Kolom

Rektor Idaman

Oleh:
Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 26 Oktober 2013 20:21 WIB • 👁 1.794 Pembaca

Dalam sebuah diskusi muncul pertanyaan tentang apa yang membuat seseorang menjadi rektor. Lalu, jawabannya masih menggunakan kata mungkin. "Mungkin karena Ia sebelumnya menjadi dosen teladan," atau "kinerjanya yang bagus, mungkin," atau "mungkin karena sikapnya yang kharismatik." Lalu setelah menjadi rektor, apa yang mereka lalukan? Katanya, "Ya, berpidato saat acara wisuda dan menceritakan bangganya universitas karena yang wisuda banyak atau menceritakan bagaimana selektifnya universitas dalam menyeleksi mahasiswa baru.

Pernah tidak kita berharap memiliki sosok rektor seperti Prof. Mahar Mardjono (UI) yang dikenal berani mengusir tentara dari kampus dan menolong mahasiswa yang dihajar aparat saat menuntut perubahan? Prof. Andi Hakim Nasution (IPB) yang memperkenalkan Sistem Panduan Bakat penerimaan mahasiswa baru, yang sekarang menjadi Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK) dan rektor inspiratif lainnya seperti Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Unpad), Prof. Herman Johannes dan Prof. Dr. Teuku Jacob (UGM)? Seperti itulah rektor idaman masa kini. Pemimpin kampus yang tidak administratif dalam menjalankan tugasnya.

Praktis sekarang mahasiswa haus akan pemimpin yang inspiratif. Pemimpin yang mau diajak berbagi dan mau berada di tengah-tengah mahasiswanya. Rektor seolah terlalu sibuk dengan agenda-agenda: keluar negeri, keluar kota, rapat senat dan rapat-rapat lainnya. Bahkan mahasiswa yang hendak menemuinya harus melalui staf terlebih dahulu, dan tak jarang harus menunggu lama. Ironisnya, banyak mahasiswa yang selama kuliah tidak mengetahui siapa rektornya.

Lantas, apakah sekarang tidak ada sosok rektor yang memiliki popularitas di mata kaum agent of change? Jawabanya ada. Sebagai testimoni, mungkin tidak sedikit kalangan mahasiswa yang tahu dengan Prof. Komarudin Hidayat dan Prof. Anies Baswedan. Ya, inilah sosok pemimpin yang dianggap sebagian mahasiswa sebagai sosok yang peduli terhadap kaum pembawa perubahan. Namun, ironisnya kedua sosok ini bukanlah pemimpin Perguruan Tinggi Negeri, yang katanya menjadi "barometer" pendidikan. Padahal universitas negeri diberikan kesempatan pertama untuk menyeleksi calon mahasiswa dan menjadi tujuan utama kaum cerdik pandai.

Kampus tidak melulu dijamin dengan belajar dari buku, dosen dan laboraturium. Tapi kinerja rektornya dalam memimpin dan memberi contoh haruslah menjadi prioritas pula. Jejak para rektor yang inspiratif diharapkan tidak hanya mendoktrin bagaimana menjadi ilmiah, tetapi benar-benar berdampak rill terhadap perubahan. Mereka turun tangan terlibat dalam masalah aktual, sehingga gerakannya punya pengaruh yang kuat.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Hasduni
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.