Ensiklopedia

Greenwich Mean Time (GMT) Punya Saingan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Kamis, 25 November 2010 10:10 WIB • 👁 2.175 Pembaca

Dunia kini dikejutkan oleh berdirinya sebuah jam raksasa yang mampu menantang kebesaran Big Ben, menara jam yang selama ini diakui sebagai standar waktu internasional. Standar waktu internasional yang selama ini berpusat pada Greenwich Mean Time (GMT) di London, Inggris, terancam beralih ke Mecca Main Time dengan Abraj Bait Tower. Pemerintah Arab Saudi berharap menara jam Mekah ini menjadi acuan 1,5 miliar muslim di dunia.

Menara jam Mekah ini sangat mirip dengan Big Ben, bisa dilihat dari empat arah dengan lebar 45 meter dan diterangi oleh dua juta lampu Light Emitting Diode (LED). Pada jam ini juga terdapat tulisan Arab besar yang bertuliskan Bismillah (Dengan nama Allah). Jam ini akan beroperasi dengan standarnya sendiri, tiga jam lebih dulu ketimbang GMT. Jam ini mulai berdetak pada Kamis, 12 Agustus 2010, bersamaan dengan awal bulan Ramadhan.

Pada Abraj Bait Tower, terdapat sebuah menara dengan puncak yang berbentuk lengkungan bulan sabit sebagai lambang Islam. Menara ini akan dibangun setinggi 600 meter mengalahkan tinggi Big Ben yang hanya 94,8 meter dan lebar 6,9 meter. Keunikan Abraj Bait Tower lainnya adalah setiap datang waktu salat, 21 ribu lampu hijau dan putih akan berpendar-pendar. Ini adalah tanda untuk mengingatkan kaum muslimin untuk menunaikan salat. Keunikan ini bisa dilihat dari jarak 18 mil atau 28,8 kilometer.

Pendirian menara jam ini bertujuan agar Mekah menjadi patokan waktu dunia. Abraj Bait Tower merefleksikan keinginan sejumlah kalangan muslim untuk mencari alternatif standar waktu universal, atau Greenwich Mean Time (GMT) yang telah berusia 126 tahun. Dalam sebuah konferensi di Doha pada 2008, tokoh dan cendekiawan Islam menyuguhkan argumen-argumen ilmiah bahwa waktu Mekah merupakan garis bujur global yang sebenarnya. Mereka mengatakan, Mekah adalah pusat dunia dan standar Greenwich adalah standar waktu yang diberlakukan oleh pihak Barat pada 1884. Seorang ulama Mesir, Yusuf Qardawi, mengatakan bahwa Mekah lebih tepat ditetapkan menjadi poros bumi. Beliau juga menegaskan bahwa Mekah adalah meridian utama dan menjadi "titik keselarasan magnetis sempurna". Selain itu, Mekah adalah "nol zona magnet".

Kita tentunya berharap diadakannya sebuah konferensi internasional untuk memutuskan ketetapan standar waktu yang digunakan oleh dunia internasional. Keputusan ini tentunya sangat penting, sebab akan menjadi patokan waktu yang menciptakan perubahan krusial, seperti di bidang penerbangan, keuangan, sistem komunikasi, dan navigasi serta penanggalan yang sudah berjalan. Jangan sampai perdebatan mengenai pusat waktu international ini hanya menjadi corong pengakuan ‘prestise’ saja, yang tidak membawa dampak signifikan bagi kemaslahatan dunia.

Aai Syafitri (dari berbagai sumber)

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Aai Syafitri
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.