Ensiklopedia

Pahlawan Indonesia dari Belanda

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 26 Oktober 2013 01:15 WIB • 👁 4.073 Pembaca

Pada abad ke-19 pernah seorang penulis Belanda yang terkenal dengan novel satirisnya (suatu sindiran pada suatu keadaan) memadukan perasaan, pikiran serta tindakan sadar atas keterlibatan batinnya dalam sebuah tindak ketidakmanusiawian. Perlakuan yang tak berperikemanusiaan terhadap penduduk negeri jajahan menimbulkan kegusaran dalam dirinya. Ia mengambil sikap untuk membela rakyat yang disiksa oleh pengusaha perkebunan dan mencoba mengungkap ketidakadilan sistem tanam paksa yang diterapkan Hindia Belanda melalui sebuah tulisan.

Pemerhati kejamnya penjajahan yang terjadi di Indonesia tersebut bernama Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan nama pena Multatuli, seorang sastrawan kelahiran Amsterdam, Belanda 2 Maret 1820. Nama Multatuli yang diambil dari bahasa latin yang bermakna ‘aku sudah banyak menderita’ ini merupakan sebuah nama samaran yang dipakai Douwes Dekker sewaktu menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Max Havelaar. Bagi Multatuli, buku Max Havelaar ini sudah mampu meringankan beban batinnya yang mencekam. Ia fokus menulis tentang tanam paksa dan kerja rodi yang sudah menjadi praktek penindasan terhadap masyarakat pribumi. Sebab, masyarakat tidak tahu tentang persengkokolan yang terjadi di belahan timur, yaitu persengkokolan antara "kulit putih" dan "kulit cokelat" terhadap sindikat kerja rodi yang dipaksakan.

Pada tahun 1856, Multatuli mulai bekerja sebagai asisten residen Lebak di Rangkasbitung, Banten. Disini ia langsung merasakan sendiri ketidakadilan terhadap masyarakat pribumi. Multatuli menemukan beberapa bukti tentang penyalahgunaan kekuasaan dan pemerasan terhadap rakyat oleh bupati Lebak. Ia mencoba meminta perlindungan dan melaporkan kasus ini kepada atasannya, Residen Brest van Kempen. Namun tanggapan bosnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Akhirnya ia membawa kasus ini ke Gubernur Jendral A.J. Duymaer van Twist yang terkenal beraliran liberal. Tragismya Multatuli diberi surat peringatan dan menuduh Multatuli tidak patuh terhadap atasannya. Merasa kecewa dengan system pemerintahan, ia pun menjadikan Banten sebagai tempat pengakhiran karirnya sebagai abtenaar.

Dari sinilah muncul kefokusannya dalam perpaduan perasaan, pikiran serta tindakan sadar atas keterlibatan batinnya dalam sebuah tindak ketidakmanusiawian. Melalui tulisan, Multatuli berhasil membingkiskan sebuah ‘Bola Liar’ yang siap dilemparkannya melalui hasil karyanya tersebut. Tulisannya mampu merubah cara pandang penjajah Belanda pada khususnya dan dunia pada umumnya terhadap kaum terjajah dan bumiputera. Pemerintah kerajaan Belanda pada masa itu, merasa sangat tertampar dengan perang pena ini, sehingga bumiputera tidak lagi dianggap sebagai kasta yang lebih rendah dari binatang di negerinya sendiri. Selain itu, Multatuli pun berhasil mengubah semangat kebangsaan di Indonesia untuk melakukan pemberontakan terhadap kolonialisme dan eksplotasi ekonomi yang tak ada habisnya menghisab rakyat jelata. Tak hanya di Indonesia, efek dari bola liar yang dilempar oleh Multatuli juga dirasakan oleh negara-negara terjajah lainnya, seperti di Asia dan Afrika. Edo Febrianto (dari berbagai sumber)

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Edo Febrianto
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.