Banyak sudut lokasi di UNP tidak memiliki penerangan. Hal itu dimanfaatkan mahasiswa untuk berduaan di kala malam menjelang.
Lokasinya di bagian depan universitas. Di depan gedung rektorat lama, yang sejak gempa 2009 lalu tidak digunakan lagi– karena kondisinya yang rusak. Memasuki gerbang utama, berjarak sekitar lima meter, lalu belok kanan. Banyak pohon-pohon menjulang. Daunnya rimbun. Saat siang hari, di sana banyak mahasiswa yang duduk-duduk. Ada yang diskusi, ada yang sekedar duduk menikmati kesejukan, dan ada juga komunitas gambar yang biasanya menghabiskan waktu untuk menggambar.
Saat sore, tak kalah menarik. Di sana terdapat lapangan sepakbola. Di salah satu sisi lapangan itulah pohon-pohon menjulang tadi berada. Banyak orang latihan sepakbola. Di sekeliling lapangan banyak penjaja makanan. Sembari pulang kuliah, tak jarang mahasiswa mampir untuk duduk di pinggir lapangan, membeli jajanan, sambil menonton orang bermain sepakbola.
Namun, suasananya berbanding terbalik ketika malam hari. Tidak ada lagi mahasiswa yang duduk beramai-ramai disana. Hanya sesekali saja orang dan kendaraan lewat. Gelap dan sunyi. Hanya cahaya lampu dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dan beberapa rumah warga saja yang samar-samar menyinari. Jarak lampu-lampu itupun jauh. Tetap saja, sinar lampu tersebut tidak dapat memperjelas beberapa orang yang "beraktifitas" di pinggiran lapangan sepakbola sana.
Di sepanjang pinggir lapangan itulah hampir setiap malam ada saja sepasang muda-mudi yang duduk. Bukan membaca buku atau diskusi. Tapi mereka tengah berpacaran. Tidak jarang ada mahasiswa tertangkap Satuan Pengamanan kampus karena kedapatan bertindak asusila. Bahkan berdasarkan data Satpam UNP, pernah dalam satu malam ada dua tersangka yang tertangkap. "Terkadang mereka mengaku hanya berciuman saja. Tapi, tetap saja itu tidak etis jika dilakukan di kampus. Apalagi di tempat gelap," ujar Feri Saputra, Wakil Satpam, Selasa (19/11).
Selasa (5/11) malam, sekitar jam 20.30, Gadis dan Bujang (bukan nama sebenarnya) tengah asyik duduk berduan. Baik Gadis maupun Bujang duduk di atas satu motor. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas keduanya tengah berduaan di bawah pohon kayu besar di depan FIS. Jalanannya sepi. Hanya ada mereka berdua di sana.
"Kami hanya sedang becerita saja," kata Bujang.
"Iya. Kami tidak berbuat apa-apa kok," timpal Gadis.
Malam itu keduanya mengaku baru saja makan bakso. Lalu, sebelum mengantarkan Gadis ke kosan Bujang mengajaknya berjalan-jalan terlebih dulu. Lalu mereka masuk gerbang UNP. Katanya biar pembicaraan lebih santai.
Gadis dan Bujang mengaku sudah setahun berpacaran. Keduanya berstatus mahasiswa. Salah satunya adalah mahasiswa UNP. Sedangkan satunya lagi adalah mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Kota Padang. Biasanya jika malam minggu mereka pergi makan dan duduk di pinggir pantai. Namun, pergi ke UNP baru kali ini mereka lakukan. "Kami tidak merasa bersalah kok. Kan kami cuma duduk saja di sini," ujar Bujang.
Selain di bagian depan kampus– dekat gedung rektorat lama dan FIS, masih banyak lokasi sudut kampus yang belum memiliki penerangan dan cenderung sepi. Hal tersebut lalu dijadikan sebagian mahasiswa untuk berbuat yang tidak-tidak. Menurut Feri, Wakil Satpam UNP, lokasi yang sering dijadikan lokasi berpacaran mahasiswa di malam hari adalah di jalanan samping Fakultas Teknik (FT), di belakang Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan sekitaran gedung Mata Kuliah Umum (MKU) lama yang sekarang dijadikan gedung sekolah SMA dan SMP Pembangunan. "Karena lokasi di sana sepi dan gelap," lanjutnya.
***
Malam itu, Rabu (16/10) kantor Satpam UNP ramai dikunjungi orang. Di luar, ada sekitar tujuh petugas yang tengah duduk. Di dalam, ada Oskar, Ketua Komandan Regu dan beberapa Satpam lainnya. Di hadapan Oskar, ada dua pasang mahasiswa. Keduanya seperti ketakutan. Mereka selalu menunuduk ke bawah setiap kali Oskar bertanya. Di dalam ruangan yang berukuran sekitar 3 x 3 tersebut, ada juga beberapa mahasiswa. Mereka adalah mahasiswa FT. Kehadiran mahasiswa tersebut menambah kesan takut kedua mahasiswa yang sedari tadi tertunduk itu. Betapa tidak, dengan suara keras terkadang mereka turut ikut bertanya kepada keduanya.
Orang yang tengah tertunduk itu, RZ dan MT, mahasiswa yang digrebek Satpam karena tengah bertindak asusila di kampus. MT mahasiswa UNP sedangkan RZ kuliah di salah satu PTN di Kota Padang. MT dan RZ digrebek ketika sedang berduaan di belakang bangunan terbengkalai, FMIPA UNP. Saat digrebek, posisi Jojo sedang berdiri dan celana jeansnya sedang terbuka. Sehingga mereka tidak bisa menyangkal, ketika Satpam memintanya untuk ikut ke pos Satpam.
Menurut keterangan Andri, Satpam yang melakukan penggrebekan, awalnya ia sudah merasa curiga ketika ada sepasang muda-mudi memasuki kawasan FMIPA. Dengan menggunakan sepeda motor, mereka sempat melihat kiri dan kanan. Melalui jalanan FMIPA yang terkesan gelap dan sunyi, mereka terus berkendara hingga di bangunan paling ujung. Lama tidak kembali, akhirnyaAndri memutuskan untuk melakukan patroli ke arah sepasang muda-mudi tersebut. "Saya curiga melihat motor yang terparkir, tapi orangnya tidak ada," ujar Andri.
Ketika penangkapan berlangsung, ada beberapa mahasiswa FT tengah berkumpul. Melihat ada mahasiswa yang tertangkap, mereka langsung ikut menginterogasi. Azwar hidyatyang juga selaku Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FT, mengungkapkan tidak terima jika ada mahasiswa yang menjadikan kampusnya sebagai lokasi mesum. Apalagi, UNP sendiri dikenal sebagai kampus yang bertugas "melahirkan" tenaga pengajar. "Kampus kami ini tempat mencetak guru, bukan membuat anak," ujar Dayat kepada keduanya.
Sementara itu, MT dan RZ mengakui jika tindakan yang mereka lakukan salah. RZ selaku pihak yang mengajak MT, sangat merasa bersalah. "Saya yang bersalah, saya yang mengajak dia berbuat seperti ini," ujarnya. RZ mengatakan ide memilih UNP sebagai tempat untuk bertindak demikian, muncul secara spontanitas. Memang sudah direncanakan untuk bertindak demikian, akan tetapi muncul opsi di UNP karena kebetulan mereka sedang jalan di daerah Air Tawar.
Berdasarkan keterangan Drs. Hamdani, M.M Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan UNP, saat ini MT telah mendapatkan skors dari pihak kampus. Hal itu dilakukan untuk menimbulkan efek jera. "Dia telah diskors selama dua semester," ujar Hamdani. Ia juga mengharapkan, kejadian yang sama tidak akan terulang lagi. Bukan dari pelaku saja, namun menjadi pelajaran bagi semua mahasiswa.
Berbeda lagi dengan kasus yang menimpa Putra dan Putri (nama samaran). Keduanya tercatat sebagai mahasiswa UNP. Malam itu, Jumat (11/11) mereka tengah duduk di café Seni Rupa. Putra dan putri serta seorang senior tengah menunggu hujan reda. Café tersebut gelap, karena sudah tutup. Tidak lama berselang, senior tersebut pergi. Sehingga hanya Putra dan Putri yang tinggal di café. Hujan masih turun ketika Putra mulai merayu Putri.
"Sayang gak adek ke abang," ujar Putra. Tidak hanya merayu, perlahan pacarnya tersebut mulai bertindak tidak sesonoh. Putri sebagai wanita, mengaku terpaksa mengikuti nafsunya.
"Dia menyentuh bagian sensitif saya," ujar, Putri Sabtu (23/11).
Namun sayang, kemesraan mereka tidak lama berlangsung. Tiba-tiba ada petugas Satpam yang memergoki. Merekapun dibawa ke kantor Satpam. Di kantor, mereka banyak mendapat pertanyaan dari Satpam. Mereka pun diharuskan membuat surat perjanjian yang berisikan tidak akan mengulangi perbuatan yang sama. "Kalau terjadi lagi, kami siap di DO," ujar Putri. Awalnya Putri mengaku masih sekolah, tapi setelah diminta Kartu Tanda Pelajar, ia akhirnya mengaku kalau mahasiswa UNP.
Salah Seorang Satpam Merayu Pelaku Asusila
Alih-alih menegakkan aturan, anggota Satpam UNP pernah berusaha merayu pelaku pelanggar asusila untuk berbuat yang tidak-tidak. Hal itu yang dialami Putri. Ketika itu ia diantar salah satu anggota Satpam ke kos-nya. Ia hendak mengambil Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) yang tertinggal. Ketika dijalan, ia diminta nomor handphone. "Katanya sih ingin menanyakan jika nanti ada data yang kurang," kata Putri.
Awalnya Satpam tersebut memberikan semangat kepada Putri agar tidak terlalu berlarut-larut dalam masalah. Namun, malam esoknya ia mendapat telepon lagi dari Satpam tersebut. Ketika itu ia mulai mendapat rayuan dari Satpam tersebut. Bahkan Satpam tersebut mengaku belum mempunyai istri. "Saya sangat menyayangkan. Padahal tidak seharusnya mereka bertindak seperti itu," cerita Putri.
Berdasarkan catatan yang ada di kantor Satpam, untuk tahun ini sudah ada 15 kasus yang diproses. Berdasarkan keterangan dari Wakil Komando Satpam UNP, Feri,masih banyaknya kasus pelanggaran asusila dikarenakan lokasi kampus yang terkesan membiarkan pelanggaran yang sama terulang kembali. Menurutnya, sudah seharusnya kampus diberikan penerangan yang memadai, sehingga orang akan takut untuk berbuat yang tidak-tidak.
Untuk meminimalisir kejadian tersebut, saat ini Satpam UNP telah memberlakukan sistem buka tutup pada malam hari di gerbang utama. Tujuannya untuk mengidentifikasi siapa saja orang yang keluar dan masuk kampus. Namun hal itu belum dianggap berhasil, karena sejak diberlakukan sistem tersebut, masih ada kasus pelanggaran asusila yang terjadi. "Kami tetap akan berusaha," ujar Feri.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!