Kolom

Nama Sarjana

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Kamis, 25 November 2010 15:54 WIB • 👁 1.373 Pembaca

Nama adalah doa. Setiap orang tua memberikan nama yang baik kepada anak-anaknya dengan harapan baik ketika anak tumbuh dewasa. Nama yang terlalu berat juga tak dianjurkan. Nama-nama berat akan menjadi beban bagi anak-anak. Konon anak-anak yang namanya tidak cocok atau terlalu membebani akan sakit-sakitan dan harus diganti namanya.

Nama berbeda dengan gelar. Gelar diberikan karena kualifikasi tertentu. Misalnya di universitas ini, gelar sarjana hanya diberikan kepada mereka yang telah mengikuti perkuliahan hingga minimal 145 sks dan telah mempertahankan skripsi sebagai tugas akhir di hadapan penguji yang telah ditentukan. Dengan mempertahankan skripsi yang telah ditulis dengan sistematis, jujur dan membawa kebaruan, maka barulah gelar sarjana berhak diberikan. Kualifikasi telah dipenuhi.

Laporan yang diturunkan Kompas (1/10) cukup menjadi teguran bagi dunia akademik. Awalnya penulis menganggap, bahwa kecurangan terkait tugas akhir, skrispi, tesis dan disertasi, hanya ada di universitas-universitas di daerah dengan sekelumit kisah sedih universitas tidak terkemuka. Buku sumber, pembimbing, waktu bimbingan, kelas metode penelitian hingga kemauan menulis sendiri menjadi poin-poin penyebab calon-calon sarjana, dan ternyata juga calom master dan professor, memilih jalan pintas.

Ada yang namanya bimbingan skrispsi tapi tidak dengan pembimbing yang diberikan oleh jurusan. Mereka, dalam laporan itu ditulis, membimbing mahasiswa mengolah data, menemukan buku sumber, sementara penelitian dan penarikan kesimpulan tetap dilakukan mahasiswa bersangkutan. Ada lagi yang blak-blakan mengiklankan diri. Cukup berikan judul yang disetujui jurusan dan pembimbing maka skripsi, tesis dan disertasi bias dibawa pulang dengan biaya mulai 60 jutaan.

Dikampus kita sendiri, hal serupa bukan tak pernah terjadi. Beberapa kali surat kabar kampus ini menurunkan berita dan laporan terkait ketidak jujuran pembuatan tugas akhir. Namun belum seberani diatas. Jasa pembuatan skrispsi untuk sarjana strata satu diketahui dari mulut ke mulut. Biayanya pun tidak sebesar itu. Namun bukan berarti itu bisa dibiar dan benarkan. Jika tak ingin usaha seperti ini berkembang menjadi sebesar di universitas terkemuka.

Entah keputusasaan, entah mental yang memang tidak terlatih untuk menghargai proses menulis sebagai suatu ciri yang tidak bisa dilepaskan dari sosok bernama intelektual. Menulis skripsi berarti menulis penelitian. Maka lucu terdengar jika biasanya pemerintah melalui Dikti yang membiayai akademisi untuk melakukan penelitian, kini justru calon intelektual yang membayar untuk melakukan penelitian. Ini penyakit. Seperti Myasthenia Gravis yang melemahkan otot rangka. Jika otot rangka lemah, lemahlah semua persendian pendidikan.

Penelitian hakikatnya mempertajam disiplin suatu ilmu. Dengan meneliti berarti calon sarjana telah berhasil memberikan kontribusi untuk disiplin ilmu yang dipilihnya. Kedudukan ilmu tersebut semakin kuat disandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Karena itu ia berhak diberikan gelar sarjana sebagai wujud terimakasih ilmu terhadap kemauannya memikirkan fenomena dalam suatu ilmu. Mau bersusah payah meneliti dan mencarikan solusi hingga akhirnya menuliskannya agar bisa dibaca dan menjadi refleksi dan pijakan bagi peneliti lain. Betapa mulia pekerjaan meneliti. Betapa berharganya kata sarjana, jika diberikan sesuai kualifikasi. Jika disandingkan dengan kata gelar, bukan nama, bukan pemberian.

Dua ribu empat ratus lebih mahasiswa UNP telah di beri gelar sarjana Sabtu 2 Oktober lalu. Semoga tidak ada dari mereka yang menyandang nama sarjana. Semuanya mendapatkan gelar sesuai dengan kualifikasi yang diberikan. Karena jika ternyata ada yang hanya menyandang nama, alias hanya diberikan tanpa kualifikasi telah dijalani, jangan-jangan nama yang diberikan terlalu berat sehingga nanti banyak sarjana yang sakit-sakitan dan terpaksa berganti nama.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Meidella Syahni
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.