Ketika pulang ke rumah tapi isinya tak lagi utuh, rasanya sakit untuk menjadi penghuni lagi di dalamnya. Tapi mau seburuk apa pun, yang namanya keluarga tetap menjadi tempat pulang yang akan menerima dirimu apa adanya.
Semua orang pada akhirnya akan pergi, tapi kau tidak menyangka akan merasakan itu lebih awal dari keluarga. Sekarang kau sadar, rumah itu keluarga.
Malam ini, kamarmu terasa lebih sempit dari biasanya. Dinding-dindingnya seperti hendak menekan tiap inci napas yang kau usahakan.
Buku-buku di mejamu berserakan, bertumpuk tanpa arah seperti pikiranmu. Setiap kali kau mencoba untuk berkonsentrasi, suara-suara itu kembali.
"Harus bisa lebih baik, Arum," begitu kata Ayah.
"Kamu tahu keluargamu menggantungkan harapan padamu," tambah Ibu.
"Bu, bisa kita ngobrol sejenak?" Kau memegang ujung baju Ibu dengan lembut, mencari perhatian dan sedikit waktu untuk berbagi rasa yang mengganjal di hatimu.
"Tentu, Sayang. Ada apa? Kamu kelihatan pucat," jawab Ibu sambil menoleh ke arahmu. Matanya penuh kekhawatiran saat memperhatikan wajahmu.
"Ibu, akhir-akhir ini aku merasa begitu tertekan. Antara tuntutan di sekolah dan semua harapan yang Ibu dan Ayah letakkan padaku, rasanya aku takut tidak akan mampu memenuhinya," ujarmu dengan nada rendah.
Rasa ragu menyelimuti setiap kata yang keluar dari bibirmu, ragu apakah seharusnya kamu menyuarakan perasaanmu mengingat semua yang telah mereka berikan.
Barangkali, di waktu yang tak pasti, senyummu takkan terlihat lagi. Jari-jemarimu kehilangan fungsi dan segala harapan terhadapmu terbaring lesu tak lagi berarti.
Di ruang yang hampa ini, di sudut yang sunyi ini, banyak harapan serta mimpi mengendap di segala sisi yang tak kunjung mengisi. Sesekali kau berpikir, "Mungkin tidak ada yang akan menangis di pemakamanku."
Ketika waktu bergulir dan Arum terus merasakan beban yang menghimpitnya, suatu hari tubuhnya yang rapuh tidak mampu lagi menahan tekanan yang begitu berat.
Lalu kedua matamu menutup rapat dan tak lagi menyaksikan rupa dari tempat bernama rumah yang semata didirikan sebagai peristirahatan keluarga kecilmu.
Tidak ada penyesalan di dalam tidur panjangmu sebab malam-malammu terlalu sibuk menerka-nerka adakah luka di hatimu sebenarnya.
Keesokan paginya, Ibu menemukan Arum terbaring tak bergerak di atas ranjangnya. Wajahnya pucat, matanya tertutup rapat seolah ia sedang dalam tidur yang damai. Tangis kesedihan menyelimuti rumah kecil itu. Ayah dan Ibu merasa kehilangan yang begitu dalam.
Di hari pemakaman Arum, teman-teman sekolah dan tetangga datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Kini, di tanah peristirahatan terakhirnya, Arum berbaring dengan tenang.
Tidak ada lagi suara-suara yang mengutuknya, tidak ada lagi beban ekspektasi yang menekan. Ia telah kembali ke pelukan bumi, tempat di mana ia akhirnya menemukan kedamaian.
Ayahmu akan pulang kerja menjemput kekosongan dan kehampaan yang mendominasi ruang tamu sebab tawamu tak lagi di sana untuk meramaikan kepulangannya.
Ibumu harus membiasakan diri untuk menyiapkan segala sesuatunya yang mulai sekarang jumlahnya harus dikurangi satu, lalu berakhir mengutuk dirinya sendiri perihal ketidakbecusannya menjadi ibu yang membiarkan anaknya mati.
Adikmu harus belajar untuk berduka sendirian sebab
Ayah dan Ibumu tak ada di sana untuk merengkuh tubuh mungilnya.
Mereka terlalu sibuk menangisimu sehingga lupa bahwa
anak mereka tidak hanya satu.
Besok paginya, Ibumu menyiapkan empat piring di atas meja untuk sarapan. Kemudian Ayahmu berkata, "Seharusnya tiga," yang membuat Ibumu berteriak sembari menatapnya tidak percaya.
"Anakku dua!" Lalu adikmu hanya bisa diam sebab jika ikut bersuara, dia akan dicap durhaka.
Padahal, dia ingin sekali berteriak, "Jika anakmu memang dua, maka ajak aku juga untuk berkabung dan berduka! Bukan hanya kalian yang kehilangan!"
Ayah memimpin doa, "Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar. Selamat makan."
Selamat makan duka. Kunyah dan telan terus sampai terbiasa. Nasi dan lauk pauk yang utuh tak tersentuh di atas piringmu itu sukses merapuhkan tulang-tulang yang menyusun ketiga manusia yang duduk mengitarinya.
Rasanya seperti mereka yang dicabut nyawa sebab kemampuan untuk hidup mereka telah pergi ikut kau mati. Lalu air mata itu bergelinang lagi tak kenal ampun.
Mereka menangis lagi, tak hanya di pemakamanmu. Begitu pula besok paginya lagi dan seterusnya, mereka akan terus menyantap duka tanpa pernah bisa terbiasa.
Maka hiduplah yang panjang sebab banyak yang sayang.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!