Ensiklopedia

H.C Andersen; Bapaknya Dongeng

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 3 Juni 2013 12:45 WIB • 👁 1.554 Pembaca

Pada usia 3-7 tahun adalah ma­sa yang baik dalam pengem­bangan kemampuan berima­jinasi, seperti mendongeng. Lewat dongeng anak akan terbantu mengembangkan imajinasinya. Itulah sebabnya dongeng tak dapat dipisahkan dari peradaban zaman, karena ia punya peran tersendiri dalam pendidikan, terutama dalam membentuk karakter anak, dan dongeng pun mampu melatih anak mengembangkan kecerda­san emosional.

Melalui tokoh HC Andersen, dongeng mulai dikenal masya­rakat. Sebab, cerita yang ia ciptakan selalu sadar untuk membebaskan kalimat-kalimat dari tema atau pesan. HC Anderson terlahir dari keluarga miskin dan tidak pernah menikmati dunia pendidikan. Ia mulai mengenal berbagai cerita dongeng dan cerita rakyat dari ibunya, dan sering diajak menonton pertunjukan sandi­wa­ra oleh ayahnya yang seorang pencinta sastra. Pengalaman dari orangtua itulah yang membuat HC Andersen tertarik dengan cerita dan sandiwara, termasuk karya William Shakespeare.

Hans Christian Andersen atau lebih dikenal sebagai HC Andersen adalah seorang pendongeng ulung. Ia lahir di Odense, Denmark bagian selatan, pada 2 April 1805, tepatnya di kawasan kumuh kota Odense. Anderson menjadi yatim di usia yang sangat muda, 11 tahun, dan harus pindah ke Kopenhagen pada tahun 1819, ibu kota Denmark. Ia memulai kehidupan menjadi seorang aktor, penyanyi, dan penari. Awalnya, Andersen sempat bergabung dengan Royal Theater, tetapi ketika suaranya berubah karena masa pubertas, ia terpaksa meninggalkan panggung sandiwa­ra. Kemudian ia memilih untuk menjadi seorang penulis. HC pernah mencoba menulis beberapa naskah sandiwara, tapi sayang, semua karyanya ditolak di mana-mana. Tiga tahun berada di kota Kopenhagen, kehidupan H.C. Andersen terlihat begitu menye­dihkan. Setelah ayahnya mening­gal. H.C. Andersen yang belum lama mengenyam pendidikan formal akhirnya bekerja serabutan, diantaranya pernah bekerja di sebuah pabrik rokok, magang di sebuah penjahit dan bekerja sebagai penenun. Ia terpaksa memburuh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada masa-masa menyedihkan itulah H.C. Andersen bertemu dengan Raja Denmark, Frederik VI. Raja Frederik tertarik dengan penampilan H.C. Andersen muda yang cerdas dan gagah. Raja Frederik kemudian mengirimkan Andersen untuk bersekolah. Berkat kebaikan Raja, Andersen berke­sempatan mengenyam pendidikan bahasa di Slagelse dan Elsinore hingga 1927. Sebelum sekolah, ia sempat menerbitkan jilid pertama karyanya yang berjudul The Gost at Palnatoke’s Grave (1822).

Di bangku pendidikan, Ander­sen termasuk siswa tertinggal, dia menjalaninya dengan setengah hati. Sebab, ia tak nyaman berada di tengah para siswa yang berusia enam tahun lebih muda dari dirinya. Setamat dari sekolah bahasa, Andersen melanjutkan studi ke Universitas Kopenhagen, dan pada tahun 1835, ia mulai melun­curkan cerita anak-anak Tales for Children dalam ben­tuk buku saku dengan harga mu­rah. Lalu kumpulan cerita berju­dul Fairy Tales and Sto­ry ditulisnya dalam kurun 1836-1872. Serial anak-anak yang kebanyakan terbit pada hari Natal itu tidak hanya kisah-kisah dunia khayali belaka. Ia menulis 156 cerita, 12 dongeng yang dituliskan berdasarkan cerita rakyat Denmark. Selebihnya baru lahir dari buah pikirannya sendiri.

Salah satu dongeng karya Ander­sen The Emperor’s new Clothes, memberikan pesan bahwa keserakahan tidak baik, disam­paikannya lewat parodi raja lalim yang cukup menggelikan. Ciri khas yang menon­jol dalam cerita dongeng Andersen adalah hadirnya kaum miskin dan ketidak berun­tung dalam hidup. Cerita-cerita dongeng H.C. Andersen memang berisi pesan-pesan moral universal. Maka tidak mengherankan jika karya-karyanya diterjemah­kan ke dalam 147 bahasa dunia. Buah tangannya pun bukan hanya sebatas "pelajaran" untuk anak-anak, melainkan dibaca oleh orang dewasa di seluruh dunia. Dan siapa yang menya­dari, bah­wa kebanyakan mimpi dan ha­rap­an anak-anak tentang indah­nya suatu dongeng diawali oleh goresan tangan seorang H.C An­der­son. (dari berbagai sumber)

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Meri Susanti
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.