Terik matahari jam dua siang yang membakar kulit merupakan waktu yang paling dihindari oleh banyak orang.
Di dekat trotoar di depan stasiun kereta, berdiri seorang laki-laki kurus dengan tubuh yang kaku, tetapi beberapa saat kemudian tubuhnya bergetar karena melawan panasnya matahari.
Laki-laki itu adalah Patra, laki-laki tua buta yang kesehariannya duduk di trotoar dan menunggu manusia baik hati dan dermawan untuk melemparkan uang ke dalam kaleng yang dibawannya.
Patra berdiri dengan gemetar, tongkat kayunya mengeluarkan bunyi ketukan-ketukan berirama setiap kali dia melangkah.
Bajunya kumal dan lusuh, dan baunya seperti orang yang belum menyentuh air selama satu minggu.
Patra bergetar hebat, tongkat kayunya dijadikan sebagai penyangga tubuhnya agar tidak roboh.
Namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara kaleng yang jatuh. Patra roboh.
Suara klakson saling bersahut-sahutan, kendaraan lalu-lalang, dan cahaya matahari yang semakin membakar kulit.
Di tengah itu semua, tak ada yang memperhatikan laki-laki tua menyedihkan yang terbaring di trotoar itu.
Dari kejauhan, di bawah pohon yang rindang, Badri menatap Patra yang roboh. Baju yang membungkus tubuhnya terlihat lebih besar dari ukuran tubuhnya.
Dengan celana kebesaran dan jaket abu-abu yang lusuh, Badri berdiri seperti orang-orangan sawah. Badri menghampiri Patra yang jatuh pingsan di seberang sana tempatnya berada.
Sejak Patra pingsan, Badri memperhatikan tidak ada satu pun orang yang membantu laki-laki tua kotor itu, tidak ada yang mengangkat dan memindahkannya ke tempat yang teduh.
Di tengah langkahnya menghampiri Patra, Badri bergumam, "Manusia menyedihkan dan manusia sombong. Perpaduan yang sempurna."
---
Badri duduk di bawah pohon di dekat trotoar, di sampingnya Patra berbaring menyedihkan. Baju yang dipakai Patra mencetak bentuk tubuhnya yang kurus kering. Badri membuka jaketnya dan menutupi tubuh Patra.
Seorang laki-laki muda berusia dua puluh tahunan lewat dan berhenti di depan mereka. Laki-laki itu memasukkan dua lembar uang lima ribu rupiah ke dalam kaleng di depan Badri, dan tanpa mengatakan apa-apa dia melanjutkan langkah.
Badri mengambil dua lembar uang lima ribu rupiah itu dan memasukkannya ke saku celananya.
Beberapa detik setelah itu Patra sadar dari pingsannya. Laki-laki tua itu menyentuh pelipisnya dan meringis ketika merasakan sakit di seluruh kepala.
Sejak tadi pagi dia belum memasukkan apa-apa ke dalam perutnya, kecuali air putih. Uang sisa hari sebelumnya dia berikan kepada Badri, bocah sepuluh tahun yang egois yang memaksanya untuk dibelikan ketan dan pisang goreng, dan alhasil, Patra tidak bisa makan apa-apa.
Badri memberikan sebotol air kepada Patra dan diterima oleh laki-laki tua itu setelah meraba-raba dan menariknya dengan kasar.
Patra meminum air dengan tergesa-gesa hingga memperlihatkan tonjolan jakun keriputnya yang naik turun dengan cepat.
"Kang Patra, aku lapar," Badri berkata tanpa menoleh kepada Patra. Matanya terfokus kepada warung makan di seberang jalan.
"Aku tidak punya uang. Kita belum mendapatkan satu sen pun hari ini," Patra berkata lirih.
Badri mengeluarkan uang dari sakunya, "Tenang saja. Aku punya uang." Badri tersenyum lebar.
Patra tahu bahwa uang itu pasti dimasukkan oleh seseorang ke dalam kaleng ketika dia pingsan, dan Badri, bocah egois itu mengambil dan mengklaim bahwa itu miliknya.
Akan tetapi, Patra tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan mengikuti bocah itu dengan mengetuk-ngetukkan tongkat kayunya.
Mereka tiba di warung makan. Badri memesan mie kuah dan es limun, sementara Patra hanya memesan air putih.
"Kenapa gak makan, Kang?", Badri bertanya.
"Kau saja yang makan. Aku yakin uangmu tidak cukup untuk membayar makanan kita berdua."
Tidak lama kemudian pemilik warung datang membawakan pesanan Badri. Badri menyuap sesendok makanannya dan setelah itu berkata, "Tenang saja, Kang Patra. Tidak perlu dibayar."
"Apa maksudmu?"
Badri tidak langsung menjawab. Dia menyuapi makanannya dengan tenang.
Patra, meskipun buta, dia tahu bahwa warung ini sedang banyak pelanggan, dan suara panggil memanggil serta obrolan orang-orang saling sahut bersahutan.
"Kau mau kabur?" Patra bertanya dengan marah.
Badri menjawab dengan santai, "Kabur adalah kata yang liar."
Patra menyeringit. Kemudian ia mengambil segelas air putih. Terus meminumnya sampai habis gelas kelima.
"Sudah kenyang, Kang Patra?"
Patra menjawab dengan jengkel, "Kenyang ndasmu. Kau yang makan kenapa aku yang kenyang? Kenyang tidak, kembung iya. Aku sedang menggali mata air di dalam perutku."
Badri tertawa, "Ya, kenapa Kang Patra ndak mau makan?"
"Sudah kubilang, aku tahu uangmu tidak cukup. Jangan berlagak sok kaya, bocah."
"Kita bisa makan sepiring berdua."
"Kau tidak akan kenyang."
Patra terdiam sesaat. Tangan kanannya meraba-raba udara dan berakhir pada pipi Badri, "Aku tak boleh membiarkanmu kelaparan, bahkan mati. Aku butuh seorang penuntun."
Badri terdiam. Pandangannya menerawang pada wajah tua dan mata buta Patra.
---
Tempat tinggal paling populer bagi pengemis, gelandangan, anak jalanan, tunawisma, atau sejenis lainnya adalah di bawah jembatan. Sebab, tempat itu aman untuk berlindung dari terik matahari dan dinginnya air hujan.
Di bawah jembatan itu, Badri menyusun kardus-kardus untuk dijadikan sebagai alas tidur untuk Patra dan dirinya.
Malam itu hujan membungkus kota. Patra tidur di atas kardus yang telah disusun oleh Badri dan bocah laki-laki itu menutupi tubuhnya dengan kain yang usang.
Setelah makan siang tanpa membayar tadi, Patra memutuskan untuk melanjutkan meminta-minta. Badri mengantarkannya duduk di dekat trotoar sebelumnya. Beruntung pemilik warung tidak menghampiri mereka dan beruntung warung itu sedang ramai sehingga tidak ada yang menyadarinya. Mungkin saja.
Patra duduk dan meraba-raba isi kaleng. Badri menghampiri Patra dan membantunya untuk menghitung uang, "Dua puluh ribu, Kang," Badri menyerahkan uang itu pada Patra.
Patra kembali merebahkan tubuhnya, "Tidurlah, besok kita akan mencari orang-orang yang matanya enak dipandang."
Badri berkata lirih, "Ya, besok kita mencari orang-orang yang matanya enak dipandang."
---
Siang itu matahari masih tidak ingin mengasihani manusia, dia terus memancarkan sinarnya dengan sombong seakan-akan berkata, 'Inilah aku, cahaya dan panas yang kau butuhkan, kalian tidak ada apa-apanya tanpa diriku.'
Patra dan Badri duduk di dekat taman, di bawah pohon untuk menyembunyikan diri dari terik matahari. Taman itu dipenuhi oleh anak-anak dan orang tua mereka.
Badri meninggalkan Patra seorang diri dan ia berjalan ke arah bangku taman, berjarak sepuluh meter dari tempat Patra. Badri memainkan gasing di tangannya sembari memperhatikan Patra.
Gadis berusia tujuh tahun datang menghampiri Patra dan berkata, "Kek, hati-hati sama anjing galak."
Setelah mengatakan itu, anak perempuan itu pergi meninggalkan Patra.
Tidak lama kemudian, dari kejauhan terlihat seseorang yang berpakaian seragam satpam menghampiri Patra.
Satpam itu berkata dengan keras, nyaris berteriak, "HEH! DILARANG MENGEMIS DI SINI!"
Patra terperanjat kaget, jantungnya yang melemah karena usia tua berdetak cepat, tubuhnya bergetar pelan.
Patra meraba-raba tanah di sebelah kananya untuk mengambil tongkat kayunya.
Seakan-akan tidak puas, satpam itu melanjutkan, "Tidak baca tulisan yang tergantung pada pintu masuk?"
Patra seakan-akan tidak mendengarkan si satpam dan terus berjalan. Satpam itu menatap Patra remeh dan pandangan merendah, "Pantas tidak bisa membaca. Ternyata buta."
Beginilah orang-orang yang diberi peran dan kewajiban, mereka merasa dirinya penting dan lebih tinggi dari yang lainnya. Satpam itu merasa bahwa dia merupakan orang berkuasa di taman ini dan diberi tugas yang mulia dan terhormat untuk melindungi taman ini dari orang-orang seperti Patra.
Badri memperhatikan apa yang terjadi dan mengampiri Patra.
Badri berjalan beriringan dengan Patra. Di sebelah mereka, satpam yang penting itu berjalan dengan cepat dan mendahului mereka.
Badri meninggalkan Patra dan menghampiri si satpam, dia berdiri di belakang si satpam yang berjalan dengan cepat. Tanpa si satpam sadari, bocah laki-laki itu meludahkan belakang celana dan pakaiannya, masing-masing sebanyak tiga kali.
Badri kembali menghampiri Patra, mereka keluar dari taman itu dan duduk di dekat trotoar. Lalu lalang kendaraan memenuhi jalan.
Asap kendaraan membubung tinggi di udara. Matahari, seperti biasa, enggan untuk menurunkan panas dari cahayanya sedikit saja.
Kedua laki-laki muda dan tua itu duduk bersebelahan. Badri memperhatikan setiap kendaraan yang lewat. Matanya menangkap seorang gadis muda di dalam mobil yang kacanya terbuka setengah dan sedang memainkan handphone. Tampilan gadis itu necis.
Badri membuka suara, "Apa yang membuat mereka terburu-buru di hari Minggu yang indah ini?"
Patra menjawab, "Mereka orang-orang yang tidak bahagia."
"Kenapa?"
"Setiap hari kepala mereka dipenuhi dengan berbagai macam pikiran. beruntunglah orang seperti kita yang tidak perlu menanggung semua beban."
Badri menggeleng tanda tidak setuju, "Kang Patra salah. Mereka orang-orang yang bahagia. Setiap hari mereka tidak perlu memikirkan akan mendapatkan makanan dari mana. Malahan, mereka hanya dibuat bingung dengan semua pilihan makanan yang bisa mereka dapatkan.
Kang Patra salah. Kitalah orang-orang yang tidak bahagia."
"Bukan kita, tapi kau. Aku bahagia," Patra menjawab dengan menuding.
Badri menjawab dengan sedikit kesal, "Kang Patra tidak bahagia. Tidak ada orang bahagia yang hidupnya susah dan kere macam kita."
"Aku bahagia karena aku menikmati hidupku. Aku menikmati semuanya.
Di tengah perdebatan mereka, cahaya matahari semakin membakar kulit. Dari kejauhan nampak jalanan beraspal yang berasap. Suhu udara menjadi begitu panas karena ulah manusia.
"Cukup filosofi hidupnya. Aku lapar," Badri memegang perutnya
"Kita belum mendapatkan banyak uang."
Badri menoleh ke arah Patra, mengambil kaleng dan menghitung uang di dalamnya, "Lima ribu rupiah, Kang."
"Orang-orang sekarang benar-benar pelit," ucap Patra.
Mendengar itu, Badri tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" Patra bertanya.
"Beberapa detik yang lalu kau begitu bijak dalam menilai hidup tentang porsi kebahagiaan seseorang. Sekarang, harusnya kau mengatakan hal yang sama kenapa orang-orang jarang memberi uang kepada pengemis seperti kita, kenapa penghasilan kita hari ini sangat sedikit. Katakanlah, Kang Patra. Bagaimana menurutmu hal itu secara filosofis?
Patra mendengus dan menjawab dengan nada jengkel, "Aku tidak pandai berfilosofi."
Patra terdiam sesaat, kemudian dia berkata, "Sejatinya kita hanya diperbudak oleh kebahagiaan itu sendiri. Jika kau memberi, kau akan bahagia, jika kau melakukan hal ini, kau akan bahagia. Karena itulah, manusia akan melakukan apa saja untuk meraih kebahagiaan itu sendiri. Mereka yang tidak memberi adalah orang-orang yang tidak bahagia. Mereka memutuskan untuk seperti itu."
Badri mendengarkan ucapan Patra dalam diam, kemudian berucap, "Aku tidak mengerti Kang Patra. Otakku terlalu bodoh untuk mengerti apa yang kau katakan."
Kemudian, keduanya duduk dalam diam. Yang terdengar hanyalah suara deru kendaraan dan klakson yang memekakkan telinga.
Badri berdiri, "Cukup istirahatnya. Kau harus berusaha lebih keras, Kang. Aku lapar. Kau tidak boleh kehilangan penuntun."
Patra menjawab sambil menggerutu, "Sudah berpuluh-puluh anak yang menjadi penuntunku, dan hanya kau yang memperlakukanku seperti ini."
Patra, sebagai seorang laki-laki, yang meskipun hidup dalam kukungan kemiskinan, dia masih memiliki akal, dia tidak bodoh.
Dia tahu bahwa Badri sering mempermaikannya dan bersikap culas, bahkan memanfaatkan dirinya yang sudah tua ini. Meskipun begitu, Patra tidak bisa meninggalkan Badri. Bocah laki-laki itu lebih menyedihkan dari dirinya.
Badri menuntun Patra berjalan. Lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Badri menarik sudut bibirnya, "Ayo, Kang Patra. Ada banyak orang yang matanya enak dipandang."
Badri mengarahkan Patra ke tengah jalan, ke tempat semua kendaraan berhenti. Badri meninggalkan Patra di samping mobil yang jendelanya sedikit terbuka.
Pengemudi mobil melihat ke arah Patra yang buta, berdiri menyedihkan dengan beban tubuh yang ditopang pada tongkat kayu tua. Tatapannya beralih pada kaleng kosong di tangan Patra. Pengemudi mobil memasukkan selembar uang sepuluh ribu. Patra meraba-raba isi kaleng ketika dia mendengar bunyi terjatuh yang halus ke dalam isi kaleng, kemudian dia mengucapkan 'terima kasih.'
Pengemudi mobil tersenyum. Senyum yang tidak bisa dilihat oleh Patra, tetapi bisa dirasakannya.
Patra melanjutkan berjalan dengan bantuan tongkat kayunya. Lampu masih berwarna merah. Kali ini, klakson saling bersahut-sahutan dengan keras. Terdengar suara gerutuan para pengendara yang mengatakan kenapa lampu merah menyala terlalu lama.
Kasihan. Patra bergumam.
Patra masih berjalan. Tongkat kayunya menyentuh ban mobil. Dia berhenti di samping mobil yang kacanya tertutup penuh. Patra masih berdiri di samping mobil itu seperti pohon pisang kering.
Pemilik mobil melihat Patra sekilas, kemudian mengalihkan pandangan pada jalan di depan. Patra melanjutkan jalannya.
Baru beberapa langkah, lampu berubah menjadi hijau. Kendaraan saling menyelip. Beberapa pengendara motor menabrak pinggang Patra, dan sebagian mengumpat kepada pengemis tua yang berdiri di tengah jalan itu. Semua kendaraan terlihat buru-buru.
Patra merasa gelisah. Dia panik. Keringat memenuhi pelipisnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, mencari keberadaan Badri dengan mata butanya.
Dari kejauhan tedengar suara, "Kang Patra." Itu suara Badri. Bocah laki-laki itu berjalan mengampiri Patra dan bersusah payah berjalan diantara kendaraan yang berjalan.
Badri memanggil Patra sekali lagi. Patra menoleh kanan kiri untuk menemukan sumber suara. Suara itu berasal dari arah kanannya. Kemudian pengemis tua itu berjalan sambil mengetuk-ngetukkan tongkat kayunya.
Namun, baru tiga langkah, Patra roboh. Klakson kendaraan semakin nyaring, namun kendaraan tetap berjalan, si pengemudi mencari celah untuk lewat di antara tubuh tua yang tergeletak lemah di tengah jalanan beraspal yang panas menggelegak.
Badri mempercepat langkahnya. Sesampainya di depat Patra, bocah laki-laki itu mengangkat tubuh Patra yang ringan dan membawanya ke sisi trotoar.
---
Badri mengipas-ngipas Patra dengan koran. Wajah laki-laki tua itu pucat dan penuh keringat.
"Bangun, Kang Patra. Kita harus makan. Hari ini, sejak pagi kita hanya minum air putih.", Badri berucap pelan.
Badri bergetar. Napasnya memburu. Dia mengambil uang dari dalam kaleng Patra. Badri melangkah dengan cepat ke sebuah warung yang tidak jauh dari tempat mereka berada dan membeli dua buah roti dan dua botol air mineral.
Saat dia kembali, Patra sudah bangun dan duduk menyandarkan tubuhnya pada pohon di belakangnya. Badri memberi air pada Patra dan membantu Patra minum sampai air itu tersisa setengah botol. Patra terbatuk-batuk karena Badri memberikannya dengan tergesa-gesa.
"Bocah gundul." Patra mengatai Badri. Badri hanya tertawa pelan dan kemudian menyerahkan sebungkus rotii kepada Patra.
Di tengah acara makannya, Patra bertanya, "Berapa banyak yang kita dapat?"
"Lima belas ribu." Badri menjawab.
"Benar, itulah bayaran kita hari ini."
"Orang-orang tidak suka memberi, Kang Patra. Kau yang mengatakannya sendiri."
"Ya, tapi kita suka meminta."
Badri membalas dengan lirih, "Ya."
---
Hari beranjak malam. Matahari berganti dengan bulan setengah lingkaran. Di langit yang gelap, bertaburan bintang-bintang dalam berbagai ukuran, dan terdapat satu bintang yang bersinar paling terang, seakan-akan mengisyaratkan bahwa ia paling berkuasa, paling besar, dan paling indah.
Patra dan Badri duduk di area stasiun kereta api. Badri memandang kereta api yang berbunyi di kejauhan di depan. Dari kejauhan terlihat lampu kereta api yang bersinar, disusul bunyi paduan rel kereta dan tram.
Perlahan-lahan kereta mendekat dan lampu bagian depan kereta menjadi lebih terang dan besar. Lampu bersinar lebih terang dan menutupi wajah Badri dan Patra.
Kereta melewati Patra dan Badri. Badri memandangi kereta yang menghilang di kejauhan. Suasana menjadi hening. Patra dan Badri masih belum beranjak dari tempat mereka duduk.
Patra berkata, "Itu adalah kereta terakhir."
Badri menjawab pelan, "Ya."
Patra meraba tangan Badri di sampingnya. Badri hanya diam dan membiarkan laki-laki tua itu melakukan kegiatannya. Bocah laki-laki malang dan kereta. Kedua hal itu membawa kembali ingatan Patra pada waktu empat tahun sebelumnya.
Badri adalah anak laki-laki malang yang dipungutnya di stasiun kereta. Kala itu, Badri memandangi orang yang lalu-lalang. Suara pengumuman, sorak sorai, dan kereta yang berjalan saling tumpang tindih.
Dia menggenggam kaleng. Wajah bocah laki-laki itu keruh, kumal, dan kusam, begitu pula pakaiannya. Baju kaos yang kebesaran dan celana kedodoran yang diikatnya dengan tali membungkus tubuh kurus keringnya.
Badri duduk dan meletakkan kaleng di depannya. Hanya satu dua orang yang mengulurkan tangan dan memasukkan uang ke dalam kaleng rongsokan di hadapannya. Badri menundukkan kepala, tidak ingin bertemu mata dengan siapa saja.
Sebuah suara wanita terdengar, "Dimana-mana selalu ada pengemis. Anak-anak gelandangan, orangtua buta, pengemis. Pantas negara ini tak maju-maju."
Wanita itu lupa, bahwa bukan salah orangtua buta, pengemis, dan bahkan anak gelandanganlah yang membuat negara ini tidak maju-maju.
Jika boleh jujur, ucapan yang keluar dari mulut wanita itulah yang menjadikan negara ini tak pernah maju. Dan jika bukan karena itu, maka ada sebab lain yang menjadikannya seperti itu.
Patra, di tengah kebutaannya, berjalan mendekati Badri. Tongkatnya mengetuk-ngetuk lantai stasiun. Pakaiannya serupa dengan Badri. Langkahnya berhenti tepat di hadapan Badri.
Badri memperhatikan kaki kumal di depannya, kemudian menengadah ke atas. Menatap laki-laki tua itu.
Laki-laki tua itu tersenyum. Kemudian, dia kembali melangkah. Meninggalkan Badri. Badri memandangnya dengan bingung. Kemudian, dia mengikuti langkah lelaki tua itu. Keluar dari stasiun kereta.
"Bagaimana Kang Patra bisa menemukanku?" Suara Badri membuyarkan lamunan Patra.
"Menemukanmu?"
"Ya, menemukanku. Empat tahun lalu," Badri mengulang.
Patra tertawa singkat dan menjawab pelan, "Aku tidak menemukanmu. Aku mencium bau yang sama dengan diriku. Tau-tau aku diikuti bocah laki-laki menyebalkan."
Badri mendengus, "Yah, setidaknya hidungmu masih berfungsi dengan baik. Bagaimana bauku?"
Patra menjawab spontan, "Menyedihkan, tentu saja."
"Mana ada bau yang menyedihkan." Badri menjawab dengan kesal.
Patra terdiam sesaat, kemudian menjelaskan, "Ada. Campuran bau busuk dari tubuhmu, bau asin dari air matamu, dan bau darah dari lukamu. Namun anehnya ada bau manis dari senyummu."
Badri menyangkal, "Aku tidak pernah tersenyum. Jangan mengarang-ngarang cerita."
"Kau belum tersenyum. Cobalah. Rasanya menenangkan."
Badri menggeleng, "Tidak. Tidak menenangkan sama sekali. Kenapa aku harus tersenyum? Apa imbalan yang kudapat?"
Patra diam dan tidak langsung menjawab. Dia memikirkan kata-kata yang tepat, kata-kata yang bisa dimengerti oleh anak sepuluh tahun. Kemudian dia berkata, "Ketenangan dan kebahagiaan."
---
Badri dan Patra merasa lapar. Setelah duduk menyedihkan di trotoar selama beberapa jam sejak pagi, mereka memutuskan untuk sedikit menyenangkan diri sendiri dengan membeli makanan.
Patra dan Badri memasuki warung. Pemilik warung datang dan menanyakan pesanan. Pemilik warung menatap Patra dan Badri bergantian dengan tatapan aneh dan curiga.
Setelah menerima pesanan mereka, pemilik warung kembali ke belakang. Kemudian dia memanggil dua orang laki-laki berbadan kekar. Dia berbisik kepada salah satu laki-laki.
Kemudian dua orang laki-laki itu berjalan ke arah Patra dan Badri. Badri memandangi mereka dengan was-was. Badri bolak-balik menatap pemilik warung dan dua laki-laki besar yang berjalan ke arah mereka. Sebuah keputusan bodoh untuk kembali ke warung itu.
Badri berbisik kepada Patra, "Kang Patra, kita harus lari."
Patra mengerutkan kening. Tanpa menjelaskannya kepada Patra, dengan cepat, dalam sekali tarikan, Badri menarik Patra keluar.
Dua orang laki-laki berbadan besar tadi berlari mengejar mereka. Badri membawa Patra berlari dengan menarik tubuh kurus Patra, seperti menyeretnya. Patra kepayahan dan tersandung batu, kemudian terjatuh.
Badri meninggalkan Patra yang terjatuh dan terus berlari. Dua orang laki-laki tadi menghampiri Patra dan menendang-nendang tubuh kurus laki-laki tua malang itu tanpa ampun. Patra merintih kesakitan.
Sementara itu, Badri bersembunyi di balik warung yang tutup. Dia melihat kejadian di depan matanya dan mendengar Patra merintih. Badri keluar dari persembunyiannya dan mengambil beberapa batu dan melemparnya pada dua orang laki-laki itu. Kedua laki-laki itu menoleh dan mengejar Badri.
Badri terus berlari. Wajahnya pucat dan penuh keringat. Badri tidak memperhatikan belokan di depannya dan menyebabkan dia jatuh. Kedua laki-laki berbadan kekar itu menghampiri Badri.
Mereka menendang dan menampar Badri. Kemudian mereka memberi pukulan pada kedua pipi anak laki-laki malang itu.
Setelah puas dengan hasil kerjanya, kedua laki-laki itu pergi meninggalkan Badri setelah meninggalkan tendangan terakhir pada perut kecil anak laki-laki itu. Setelah kejadian itu, Patra dan Badri tidak melanjutkan kegiatan mereka. Mereka memutuskan untuk pulang dan kembali ke bawah jembatan.
Badri mengelap darah dari wajah dan tangan Patra. Kemudian dia memberikan minuman pada Patra. Badri mengelap wajahnya yang juga penuh darah dan meminum air putih. Patra berbaring beralaskan kardus.
Badri menatap Patra, "Kang Patra, katakan, apa kau masih bahagia? Kau masih bahagia setelah menerima semua luka itu?"
Di luar dugaan, Patra hanya tertawa, dan tawa itu menjengkelkan bagi Badri.
Patra berucap, "Tentu saja. Karena bukan aku sendiri yang terluka."
Badri mendengus, "Seharusnya kita tidak makan di sana."
Patra mengabaikan ucapan Badri dan mengeluarkan selembar uang lima ribu, lalu menyerahkan pada Badri dan menyuruhnya untuk membeli makanan.
Tidak lama kemudian, Badri datang membawa sepiring lontong sayur dengan dua sendok. Badri menyuapi Patra. Mereka makan dengan pelan.
"Terlalu sedikit," Badri menggerutu.
"Bersyukur, bocah."
Badri menjawab, "Ya, aku bersyukur Kang Patra tidak mati. Aku khawatir tubuh tuamu tidak sanggup menahan pukulan. Kalau kau mati bagaimana denganku?"
Patra terdiam sesaat, "Kenapa kau mengikutiku?"
Badri berpikir sejenak dan mengucapkan, "Karena aku menemukan orang yang memiliki bau yang sama denganku"
"Ketahuilah, Badri. Kau adalah orang yang paling merugi karena mengikutiku. Kau sendiri pun tahu itu."
"Tidak. Aku tidak merugi. Aku bisa memperbudakmu untuk mendapatkan uang."
"Jika aku mati, bagaimana kau akan mendapatkan uang?"
"Aku akan mencari orang sepertimu. Pengemis tua menyedihkan yang membutuhkan penuntun."
Setelah mengucapkan itu, Badri tersenyum getir. Patra diam, dia meraba-raba tongkat miliknya yang berada di sampingnya dan memukulkannya dengan pelan ke kepala Badri.
Badri mengusap-ngusap kepalanya yang terkena pukulan. Badri berdiri dan memegang piring kosong.
Sebelum Badri melangkah, Patra berucap pelan dan pasti, "Kau harus sekolah, Badri."
Badri tersenyum mengejek. Sekolah? Jika boleh jujur, sekolah selalu menjadi hal yang paling diinginkannya. Memakai seragam dan sepatu, upacara bendera setiap hari Senin, mendiskusikan pelajaran dengan teman-teman, dan ingin merasakan pusing ketika menghadapi ujian. Namun, kata itu jugalah yang menjadi kelemahannya. Satu keinginan yang tidak pernah didapatkannya.
Sebelum melanjutkan langkahnya, Badri berkata, "Jangan bercanda. Lelucon Kang Patra benar-benar menyedihkan."
"Aku tidak bercanda."
Badri tidak membalas ucapan Patra, sebab dia telah lenyap dari pandangan Patra.
---
Hari berikutnya Patra memaksakan diri untuk bekerja, jika mengemis boleh dibilang bekerja. Patra mengabaikan rasa sakit di kepalanya. Efek pukulan yang didapatkanya kemarin masih terasa dan menyisakan pengaruh buruk pada tubuh tuanya. Patra merasa lemas dan lesu, pandangannya tidak jelas dan sekelebat cahaya putih memasuki pandangannya.
Badan Patra panas dingin. Laki-laki tua itu melenguh sekejap sebelum akhirnya tumbang ke samping. Orang-orang berlalu lalang, sahut-bersahutan, kendaraan berbunyi nyaring dari berbagai penjuru. Tidak ada satupun yang membantu Patra. Semua orang begitu sibuk.
Malamnya Patra berkata pada Badri bahwa besok dia hanya akan beristirahat. Kemudian Badri bertanya apakah mereka punya uang untuk makan besok, dan Patra menjawab tidak.
"Jika tidak ada uang, bagaimana kita akan makan? Kulihat kau tidak terlalu sakit. Bertahanlah kang Patra. Itulah gunanya ada aku di sini. Aku akan menuntunmu." Itulah ucapan bocah laki-laki yang menjadi penuntun laki-laki tua itu.
Patra berucap dengan sungguh-sungguh, "Kau anak yang egois."
Dengan terpaksa, Patra merelakan istirahatnya dan mengabaikan pemulihan tubuhnya.
Besok siangnya Badri menuntun Patra berjalan, "Aku akan membawamu ke tempat orang-orang yang matanya enak dipandang."
Badri membawa Patra ke stasiun kereta api. Mereka berencana untuk memasuki kereta kelas satu. Patra duduk di sebelah Badri dengan lemas dan lesu, bibirnya pucat, pandangannya melemah, dan wajahnya menampilkan lelah yang teramat sangat.
Napas laki-laki tua itu pendek-pendek dan terasa sesak. Setiap dua detik sekali dia memegang dahinya dan memijatnya dengan keras.
Ketika kereta itu datang, Badri berkata, "Ayo, Kang Patra. Kereta kelas satu sudah datang."
Patra bergeming. Dia terdiam dan tidak beranjak dari duduknya.
"Ayo, Kang." Badri mengulang.
Badri menarik tangan Patra dengan paksa. Patra tetap diam. Patra memegang kepalanya dan menutup mata. Pandangannya berkuna-kunang.
Patra menepis tangan Badri, "Tidak. Jangan di kereta kelas satu. Menurut pengalamanku, di sana kita tidak akan dapat apa-apa. Tidak ada orang yang matanya enak dipandang. Kita tunggu kereta kelas tiga saja."
"Halah! Mata buta seperti mata Kang Patra mana bisa tahu."
Patra menjawab pelan, "Aku tahu. Aku merasakannya."
Patra diam. Badri menatap Patra yang pucat. Badri menyerah dengan kekeraskepalaan laki-laki tua itu. Dia akan menuruti laki-laki tua ini, bagaimanapun juga hidupnya bergantung pada laki-laki tua kere itu.
Akhirnya mereka menunggu kedatangan kereta kelas tiga. Patra masih dalam keadaan yang sama. Kering, lesu, loyo. Sekali-kali tangannya menyentuh dahi. Pandangannya berkuna-kunang. Badri menatap Patra dengan cemas. Dari kejauhan terdengar bunyi roda kereta dan rel kereta. Kereta kelas tiga datang dan berhenti.
Badri berkata, "Kang, Patra, kereta kelas tiga sudah datang. Ayo."
Badri menoleh ke arah Patra. Badan laki-laki tua itu terkulai ke samping. Patra roboh. Napasnya berhenti. Wajahnya pucat. Badri menepuk-nepuk pipi Patra dan menggoncang-goncang tubuhnya.
"Kang Patra, kereta kelas tiga sudah datang. Kau benar, ada banyak orang yang matanya enak dipandang."
Hening.
---
Hujan mengguyur kota dan menjadikan malam dua kali lebih dingin dari biasanya.
Badri menatap langit-langit di bawah jembatan. Pandangannya menerawang. Kemudian dia memiringkan badan ke arah kiri. Matanya menangkap tumpukan batu yang disusun secara sengaja. Kening
Badri menyeringit. Kemudian ia mendekati tumpukan batu itu dan membongkarnya. Ada banyak batu yang disusun sembarangan. Di balik batu itu, Badri menemukan bungkusan berbentuk kotak. Ia membuka kain pembungkus dan mendapati kaleng berbentuk kotak. Kaleng milik Patra yang pernah dilihatnya beberapa kali.
Badri membuka kaleng. Matanya melebar menemukan tumpukan uang.
"Bagaimana bisa ini tidak ditemukan oleh siapapun?" Badri bergumam
Badri terdiam sesaat dan berkata, "Kang Patra, sudah kubilang, aku tidak merugi."
Tanpa diinginkannya, air mata jatuh dari kedua bola mata bocah laki-laki itu. Tubuhnya bergetar dengan wajah memerah
Badri meremukkan kertas di genggamannya. Kerta itu tertulis kalimat yang ditulis dengan berantakan dan tidak teratur. Kertas itu bertuliskan 'Untuk Badri'.
"Dasar orangtua egois. Meninggalkanku sendirian."
Tamat.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!