Opini

Napak Tilas Senioritas, Diktator, dan Budaya Schadenfreude

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 14 Juni 2023 20:29 WIB • 👁 993 Pembaca
Napak Tilas Senioritas, Diktator, dan Budaya Schadenfreude
Sumber foto: Arsip Ganto

Kepala botak menjadi ciri khas anak kuliahan yang baru, lengkap dengan baju hitam putih khas orang hendak tes CPNS, selepas itu mereka yang baru saja lulus sekolah menengah ini digiring masuk kesebuah ruangan besar dan dikumpulkan disana selama lebih kurang lima hari (katanya) diperkenalkan kehidupan kampus, dikawal oleh tentara kampus didalam, dan yang tidak botak direcoki rambutnya, kita kira semboyan "Kampus adalah lambang kebebasan" hanya sebuah ilusi semata, dan yang tampak adalah hipokrit.

Beberapa hari diruangan besar, yang banyak disebut orang sebagai Auditorium, diisi dengan kegiatan yang kita kira cukup membosankan, dan paling membuat kita tercengang, pematerinya yang benar-benar tidak menggambarkan kehidupan kampus, apa gunanya seorang tentara mengisi materi disebuah acara pertama untuk pengenalan lingkungan kampus, kalau boleh dikata, kenapa harimau masuk kandang kucing. Pengenalan semacam itu, harusnya diadakan di hari pertama sebuah sekolah militer.

Adapula yang tergopoh-gopoh, berlari karena terlambat, maklum saja hal pertama selalu indah dan berkesan, walaupun dalam perjalanannya, sesuatu yang sudah digapai itu justru tidak semenarik dulu lagi. Beberapa foto kuliahan zaman dulu sangat horor bagi saya, bagaimana mahasiswa diplonco, sepatu yang dikalungkan dileher, rambut botak licin, dengan wajah cemas menunduk ke senior, dan itu tidak berubah, sampai saya masuk kuliah di 2018. Faktanya, seseorang hanya akan matang secara emosional ketika ia sudah sampai di Usia 40 tahun, dan ketika anda berada diposisi kuliah adalah usia belasan tahun, beda cerita jika anda adalah seorang anak kuliahan yang sedang menempuh S3.

2018, pesta besar untuk negara pecahan Uni Soviet, Rusia, dengan semarak pembukaan Piala Dunia digelar, pemimpin Rusia yang rambutnya sudah mulai menipis Vladimir Putin hadir menyaksikan, bergandengan dengan konglomerat dari Riyadh Mohammed Bin Salman, pertandingan perdana, yang menyedihkan untuk Arab Saudi, mereka dibantai 5-0, saat itu musuh bebuyutan Rusia, Amerika Serikat, tidak masuk, Italy, apalagi. Rusia yang luas itu, dahulu dikenal dengan pecahan Uni Soviet, tercerai berai pulalah 14 negara lainnya (Estonia, Azerbaijan, Belarusia, Georgia, Kazahstan, Kirgizstan, Latvia, Lituania, Moldova, Tajikistan, Ukraina, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Armenia).

Jika mendengar Uni Soviet, saya teringat dengan diktator besar di Perang Dunia ll Joseph Stallin, seorang pemimpin besar beraliran komunis yang berhasil memberangus kedigdayaan diktator Jerman Adolf Hittler. Dahulu (saat perang dunia ll), membunuh seorang pemimpin besar macam Hittler adalah prestasi, membunuh manusia tak ada bedanya seperti membunuh ayam untuk dijadikan santapan makan malam, perang dunia kedua adalah percaturan yang merorongrong bak Harimau di hutan, munculnya diktator-diktator antikritik, kejam, membunuh jutaan jiwa, belum ada data pasti jumlah total korban perang dunia kedua, sumber dari Ensiklopedia Britannica mencatat ada 40-50 juta jiwa korban, dan data berbeda dari The National World War II mencatat 60 juta lebih korban berjatuhan, dan kelompok rentan (masyarakat sipil) menjadi korban terbanyak.

Mussolini, Hittler, Stallin, Hirohito, mereka aktor besar dibalik perang dunia kedua. Yang menyedihkan, semuanya diakhir hayatnya, meninggal dengan tragis, Stallin kena stroke tanpa didampingi satu orang pun, karena tak satu jua orang berani memasuki ruangannya, Hittler bunuh diri bersama Eva Braun (sang istri) karena terdesak pasukan Stallin di bunkernya, Mussolini dieksekusi bangsanya sendiri, dan Kaesar Jepang Hirohito kena kanker usus dua belas jari.

Lantas, apalagi yang sama dari para diktator diatas selain kematiannya yang tragis? Yang paling nampak adalah paranoid, sikap delusional yang membuat para diktator curiga akan semua orang, perasaan tidak mau tersaingi, perasaan termusuhi, dan ujung-ujungnya berakhir dengan eksekusi kepada orang-orang yang ia curigai.

Di zaman sekarang yang memasuki 2023 Masehi, sikap para diktator dunia, paranoia acap kali menghinggapi pundak para senior-senior kampus, menghabisi karakter adalah jalan ampuh, bagi senior, plonco masih saja relevan sampai hari kiamat datang, saya masih ingat bagaimana ospek Universitas Khairun di Ternate 2019 silam, junior disuruh meminum ludah melewati selangkangan, sungguh menjijikan, kegiatan semacam ini pernah juga saya baca dalam komik legendaris "Siksa Neraka,". Ingin bukti lebih banyak? Jika anda lihai, datanglah di malam-malam Kemah Bakti Mahasiswa (KBM), datanglah di malam-malam penerimaan anggota baru Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan-himpunan dan lihatlah bagaimana nikmatnya melihat penderitaan orang lain, diakhir, saya ucapkan anda sudah menjadi seorang schadenfreude.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rino Warisman Putra
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.