Kampus merupakan lembaga teknis bukan lembaga politik. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H, selaku pemateri pada Seminar Nasional dengan tema "Mengaktualisasikan Peran Aktif Mahasiswa di Tengah Gejolak 20 Tahun Reformasi" di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Jumat (9/11). Acara ini digelar oleh Unit Kegiatan Wadah Pengkajian dan Pengembangan Sosial Politik bekerjasama dengan UNP.
Dalam penyampaian materinya, Jimly memberikan perbandingan antara kampus di Amerika Utara dan Amerika Latin. Ia mengatakan, peranan politik mahasiswa di Amerika Latin sangat aktif sekali dibandingkan dengan kampus-kampus di Amerika Utara. Kegiatan mahasiswa yang ada di Amerika Latin persis seperti yang ada di Indonesia. "Mahasiswanya sering mengadakan training, pengkaderan, diskusi hingga sosial politik," ungkapnya. Berbeda dengan mahasiswa di Amerika Utara yang hanya melakukan kegiatan hura-hura dan kemping.
Menurut sebuah studi perbandingan, kata Jimly, keadaan Indonesia mirip dengan Amerika Selatan. Dalam pemilihan rektor, bukan hanya senat dan guru besar yang menentukan, tetapi juga mahasiswa melalui pemilihan umum.
Lebih lanjut, Jimly juga menyampaikan, tatkala sistem politik di luar kampus tidak demokratis maka dibutuhkan kampus menjadi model untuk demokrasi. Sebab, dari kampus akan lahir ide-ide perubahan. Namun jika sistem politik di suatu negara sudah sangat demokratis, maka kampus tidak perlu menjadi lembaga politik, cukup melakukan kajian politik. "Supaya mahasiswa mempunyai idealisme, paham dengan kenyataan politik dan tidak hanya di perpustakaan," jelas Jimly.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!