Umum

Dilema Perpustakaan Digital

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 27 November 2010 04:36 WIB • 👁 2.022 Pembaca

Sebagai salah satu universitas terkemuka di Sumatera yang mengadakan Program Studi Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan (IIPK), Universitas Negeri Padang (UNP) harus terus membenahi diri untuk mengembangkan perpustakaan berbasis teknologi informasi. Selain itu, peningkatan layanan perpustakaan UNP menjadi perpustakaan digital akan memperbaiki citra perpustakaan UNP yang terakreditasi C. Banyak keluhan dari pengunjung dan pemakai koleksi perpustakaan juga merupakan faktor pendorong diadakannya perpustakaan digital.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pengembangan perpustakaan digital, di antaranya adalah manajemen perpustakaan yang baik, program kerja yang diperbaharui dan berkelanjutan, sistem manajemen mutu perawatan dan pemeliharaan, sumber daya manusia yang efektif dan efisien, sarana prasarana. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga berpengaruh pada perkembangan kualitas dan layanan perpustakaan UNP. Jika perpustakaan UNP tidak berbenah, maka perpustakaan sebagai urat nadi ilmu pengetahuan akan jauh ditinggalkan. Untuk itu, perlu pengkajian ulang mengenai kesiapan perpustakaan UNP menuju perpustakaan digital terkait kemampuannya mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi.

Dilema yang dihadapi perpustakaan UNP jika dikembangkan menjadi perpustakaan digital adalah ketidaksiapan Sumber Daya Manusia (SDM), pustakawan, dan mahasiswanya dalam menghadapi perpustakaan digital. Minimnya penguasaan teknologi informasi pustakawan menyebabkan pengembangan perpustakaan ke arah perpustakaan digital berjalan tidak sinergis. Hal ini dipicu beberapa hal di antaranya pustakawan senior yang kurang memiliki dasar ilmu informasi dan perpustakaan yang memadai. Di sisi lain, pustakawan muda yang memiliki cukup ilmu enggan bekerja sama dengan pustakawan senior dalam mengolah inovasi demi memberikan sentuhan baru baik pada manajemen sistem perpustakaan maupun untuk pengunjung perpustakaan.

Ketidaksiapan makin terasa karena kurangnya sosialisasi menyeluruh kepada civitas akademika UNP mengenai informasi dan penggunaan layanan perpustakaan digital. Hal ini menyebabkan perpustakaan digital seolah hanya sebatas kepentingan institusi perpustakaan, bukan kepentingan akan manfaat yang harusnya dirasakan oleh seluruh civitas akademika UNP terutama mahasiswa. Buktinya, masih ada mahasiswa yang belum melakukan aktivasi online layanan keanggotaan pada perpustakaan UNP.

Dalam target pihak rektorat, dalam jangka waktu tiga tahun mendatang perpustakaan UNP telah menjadi perpustakaan ideal. Namun sayang, dana yang dikucurkan sekitar 2,5 milyar untuk proyek pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) menuju perpustakaan digital belum seperti yang ditargetkan ISO 9000:2001. Tambahan lagi biaya operasional dan kesejahteraan pustakawan beserta gaji lembur mencapai 500 juta pertahunnya. Target yang dicapai terlalu dipaksakan sementara koleksi-koleksi yang sudah tua dan rusak perlu diadakan pembenahan dan diganti dengan yang baru belum semuanya tersentuh kembali. Selain itu fasilitas penunjang layanan perpustakaan masih belum terpenuhi dengan maksimal. Keluhan seputar mesin pendingin, komputer online, lift untuk menghemat tenaga dan waktu pengunjung, koleksi perpustakaan, serta pelayanan dari petugas perpustakaan yang kurang bersahabat masih kerap terdengar.

Di balik semua itu ada satu permasalahan besar terutama bagi mahasiswa UNP prodi IIPK. Tak ditemukan kesempatan dan pengakuan bagi mereka untuk mengembangkan diri dan mengasah kemampuan dalam konteks perpustakaan berbasis teknologi informasi di kampus sendiri. Sementara tujuan sebenarnya IIPK jelas untuk melahirkan tenaga ahli madya yang memiliki dasar ilmu perpustakaan dan kearsipan. Hal inilah yang tidak begitu diberdayakan oleh UNP dalam mengembangkan perpustakaan digital.

Misi perpustakaan UNP menuju perpustakaan digital seharusnya menjadi momentum bagi mahasiswa IIPK dalam mengembangkan diri lebih baik lagi dalam penguasaan teknologi informasi. Namun, nasib mahasiswa yang dipekerjakan secara kontrak di perpustakaan UNP hanyalah sebagai tenaga cadangan oleh pustakawan senior. Tak ada kejelasan status mahasiswa kontrak tersebut setelah proyek teknologi dan informasi selesai. Peluang kerja untuk lulusan IIPK pun justru dimanfaatkan oleh instansi pemerintah dan swasta. Padahal idealnya mereka memiliki hak mengambil peran dalam memanfaatkan perpustakaan sebagai lahan praktek kepustakaan dan kearsipan mengingat mereka adalah urat nadi penerus ilmu pengetahuan administrasi perpustakaan dan kearsipan.

Kini, sudah saatnya mahasiswa dilibatkan dalam proyek dan program kerja universitas jika ingin menghasilkan lulusan profesional yang mempunyai daya saing dan siap kerja. Selama ini mahasiswa hanya ditempatkan sebagai penonton setiap kebijakan yang berhubungan dengan proyek universitas atau program kerja eksternal universitas. Sekarang saatnya mahasiswa prodi IIPK mendapatkan kesempatan, dalam konteks ini pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi, baik program kerja yang bersifat internal maupu eksternal kampus. Hal ini juga menghemat biaya dan waktu pengerjaan proyek UNP sendiri dan kedua belah pihak menjadi saling diuntungkan. Jika dibutuhkan, perlu disusun kesepakatan antara perpustakaan dengan HMJ Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah tentang koridor-koridor kerja yang harus dilalui oleh mahasiswa sendiri. Mahasiswa diajak berpikir dan bekerjasama pada dunia masyarakat sebenarnya, yaitu dunia kerja perpustakaan digital pada era globalisasi. Pada dasarnya mahasiswa dididik untuk belajar dan bekerja mencari pengalaman kerja, bukan keuntungan yang bersifat gaji yang menjadi perhitungan, meskipun keselamatan kerja dan kesejahteraan mahasiswa juga patut diperhitungkan. Mahasiswa yang diperkerjakan bisa untuk mahasiswa yang sedang praktek kerja lapangan (PKL) ataupun yang sedang dalam masa perkuliaha. Sehingga ketika mahasiswa IIPK lulus mereka tidak pusing mencari lapangan pekerjaan, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan berbekal pengalaman kerja. Mereka tidak harus mencari lapangan pekerjaan, tapi bsia menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

*Mahasiswa Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan UNP TM 2007

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rocki Fitra Yeldi
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.