Kolom

Takut

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 9 Desember 2014 09:19 WIB • 👁 1.872 Pembaca

"Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun." – Bung Karno

Manusia terlahir dengan berbagai rasa yang dimaktubkan Tuhan pada hatinya. Semacam hal yang telah dipaketkan Tuhan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya, yang harus dikondisikan dengan situasi jiwa dan logika. Juga sebuah konsistensi sistematik yang diolah pikiran, kemudian masuk lewat pertimbangan jiwa yang luhur sehingga menghasilkan sebuah tindakan yang sesuai jalur kebenaran. Begitulah seharusnya cara seorang manusia dalam mengolah perasaannya.

Setiap insan di bumi ini sudah digariskan memiliki rasa takut. Rasa takut yang memang difitrahkan dan telah menjadi keputusan absolut. Seperti seperangkat alat yang dipasang ke dalam sistem komputer dengan central processing unit atau CPU menjadi otak kontrol dari semua cabang program software yang ada. Semua software tersebut akan bekerja sesuai kendali bila CPU bekerja dengan benar. Namun, bila CPU tersebut rusak, maka seluruh program akan ikut terpengaruh dan tertular kerusakan.

Seperti itulah manusia. Otak dan hati adalah CPU yang diciptakan oleh Tuhan untuk mengontrol perasaan sedih, bahagia, benci, suka, berani, dan takut sebagai software-nya. Semua rasa yang diciptakan tersebut memiliki esensi tersendiri yang berarti bagi diri. Rasa takut akan bertransformasi menjadi sesuatu yang positif bila dikondisikan dengan kadar yang pas. Sebaliknya, rasa bahagia akan berubah menjadi kesedihan bila kadarnya yang tak terkendali.

Banyak hal yang dipertanyakan saat memilih dan menimbang. Rasa ragu-ragu, cemas, dan tidak percaya diri yang terlahir adalah sel-sel rasa takut. Sebuah contoh, mahasiswa pada dasarnya memiliki rasa takut yang sama bila tidak mampu bekerja setelah tamat kuliah. Ini memang suatu pemikiran yang naif dan kerdil, namun semua mahasiswa pernah berpikir demikian. Pangkal persoalan yang sebenarnya adalah ketakutan yang berlebihan.

Sesungguhnya persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ketakutan itu harus disingkirkan, yaitu dengan mengendalikan software ketakutan yang ada di dalam diri. Salah satunya dengan berpikir positif. Berorganisasi, berdiskusi, dan berbagai kegiatan bertukar pikiran yang lain, serta menambah ilmu dengan memperbanyak membaca juga dinilai mampu mengurangi rasa takut dalam diri. Dengan begitu rasa takut yang menghantui diri dapat terkendali dan mampu mengurangi sel-sel yang dapat menyerang sistem CPU manusia.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Putri Rahmi
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.