Artikel

Kurikulum Berganti, Kualitas Tak Beranjak: Di Mana Letak Salahnya

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 14 November 2025 15:09 WIB • 👁 2.130 Pembaca
Kurikulum Berganti, Kualitas Tak Beranjak: Di Mana Letak Salahnya
Ilustrasi: Institut Sepuluh Nopember

Setiap kali kursi menteri pendidikan berganti yang ikut berubah bukan hanya kebijakannya, melainkan juga nasib guru dan siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum seolah-olah menjadi proyek baru bagi setiap rezim yang seakan perubahan nama dan formatnya mampu menyulap pendidikan menjadi lebih baik. Namun, pertanyaan yang sama terus menggema: mengapa mutu pendidikan kita masih berjalan di tempat?

Perubahan kurikulum di Indonesia sudah menjadi pola yang berulang. Setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan atau munculnya kebijakan baru. Sejak masa kurikulum 1994, kurikulum berbasis kompetensi (KBK), kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), kurikulum 2013 hingga kurikulum merdeka, semuanya hadir dengan cita-cita mulia untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih modern, kreatif dan berorientasi pada peserta didik. Namun, kenyataannya kualitas pendidikan nasional belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Transisi dari kurikulum 2013 ( K-13) ke kurikulum merdeka menjadi contoh nyata, saat K-13 diterapkan, banyak guru merasa kesulitan dalam memahami sistem penilaian yang rumit. ketika kurikulum merdeka hadir, sekolah di perkotaan cenderung lebih mudah beradaptasi dikarenakan fasilitas yang lengkap, sedangkan sekolah di daerah tertinggal justru kewalahan akibat keterbatasan pelatihan, internet dan sarana belajar yang mengakibatkan kesenjangan pendidikan di indonesia semakin melebar.

Hasil penelitian dari balitbang dan perbukuan kemendikbutristek tahun 2023 juga menunjukkan bahwa perubahan kurikulum belum memberikan peningkatan yang signifikan terhadap capaian belajar siswa, pelaksanaan di lapangan belun matang dan masih terkendala dengan suber daya manusianya. Temuan serupa juga disampaikan oleh Rejeki dan Setiawan pada tahun 2022 dalam jurnalnya yang berjudul Teknologi pendidikan. Artikel tersebut menegaskan bahwa kebijakan perubahan kurikulum sering kali tidak diiikuti oleh peningkatan kompetensi guru serta fasilitas pendukung yang memadai sehingga hasil belajar tidak menunjukkan lonjakan yang berarti.

Dalam kehidupan sehari-hari, dampak dari perubahan kebijakan yang kurang matang ini dapat dirasakan secara langsung. Banyak guru di sekolah kecil harus berinovasi dengan cara sederhana agar siswa mereka tetap bisa mengikuti pembelajaran berbasis proyek, meski fasilitasnya yang minim. Sementara itu, siswa yang seharusnya bersemangat belajar justru kehilangan motivasi karena sistem dan metode pembelajaran yang terus berubah. Orang tua pun kerap merasa bingung dengan berbagai istilah baru yang muncul setiap kali kurikulum diperbarui.

Permasalahan utama bukan terletak pada isi kurikulumnya, melainkan pada pelaksanaan yang tidak konsisten dan kurang memperhatikan kesiapan pelaku pendidikan di lapangan. Pergantian kebijakan yang terlalu cepat membuat guru dan siswa seolah menjadi "kelinci percobaan" dalam eksperimen pendidikan yang tiada henti. Padahal, esensi pendidikan bukan terletak pada seberapa cepat perubahan dilakukan, melainkan seberapa siap perubahan itu dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Di sinilah pentingnya menerapkan pendekatan deep learning,baik dalam arti teknologi kecerdasan buatan maupun sebagai metode pembelajaran yang mendalam. Dalam konteks pendidikan, deep learning tidak hanya berarti penggunaan teknologi, tetapi juga cara belajar yang menekankan pemahaman konsep, kemampuan berpikir kritis, dan keterhubungan antara teori dan kehidupan nyata. Misalnya, ketika siswa belajar tentang isu lingkungan, mereka tidak hanya sekadar menulis laporan, tetapi juga diajak untuk mengamati kondisi sungai di sekitar tempat tinggalnya, menganalisis penyebab pencemaran, lalu merancang solusi dan mempresentasikannya dengan dukungan teknologi digital.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, solusi yang dibutuhkan bukanlah kurikulum baru setiap beberapa tahun, melainkan komitmen memperkuat kurikulum yang ada melalui pendekatan yang mendalam, pelatihan guru yang berkelanjutan, dan pemerataan akses pendidikan. Pemerintah juga perlu mendorong pemanfaatan teknologi ini untuk membantu proses belajar mengajar tanpa mengabaikan peran manusia di dalamnya.

Kita tidak memerlukan kurikulum baru setiap kali ada pergantian menteri, melainkan konsistensi, pendampingan dan kemauan memperbaiki kebijakan yang sudah ada. Pendidikan yang berkualitas tidak diukur dari seberapa sering perubahan dilakukan tetapi dari seberapa dalam kita memahami proses belajar dan kebutuhan peserta didik. Di situlah makna sejati deep learning pembelajaran yang tidak hanya menyentuh pengetahuan tetapi juga menumbuhkan pemahaman yang bermakna bagi kehidupan.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rida Umami
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.