Laporan Utama

Gencar Sosialisasi dan Simulasi

📅 Senin, 20 Desember 2010 07:19 WIB • 👁 1.330 Pembaca

Berbagai sosialisasi dan simulasi dalam merespon prediksi akan gempa dan tsunami dilakukan. Namun, pelaksanaan dan keikutsertaan mahasiswa menjadi poin yang harus diperhatikan

Merespon atas prediksi akan terjadinya gempa dan tsunami di Kota Padang, pihak UNP tak tinggal diam. Sosialisasi gempa dan tsunami pun kian dilaksanakan. Salah satunya pada kegiatan "Sosilasisasi Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami" yang diadakan di RSG FT, Kamis (9/12).

Begitu juga halnya sosialisasi gempa yang dilaksanakan di tingkat fakultas. Seperti halnya sosialisasi di lantai 4 Gedung FIP, Kamis (2/12). Namun sangat disayangkan, keikutsertaan mahasiswa menjadi masalah tersendiri. Itu terlihat hanya puluhan mahasiswa yang mengikutinya. Proses perkuliahan menjadi kendala bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan sosialisasi gempa saat itu.

Kalangan fakultas yang hadirpun tak sampai lima orang. Hanya PD II FIP, Drs. Taufik M.Pd. Kons, selaku pemateri, PD III FIP, Kasubag Kemahasiswaaan FIP, dan Pegawai Tata Usaha FIP. Memang tak ada target pasti jumlah mahasiswa yang harus mengikuti kegiatan sosialisasi itu. Mahasiswapun tidak terlalu diwajibkan untuk hadir. Dra. Setiawati, M.Si ketika membuka kegiatan itu memaklumi ketidakhadiran mahasiswa yang pada siang itu harus kuliah. "Mungkin teman-teman yang lainnya sedang kuliah," Katanya dihadapan peserta yang hadir, Kamis (2/12).

Mahasiswa menganggap perlu adanya sosialisasi dan pelatihan mitigasi bencana, hanya saja pelaksanaannya dilaksanakan pada jam perkuliahan. Hal ini diakui oleh Ayu Gusni Wilda, mahasiswa Bimbingan Konseling TM 2008. Ia mengatakan besar sekli keinginannya untuk mengikuti setiap acara sosialisasi tentang bencana. Menurutnya, sosialisasi gempa dan tsunami itu dirasakan penting dan bermanfaat bagi mahasiswa, apalagi kota Padang yang terletak di daerah rawan bencana. Tapi sangat disayangkan, setiap sosialisasi tak pernah ia ikuti lantaran bertepatan dengan jadwal kuliah. "Mestinya acara itu dilaksanakan pada hari libur atau tidak ada perkuliahan," harapnya.

Dari beberapa acara sosialisasi bencana yang diadakan, kurangnya perhatian mahasiswa juga menjadi masalah tersendiri. Banyak mahasiaswa yang sibuk melakukan aktifitas lain ketika sosialisasi berlangsung. Seperti yang dilakukan oleh Silvia Ningsih, mahasiswa PAUD 2008. Ia terlihat sibuk dengan menelepon. Ketika ditanya, ia mengaku materi yang disampaikan biasa-biasa saja dan sudah diketahui oleh mahasiswa. "Dan akan lebih baik jika ditambah dengan simulasi," katanya Kamis (2/12).

Menanggapi hal ini, Pembantu Dekan III FIP, Dra. Setiawati, M. Pd menjelaskan ketika simulasi gempa dan tsunami dilakukan, perkuliahan memang tidak diliburkan karena tak adanya anjuran dari pihak universitas. Selain itu, memang tidak efektif untuk meniadakan perkuliahan karena sekarang adalah masa-masa ujian mid semester. Setiawati juga membenarkan kurangnya minat mahasiswa dalam mengikuti sosialisasi simulasi ini juga menjadi kendala. "Padahal pengumuman dan himbauan tentang acara ini telah disosialisasikan."

Untuk selanjutnya, tambahnya akan diadakan follow up dari simulasi yang telah diadakan dengan mengikutsertakan semua mahasiswa. Ia juga menilai isu gempa dan tsunami memang meresahkan mahasiswa dan berdampak pada perkuliahan.

Beberapa hari sebelum sosialisasi bencana di FIP, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) juga telah mengadakan kegiatan sosialisasi dan simulasi bencana. Sosialisasi yang telah diadakan sejak akhir November 2010 dirasakan penting oleh pihak FMIPA. Seperti yang disampaikan Dekan FMIPA, Drs. Asrul, MM. Ia mengatakan adanya sosialisasi bencana menjadi solusi atas kecemasan dan ketakutan mahasiswa dalam menaggapi isu bencana yang beredar.

Evaluasi dari sosialisasi dan simulasi yang telah dilaksanakan di FMIPA sebanyak dua kali, Drs. Asrul, MM. mengaku masih belum adanya dampak khususnya dalam memperkuat mental mahasiswa ketika terjadi bencana. "Belum sampai 50 % tingkat keberhasilannya," kata Asrul, Rabu (8/12). Hal ini terbukti, ketika gempa 3 desember lalu, banyak mahasiswa yang panik dan lari dari lingkungan FMIPA.

Dalam menanggapi isu bencana, ia mengatakan mahasiswa sebagai insan intelektual dituntut untuk memilih dan memilah mana kabar yang harus dipercaya dan mana yang tidak. Tindakan yang perlu dilakukan adalah melakukan aksi penyelamatan diri yang tak tergesa-gesa, memperhatikan apa yang terjadi pascagempa dan jika ada kabar berpotensi tsunami, segera mencari tempat perlindungan yang lebih tinggi dan aman. "Mahasiswa harus berfikir rasional dalam menganalisis situasi dan jangan mudah panik, tutupnya, Rabu (8/12).

Laporan: /Afdal/Della/Dedi*

Salim,Aai*,Tari*Yudi*,Nova*

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.