereka pilih.
Tapi mahasiswa menolak hasil e-voting, bagaimana itu bisa terjadi?
Namanya suatu pembaharuan itu akan selalu ada pro kontranya, apalagi e-voting ini termasuk hal yang benar-benar baru diterapkan, bahkan di Sumatera baru UNP yang melakukannya. Tapi ketika kita melihat pengaruh e-voting di Fakultas Teknik beberapa waktu lalu, kita bisa melihat tingkat partisipasi mahasiswa meningkat lebih dari 100 persen. Penolakan mahasiswa hanya ketakutan kecurangan saja, dan itu jangan menyalahkan sistem. Kalau kecurangan kembali kepada moral mahasiswa masing-masing.
Mahasiswa memaksa untuk putaran kedua, sedangkan itu tidak tertera di dalam juklak, bagaimana seharusnya?
Itu saya kembalikan kepada MPM dan mahasiswa saja. Tetapi ide untuk melaksanakan putaran kedua itu muncul ketika MPM mengadakan acara pengumumanSelasa (30/4) sore setelah voting dilakukan. Sebenarnya acara itu sudah saya larang pada saat rapat pimpinan pembantu dekan 3 dan MPM. Biarkanlah mahasiswa melihat sendiri hasilnya di portal. Tapi MPM tetap bersikukuh. Ya beginilah hasilnya. Mahasiswa akhirnya banyak menuntut, hingga meminta pemilu putaran dua.
Dimana letak kelemahan e-voting?
Sejauh ini saya tidak melihat kelemahan e-voting, tergantung kepada mahasiswa yang memiliki NIM dan password nya. Jika ia memberikan NIM dan password nya kepada orang lain, ya salah dia sendiri. Lagian yang rugi kan mahasiswa itu sendiri, karena portalnya nanti akan diketahui orang.
Apakah tahun depan akan tetap menerapkan e-voting?
Belum tahu, nanti kita akan adakan evaluasi terlebih dahulu. Untuk menentukanya nanti kan juga ada kongres mahasiswa, disanalah kita akan bicarakan. Dan sebaiknya tetap diterapkan, karena e-voting berdampak positif.
Apa ada sanksi bagi yang ketahuan berbuat curang?
Sejauh ini belum ada yang melaporkan bahwa terdapat kecurangan. Namun, apabila ada yang terbukti melakukan kecurangan, akan nada sanksi nantinya. Sanksi berbentuk apa belum ditetapkan. Namun saya fikir mahasiswa sekarang sudah cerdas. Untuk apa pula memberikan NIM dan paswordnya kepada orang lain?
Mahasiswa sempat menolak e-voting, bagaimana tanggapan Anda ketika itu?
Ide e-voting itu kan bagus. Saya menanggapinya dengan memberikan pengertian saja. Lalu saya cari tahu lagi kelemahan dan kelebihan sistem pemilu manual dan saya bandingkan dengan e-voting. Setelah itu saya menyimpulkan bahwa jelas lebih banyak keunggullan e-voting. Salah satu contoh adalah mengenai perhitungan suara. Saya kaget ketika tahu setelah pemilihan secara manual panitia tidak tidur semalam hanya untuk menghitung hasil pemilu. Pemilihan presiden saja tidak seperti itu. Dengan e-voting kan kita akan langsung tahu hasilnya, dan pelaksanaannya juga mudah.
Apakah MPM pernah juga menolak e-voting?
Awalnya MPM menolak e-voting karena telah menetapkan juklak dan juknis untuk pemilihan secara manual. Tapi saya berikan pengertian lagi, bagaimana bagusnya sistem e-voting, akhirnya MPM setuju.
Ada kesan birokrat mengintervensi MPM, bagaimana tanggapan Anda?
Intervensi dalam tanda kutip iya. Maksudnya itu kan intervensi yang dilakukan bersifat positif, karena untuk kebaikan bersama. Saya meminta kepada MPM dengan berbagai pertimbangan.
Bisakah dikatan e-voting sudah di-veto-kan birokrat?
Iya, bisa dikatakan sudah di-veto-kan. Penerapan E-voting ini terlihat bagus dan menjadi suatu hal yang inovatif, sebab kampus lain saja belum banyak yang menerapkannya. Setahu saya baru Universitas Indonesia saja yang menerapkan e-voting. Lagian ini melihatkan bahwa Sumber Daya Manusia UNP memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Siapa tahu setelah ini Sumatera Barat akan mengadakan pemilu secara e-voting juga, karena terinspirasi dari UNP.
Dampak dari pro kontra e-voting sekretariat MPM disegel, bagaimana bisa terjadi?
Sekretariat MPM disegel saya tidak tahu, karena pada waktu itu saya berada di Malaysia. Lalu saya mendapat kabar MPM disegel, sampai sekarang saya belum tahu siapa pelakunya. Yang jelas itu tindakan premanisme, dan sangat tidak dibenarkan.
Apa tindak lanjut dari penyegelan tersebut?
Itu sudah diserahkan kepada pihak yang berwajib.
Bagaimana Anda menilai kinerja MPM pada pemilu kali ini?
Saya mengapresiasi apa yang telah MPM kerjakan. Mereka sudah menjalankan kewajibannya, meskipun masih terdapat kekurangan. Tidak apa-apa, itu bisa dievaluasi nantinya. Saya juga mengapresiasi ketua MPM yang seringkali protes kepada saya, itu berarti dia berani mengeluarkan pendapatnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!