Lima tahun bukan waktu yang singkat. Pembenahan RSBI perlu dilakukan di sana sini. Tentu saja dengan tidak melupakan standar nasional.
Wulan Tartila Rizki, siswa SMA Pembangunan Padang berkecil hati tak lulus di sekolah RSBI. Rasa kecewa itu jelas terlihat dari wajahnya yang sendu. Ia kembali mengenang ketika dia mendaftar sekolah RSBI secara online, formulir pendaftarannya sama sekali tak ditanggapi. Dia malah ditawarkan ke sekolah lain yang tak RSBI. "Padahal NIM saya lumayan tinggi kok," ujarnya saat ditemui Ganto, Rabu (22/9).
Wulan sangat ingin mengenyam pendidikan di RSBI. Baginya, RSBI tentu akan membuat siswa lebih pintar dan maju karena gurunya bagus, metode pembelajaran canggih serta berbahasa Inggris. "Namun sayang, mimpi itu tak akan pernah terwujud," paparnya lagi.
Tak dirasa, RSBI sudah berjalan lebih kurang 5 tahun. Kurun waktu ini menandakan sekolah yang RSBI sudah mencapai ke tahap penilaian untuk menuju SBI. Akhir tahun ini, SMAN 1 dan SMAN 10 akan diuji kelayakannya menjadi untuk menyandang prediket SBI. Berbeda dengan SMAN 3 yang baru terpilih tahun ini menjadi RSBI, masih tersisa waktu untuk menyiapkan sekolahnya menuju SBI.
Walau masih banyak pro dan kontra mengenai hal ini, RSBI tetap berjalan. Kepala sekolah SMAN 1 dan Wakil kepala Sekolah SMAN 10 mengakui adanya peningkatan kualitas. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya persentase lulusan sekolah mereka yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) favorit dari tahun ke tahun. "Lulusan sekolah kami semakin banyak lulus di PTN favorit di pulau Jawa," ungkap Kepala SMAN 1, Drs. Jufril Siry, M.M, Senin (16/8).
Meski demikian, Pakar Pendidikan, Prof. Dr.Muri Yusuf, M. Pd., menyatakan tetap perlu ada pembenahan di RSBI. Mengenai lulusan, mestinya jangkauan RSBI bukan PTN dalam negeri lagi, tapi luar negeri. Menurut Muri, bisa dikatakan RSBI di Indonesia masih sekadar label. Ide RSBI itu, terang Muri, sama dengan sistem "Dual Degree" yang memakai kurikulum internasional.
Namun sayangnya, tambah Muri, praktik di lapangan tak jelas. Jalannya RSBI terkesan asal-asalan karena konsep internasionalnya tak duduk. Seharusnya, Indonesia mengambil dulu kurikulum internasional, mempelajari secara keseluruhan dan kemudian diadopsi dan diterapkan di Negara kita. "Bukan dengan menerapkan sebagian yaitu Bahasa Inggris saja," tegas Muri Rabu (25/8) di ruangannya
Selain itu, sebelum mencapai RSBI, Indonesia harus mewujudkan Standar Nasionalnya terlebih dahulu. Secara logika, jika pendidikan secara nasional saja belum berjalan baik, maka tak akan mungkin dapat menjalankan yang internasionalnya. "Bagaimana bisa RSBI tercapai sementara yang standar nasionalnya saja belum merata," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Prof. Dr. Mohd. Anshar, Ph. D., salah satu guru besar UNP ini merasa skeptis dengan label internasional yang disandang beberapa sekolah di Sumatera Barat. Dijelaskannya, dari segi kurikulum saja, negara dengan standar internasional cenderung membuat siswa lebih aktif dibanding guru. Guru hanya sebagai fasilitator dan pembimbing. Interaksi penuh perlu dilakukan antara siswa, materi, dan guru. Hal ini, tambah Anshar, hanya dapat diwujudkan dalam kelas intensif. " Mustahil dilaksanakan di kelas berisi 35-40 siswa seperti yang ada di sekolah-sekolah saat ini," ujarnya saat ditemui Ganto (6/10).
Selain kurikulum, penggunaan Bahasa Inggris di kelas juga tak bisa hanya sebatas pembukaan dan penutupan mata pelajaran saja. Berbagai kosa kata terkait mata pelajaran juga harus sudah dikuasai guru. Misalnya mata pelajaran praktik yang menggunakan alat-alat labor. " Yang paling penting itu proses belajar di dalam kelas," imbuhnya lagi.
Lebih lanjut, menurut Anshar, RSBI perlu dievaluasi secara keseluruhan baik itu dari segi kurikulum maupun pelaksanaannya selama ini. Evaluasi itu mengacu kepada pencapaian delapan standar pendidikan. Delapan standar itu antara lain kompetensi, isi, kelulusan, proses, penilaian, serta sarana dan prasarana. Jika delapan standar itu terpenuhi semua, bisa dikatakan pendidikan kita cukup menjanjikan. " Capai dulu standar nasional," tegasnya.
Santi/Uun/Della
Laporan: Salim, Uun, *Tari
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!