Setiap hari, manusia semakin terbiasa memperoleh jawaban dalam hitungan detik melalui kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat pusat data yang membutuhkan listrik, menghasilkan panas, dan memerlukan sistem pendinginan. Hal ini menimbulkan pertanyaan: seberapa besar sumber daya alam yang dibutuhkan untuk mendukung kecanggihan teknologi tersebut?
Konsumsi air AI berkaitan dengan proses pendinginan server yang menghasilkan panas selama komputasi. Sejumlah pusat data menggunakan pendinginan evaporatif, yaitu sistem yang memanfaatkan penguapan air untuk melepaskan panas. Selain itu, jejak air juga muncul secara tidak langsung melalui pembangkitan listrik dan produksi perangkat keras seperti semikonduktor serta mikrochip. Penelitian Li dkk. (2025) dalam Communications of the ACM memperkirakan bahwa pelatihan model GPT-3 memiliki jejak air sekitar 5,4 juta liter, termasuk 700.000 liter penggunaan langsung di pusat data. Penelitian tersebut juga memperkirakan konsumsi sekitar 500 mililiter air untuk 10–50 respons AI berukuran sedang, bergantung pada lokasi dan waktu pengoperasian. Angka ini merupakan estimasi dalam kondisi tertentu, bukan patokan untuk semua layanan AI.
Dampak AI terhadap lingkungan tidak hanya berkaitan dengan air, tetapi juga energi, emisi karbon, dan limbah elektronik. Artikel jurnal Analisis Dampak dan Pemanfaatan AI Terhadap Upaya Pelestarian Lingkungan Berkelanjutan di Era 5.0 (Zakiyah dkk., 2026) menjelaskan bahwa meningkatnya kebutuhan komputasi dapat memperbesar emisi gas rumah kaca dan menghasilkan limbah elektronik akibat perangkat yang usang. Penelitian tersebut juga menyoroti penggunaan AI dalam pembuatan gambar yang memiliki jejak karbon. Besarnya dampak bergantung pada model, perangkat keras, sumber energi, dan intensitas penggunaannya.
Di sisi lain, AI juga memiliki potensi positif bagi lingkungan. Menurut Zakiyah dkk. (2026), AI dapat membantu memprediksi perubahan iklim, memantau kondisi ekosistem, mengelola energi, serta mendukung pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan. Teknologi ini dengan demikian memiliki dua sisi: dapat membantu mengatasi persoalan lingkungan, tetapi sekaligus menambah tekanan terhadap sumber daya alam apabila infrastrukturnya tidak dikelola secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan lingkungan. Kita menikmati kemudahan AI tanpa melihat sumber daya yang dibutuhkan di balik layar. Ketimpangan ini perlu diperhatikan, terutama ketika pusat data beroperasi di wilayah yang mengalami keterbatasan air. Meskipun tidak semua pusat data menyebabkan kelangkaan air, perusahaan teknologi tetap harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan setempat.
Pengguna dapat memanfaatkan AI secara bijak sesuai kebutuhan, meskipun penghematan air dari setiap penggunaan individu tidak dapat dipastikan tanpa pengukuran yang jelas. Pada akhirnya, kecanggihan AI tidak hanya siukur dari kecepatan menghasilkan jawaban, tetapi juga tanggung jawab dalam penggunaannya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (1)
Gagasan artikel ini sangat mendalam dan membuka wawasan baru mengenai isu etika teknologi di kampus.