Prediksi gempa yang mencuat belakangan ini menjadi penakut bagi mahasiswa. Dibutuhkan peran universitas akan hal ini
Rabu siang, pandangan mahasiswa hanya tertuju pada dosen yang tengah mengajar di depan lokal TB2. Tak ada aktifitas lain dari mahasiswa, kecuali mendengarkan. Hanya penjelasan sang dosen tentang materi Pendidikan Kualitatif yang terdengar. Proses perkuliahan yang dilaksanakan mahasiswa Teknologi Pendidikan FIP UNP terlihat berjalan khidmat, Rabu siang (24/11).
Namun, proses perkuliahan yang berlangsung ketika tak dirasakan oleh Nia. Ia terlihat gelisah meski duduk di barisan paling depan. Di bahunya, tali tas berwarna coklat tersampir. Memang, sejak materi siang itu dimulai, tas tersebut tak lepas dari tangannya. Beberapa menit kemudian Nia mengacungkan tangan untuk meminta izin permisi. Dosen mengangguk, tanda memberi izin. Tanpa sadar Nia segera berjalan keluar dengan menyandang tas. Setelah kembali ke kelas, semua mahasiswa tertawa melihat tingkahnya.
Lantaran khawatir dengan prediksi gempa dan isu gempa besar serta tsunami yang akan mengancam Kota Padang, menjadikan Nia bersikap was-was di manapun berada. Ditambah lagi kakaknya, seorang polisi di Kecamatan Padang Utara menyuruh untuk mengungsi. Dari kakaknya, ia mendapat informasi kalau Kepala Polisi Sektor Padang Utara telah memberikan instruksi untuk membentuk satuan khusus evakuasi. Temannya, seorang pemadam kebakaran juga mendapat instruksi demikian. "Ndak mungkin kan kakak saya mengada-ada," katanya yakin, Rabu (24/11).
Perkara prediksi dan isu yang belakangan ini beredar luas memang membuat mahasiswa resah. Bagi yang nge-kos di sekitar jalan gajah, jalan parkit, jalan patenggangan dan daerah tepi pantai lainnya, memilih untuk pindah dan mencari tempat tinggal yang jauh dari pantai. Tak sedikit mahasiswa yang numpang menginap di rumah teman atau saudara pada malam hari dan kembali ke kos pada siang hari. "Kalau terjadi apa-apa kan ada yang membantu, " aku Yuliawati Yunus, mahasiswa Prodi Teknik Informatika TM 2008, Minggu (28/11). Kecemasan itu pula akhirnya berdampak buruk pada aktifitas sehari-hari Yulia. "Kalau mau mengerjakan tugas di kos, saya selalu teringat isu gempa," katanya.
Wajar, jika sekiranya Nia, Yulia dan sebagian mahasiswa UNP lainnya cemas akan isu gempa. Di samping permukaan daratan Kota Padang yang cenderung datar, jarak kampus UNP yang cukup dekat dari tepi pantai pun menjadi alasan utama. Belum lagi, efek trauma terhadap gempa 7,9 SR yang meluluhlantakkan Kota Padang, Kabupaten dan Kota Pariaman pada 30 September tahun lalu.
Akhirnya, kekhawatiran mahasiswa ketika itu berdampak buruk pada proses perkuliahan. Proses perkuliahan menjadi terganggu karena mahasiswa banyak yang libur. "Mahasiswa banyak yang tidak masuk kuliah," kata Zulfikarni, S. Pd. M. Pd, dosen Bahasa Indonesia, Rabu (8/12).
Untuk mensiasati hal itu, Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan FIP, Dra. Elizar Ramli, M. Pd, memberikan informasi untuk tidak mempercayai isu yang beredar. "Sebelum belajar, saya meminta waktu sedikit kepada mahasiswa untuk memberitahu mahasiswa tentang isu gempa," katanya, Kamis (9/12).
Menanggapi ramainya isu yang muncul ketika itu, mahasiswa mulai bertanya-tanya tentang peran universitas untuk mencarikan solusi terhadap kecemasan mahasiswa. Hal ini disebabkan karena belum adanya sosialisasi dan simulasi secara menyeluruh kepada mahasiswa. Menurut Yovi Ersariadi, mahasiswa Sastra Indonesia TM 2010, seluruh mahasiswa perlu disosialisasikan mengenai mitigasi bencana. "Setiap bencana tidak ada yagn tahu kapan akan terjadi, seandainya terjadi mahasisawa tahu ke mana ia akan lari," ujar Yovi Ersariadi, Jumat (26/11).
Menanggapi hal ini, staff Humas Ketua Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) Sumatera Barat, Dian Novelyna, mengatakan mahasiswa tidak perlu terlalu cemas. Mengenai isu akan terjadinya gempa dan tsunami belum bisa dipercaya sepenuhnya. Hingga sekarang tidak ada satu alatpun yang bisa mendeteksi kapan pasti akan terjadinya gempa dan tsunami. "Waspada akan bencana itu yang perlu dilakukan," ujarnya Senin (15/11).
Ia menambahkan, untuk menyiasati kekhawatiran mahasiswa tentang isu bencana, KOGAMI tengah berupaya menciptakan strategi untuk edukasi siaga bencana. KOGAMI akan terjun langsung untuk memberikan penyuluhan ke kampus agar mahasiswa tidak panik lagi ketika ada isu atau bahkan saat bencana terjadi. Pihak KOGAMI juga mengusulkan agar di kampus dibentuk komunitas siaga bencana. "Perlu diadakan penyuluhan siaga bencana," tutupnya. Lantas, bagaimana upaya UNP menyiasati hal ini?
Laporan: Dedi*/Afdal/Della
Winda, Sari, Fitri*, Rozi*, Ninit*
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!