"Fasilitas menjadi problema dalam meningkatkan efektivitas proses perkuliahan."
Jam tangan Meri Rahmayati menunjukkan pukul 07.30 WIB. Pagi itu meri akan mengikuti proses perkuliahan dengan mata kuliah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sesampainya di kampus Meri segera bergabung dengan teman-temannya yang juga ikut mengambil mata kuliah IPA dengan dosen yang sama, lalu merekapun menuju ruangan perkuliahan. Ketika sampai di depan lokal kuliah yang dimaksud, Meri beserta temannya bingung dan terkejut. Pasalnya lokal kuliah yang dituju telah terisi oleh kelas lain yang sama-sama masuk pada jam tersebut. Akhirnya Meri beserta teman-temannya memutuskan untuk mencari lokal yang kosong. Namun harapan mereka tidak bersambut, lokal kosong yang diharapkan tidak didapatkan. Menghadapi permasalahan tersebut akhirnya Meri beserta rombongan belajar di laboratorium. Meri adalah mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) TM 2012. Menurut Meri, problema perebutan lokal kuliah sudah sering terjadi di kampus Unit Pembantu Pusat (UPP) III Bandar Buat. Hal ini disebabkan jumlah mahasiswa yang bertambah banyak tidak diiringi dengan penambahan jumlah lokal kuliah. Sehingga menyebabkan ruang laboratorium menjadi alternatif tempat pelaksanaan proses perkuliahan. "Seharusnya bukan laboratorium tempatnya," ujar Meri, Jumat (4/4).
Senada dengan Meri, Nara Putri mahasiswa PGSD TM 2011 cabang UPP III Bandar Buat lainnya juga pernah mengalami hal yang serupa. Nara dan teman satu kelasnya juga pernah memanfaatkan laboratorium untuk kuliah. Biasanya, salah seorang perwakilan dari kelas Nara akan mencari lokal kosong terlebih dahulu untuk kuliah. Jika tidak ada maka perwakilan itu akan pergi ke laboratorium untuk melihat suasana dan kondisi laboratorium. Jika laboratorium kosong maka perwakilan kelas akan menelpon dosen yang bersangkutan. Lalu Nara dan teman-tamannya terpaksa belajar di ruang laboratorium. "Manfaatkan apa yang ada," ujar Nara sambil tersenyum, Jumat (4/4).
Tidak hanya ruang kuliah saja yang diperebutkan, infocus pun menjadi sasaran. Menurut sepengetahuan Nara, jumlah infocus yang ada di kampus PGSD cabang UPP III Bandar Buat sudah lebih dari cukup alias banyak, namun hanya satu buah yang berfungsi. Sehingga antara lokal yang satu dengan lokal lainnya harus berebut infocus. "Jumlah banyak tapi tidak berfungsi dan tidak diperbaiki," ujarnya lagi.
Perihal infocus, Darmawan salah seorang pegawai tata usaha PGSD cabang UPP III Bandar Buat membenarkan hal tersebut. Berdasarkan pantauan Darmawan dari 8 jumlah infocus yang tersedia, memang hanya satu buah infocus yang bisa digunakan. Selain infocus, Darmawan juga mengatakan bahwa ketidaklengkapan alat tulis kantor (ATK) juga menjadi kendala, contohnya saja tinta spidol. "Terkadang ada dosen yang mengajar tidak menggunakan spidol," ungkapnya, Jumat (4/4).
Selain terkendala fasilitas vital dalam proses perkuliahan, fasilitas pendukung yang dibutuhkan mahasiswa namun tidak terpenuhi adalah ketersediaan jaringan Wi-Fi, hal ini diungkapkan oleh Novi mahasiswa PGSD cabang UPP III Bandar Buat TM 2012. Menurut Novi, ketersediaan Wi-Fi di kampus ini masih kurang membantu dan butuh perbaikan kedepannya. Pasalnya Wi-Fi yang ada di kampus PGSD ini sangat lambat dan tidak tersebar secara merata di wilayah kampus. Akhirnya, banyak mahasiswa harus pergi ke warung internet (warnet) serta memanfaatkan modem yang ada untuk mencari tugas kuliah. "Padahal kami sangat butuh Wi-Fi untuk perkembangan informasi," jelasnya, Jumat (4/4).
Bicara mengenai perkembangan informasi, Novi juga mengeluhkan keterlambatan informasi yang datang ke kampus PGSD cabang UPP III Bandar Buat. Ia mengatakan bahwa mahasiswa di sini sangat butuh informasi yang cepat dan sama dengan mahasiswa yang berada kampus pusat, salah satunya informasi mengenai beasiswa. Namun, fakta yang terjadi mahasiswa kampus cabang selalu ketinggalan informasi. "Kalau pendaftaran beasiswa hampir tutup, informasi tersebut baru sampai ke sini," keluhnya.
Lebih lanjut, Novi mengatakan hendaknya pembangunan di kampus cabang ini tidak sekedar memperbaiki bagian luar saja seperti pebaikan gerbang masuk kampus. Tetapi juga memperbaiki kelengkapan sarana penting dalam perkuliahan serta pelayanan informasi bagi mahasiswa. "Tidak hanya perbaikan eksternal kampus, tetapi juga internal kampus," harap Novi.
Persoalan informasi beasiswa yang kurang update di Kampus PGSD Cabang UPP III Bandar Buat juga dirasakan oleh mahasiswa yang menimba ilmu di Kampus V UNP Bukittinggi, hal ini diutarakan oleh Intan Azura Mahasiswa Psikologi TM 2010. Sedangkan untuk kendala lain, Intan memaparkan perihal fasilitas kampus yang telah rusak seperti bangku-bangku perkuliahan yang tidak layak pakai, toilet yang kurang memadai serta ketersediaan air yang sering menjadi masalah. "Saya berharap semua ini mulai diperbaiki," ujar Intan.
Harapan yang terucap dari Mahasiswa Kampus V UNP Bukittinggi Prodi Psikologi ini juga menjadi keinginan yang kuat dari para mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di Kampus II UNP Lubuk Buaya. Para mahasiswa sangat menginginkan kelengkapan dan ketepatan informasi di kampus cabang. Hal ini diungkapkan oleh salah satu Mahasiswa Pendidikan Olahraga TM 2011, Robert Irwanda. Ia mengatakan bahwa sulit sekali menemukan informasi di kampus cabang ini. salah satu faktor yang diungkapkan Robert adalah ketiadaan organisasi mahasiswa PO yang berkiprah di kampus cabang Lubuk Buaya, sehingga menyebabkan mahasiswa kehilangan arah untuk tempat bertanya perihal informasi penting yang diinginkan. "Susah rasanya dapat informasi yang tepat," ungkapnya.
Selain itu, ia juga menambahkan bahwa Kampus Pendidikan Olahraga Cabang Lubuk Buaya belum mempuyai Wi-Fi. Padahal fasilitas ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa terlebih pada perkembangan zaman sekarang." Jika keadaan seperti ini, kami ingin kuliah di kampus pusat saja," ujarnya lagi.
Senada dengan Robert, Muhammad Reza, Mahasiswa Pendidikan Olahraga TM 2011 juga mengeluhkan hal yang sama. Selama Reza kuliah di kampus PO Lubuk Buaya, ia tidak pernah menikmati fasilitas Wi-Fi seperti yang didapatkan oleh mahasiswa kampus pusat (Air Tawar). "Bagaimana menikmatinya, fasilitasnya saja belum ada," ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengatakan bahwa perpustakaan yang diharapkan menjadi alternatif bagi mahasiswa untuk mendapatkan sumber ilmu (buku) malahan jarang sekali dibuka. "Perpustakaan di kampus cabang ini belum menjalankan peranannya sebagaimana mestinya," ujarnya. Lebih lanjut Reza berharap semoga peningkatan sarana dan prasarana di kampus PO Lubuk Buaya dapat segera diwujudkan.
Peningkatan sarana dan prasarana dalam proses perkuliahan juga menjadi bagian harapan mahasiswa pendidikan luar biasa (PLB) yang berlokasi di Limau Manis. Kekurangan tersebut sangat dirasakan oleh mahasiswa yang membutuhkan peralatan khusus dalam belajar atau mahasiswa Disabilitas. Seperti belum tersedianya meja belajar bagi mahasiswa tunanetra, jalan khusus untuk mahasiswa turnanetra dan turnadaksa serta belum tersedianya buku-buku pelajaran untuk mendukung perkuliahan mahasiswa berkebutuhan khusus tersebut. Ririn Sianipar, salah satunya Mahasiswa PLB TM 2012 ini sering meminta tolong kepada temannya untuk membacakan materi perkuliahan dari buku-buku yang digunakan mahasiswa normal saja, setelah itu Ririn yang menuliskannya. "Karena saya kesulitan menggunakan buku yang ada," ujarnya, Senin (24/3).
Tidak berbeda jauh dengan yang dialami Ririn, Hendra Wijaya Mahasiswa PLB yang mengalami gangguan pada penglihatannya ini mengaku sangat membutuhkan fasilitas yang mendukung kegiatan perkuliahannya. Dalam hal ini ia berharap tersedianya fasilitas talking book untuk mengatasi permasalahan yang dialaminya. "Alangkah lebih baiknya ada fasilitas seperti itu," harapnya Hendra. Laporan Kru SKK Ganto
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!