Banyak orang yang beranggapan seorang penyandang disabililitas, segala mimpi dan harapannya akan sirna karena keterbatasan, serta melumpuhkan ruang gerak dalam berkarya. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Dwi Wahyuni Nur Syakinah.
Perempuan yang akrab disapa Dwi ini merupakan pegiat disabilitas netra dan Gangguan Spektrum Autisme (GSA). Ia berhasil mewujudkan mimpinya sebagai penyanyi dengan meluncurkan lagu pertamanya berjudul "Akulah yang Terbaik" di berbagai platform musik digital pada Kamis, 25 Januari 2024.
Dwi merupakan mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) program studi Pendidikan Luar Biasa tahun masuk 2022 yang lahir di Bengkulu Utara dan dibesarkan di Kota Padang. Karier bermusiknya diawali sejak ia berada di kelas 4 SD saat abangnya melatihnya bermain gitar, dan kemudian ia belajar di SMKN 7 Padang jurusan seni musik.
Dalam wawancara bersama Ganto melalui WhatsApp pada Senin, 12 Februari 2024, anak kedua dari dua bersaudara ini mengaku awalnya ia hanya seorang pemain bass pada sebuah band.
"Sebenarnya saya bukan vokalis maupun penyanyi. Saya ini seorang pemain alat musik bass di sebuah band."
Sejak saya sekolah di SMKN 7 Padang, saya banyak belajar tentang musik dan dunia hiburan," jelas Dwi.
Sebagai seseorang dengan autisme, perilaku Dwi seringkali terlihat dalam beberapa kesempatan, termasuk kecenderungan untuk berjalan mondar-mandir, memukul-mukul meja, serta memiliki ketidaknyamanan terhadap tekstur dan bunyi-bunyian tertentu.
Dwi menambahkan, "Namun, perlu di garis bawahi, jika tiada permasalahan yang membuat saya mengamuk, saya tidak akan mengamuk," ujarnya.
Dwi juga menjelaskan "keterbatasannya" berasal dari musibah musibah yang menimpanya saat duduk di bangku kelas 3 SMP.
"Mata kiri saya tertusuk papan plang nama yang terbuat dari kayu. Memang mata sebelah kiri yang kena. Namun, entah mengapa yang sebelah kanan juga ikutan meredup cahayanya," pungkas Dwi."
Meskipun menghadapi tantangan sebagai seorang difabel, Dwi pernah mengalami perundungan, tetapi dia menemukan kekuatan dan ketangguhan melalui dukungan dari sang abang.
Kegemarannya dalam bidang suara membawanya untuk menulis banyak lagu.
"Saya berkreasi dengan mencocokkan nada-nada hingga saya bisa membuat lagu," ucapnya.
Walaupun telah menulis banyak lagu sebelumnya, "Akulah yang Terbaik" adalah lagu pertama Dwi yang dirilis secara publik. Lagu ini memiliki makna tentang pentingnya bersyukur dan menghargai setiap individu, serta menolak untuk meremehkan orang yang terlihat lemah atau tidak berdaya, karena setiap makhluk Allah memiliki potensi yang baik.
"Makna lainnya, para difabel itu membutuhkan doa dan dukungan, bukan rasa iba dan kasihan. Terakhir, jangan menyerah dengan keadaan."
Meskipun prestasinya belum mendapat apresiasi langsung dari UNP, tempat dia menuntut ilmu, Dwi berharap agar universitas tersebut mau memberikan dukungan kepadanya untuk mempublikasikan karyanya lagi.
Terakhir, Dwi berharap bahwa dengan merilis lagu ini, ia bisa mendapatkan banyak dukungan untuk pendidikan dan perhatian dari kampus terhadap bakatnya, sehingga ia bisa mewujudkan cita-citanya.
"Dulunya sebelum menjadi buta, saya bercita-cita menjadi seorang hacker. Namun, sekarang saya bercita-cita menjadi seorang musisi terkenal dan bisa membantu sesama manusia yang membutuhkan," tutupnya.
Karya Dwi WNS lainnya bisa didengarkan di platform Youtube, Spotify, atau Instagram pribadi Dwi @difference_person.
---
Terima kasih kepada Muhammad Fadhli yang sudah memberikan informasi awal terkait sosok tulisan ini sehingga tulisan ini bisa dikembangkan lebih jauh oleh redaktur.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!